Gempa Picu Erupsi Hanya Rumor, Tak Perlu Dirisaukan

Editor: Mahadeva WS

210
Dr. Devi Kamil Syahbana – Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Masyarakat diminta tenang dan tidak menanggapi rumor terjadinya gempa yang berulang kali di Indonesia, akan memicu erupsi gunung api. Dari catatan statistik dunia, mengenai interaksi antara gempa tektonik dengan aktivitas vulkanik, angkanya kurang dari 0,4 persen.

“Rentetan gempa Lombok menyebabkan deformasi yang cukup besar. Peralatan seismik juga merekam adanya perubahan cepat rambat gelombang di sekitar wilayah gempa yang mengindikasikan adanya deformasi ini,” tandas Kepala Subbidang Mitigasi Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Badan Geologi Kementerian ESDM Dr. Devi Kamil Syahbana, Rabu (29/8/2018).

Adanya korelasi sebesar 0,4 persen tersebut disebutnya, bisa terjadi jika gunung api tersebut memang sudah siap erupsi. “Atau kondisi magmanya dalam keadaan kritis. Nyatanya, pasca gempa Lombok, belum ada gunung api yang erupsi,” tambah Devi.

Statistika dunia lain menunjukkan, paska gempa besar, yaitu gempa bermagnitudo 6 Skala Richter (SR) atau lebih, kalaupun disusul aktivitas erupsi suatu gunung api, umumnya memerlukan waktu dan tidak terjadi secara cepat atau instan. “Contohnya, Gunung Rabaul di Papua Nugini. Erupsi baru terjadi 11 tahun setelah gempa di 1982 dan 1983, baru erupsi pada 1994. Ada contoh lain yang jedanya lebih pendek, yaitu tiga tahun. Karena gunung api ini sifatnya kompleks, kita tidak bisa memastikan apakah akan ada susulan aktivitas vulkanik setelah gempa Lombok lalu atau kapan dan gunung api mana yang akan terganggu,” papar Devi lebih lanjut.

Kondisi tersebut dikatakanya, mendorong PVMBG terus melakukan monitoring selama 24 jam per hari, aktivitas seluruh gunung api di Indonesia. “Jika data pemantauan suatu gunung api mengindikasikan secara signifikan adanya anomali, maka PVMBG akan selalu berupaya menyampaikan peringatan sedini mungkin,” ucapnya.

Terkait status Anak Krakatau, Devi menyebut, statusnya sudah dalam fase erupsi sebelum gempa Lombok terjadi. “Erupsi itu terjadi jika magmanya overpressure, bukan karena gempa tektonik. Gempa tektonik itu hanya bersifat sebagai katalis atau pemicu. Analoginya, gunung api itu adalah gelas di atas meja. Magma adalah air dalam gelas. Kita goncang mejanya, kalau isinya penuh maka air bisa keluar. Dalam hal ini terjadi erupsi. Tapi kalau dalam gelas itu tidak ada airnya atau airnya sedikit maka meski kita goncang-goncangkan mejanya, apa yang akan dikeluarkan?” papar Devi.

Devi menyatakan, status Anak Krakatau masih aman jika tidak ada peningkatan skala erupsi. Tidak ada yang bisa mengetahui, kapan erupsi Anak Krakatau akan selesai. Sebelumnya, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, Dr. Sri Hidayati mengatakan, pergerakan lempeng belum pasti mengakibatkan erupsi gunung api. “Gempa bumi hampir tiap menit terjadi di seluruh dunia. Penyebabnya berkaitan dengan aktivitas lempeng. Sampai saat ini belum ada yang bisa memprediksi kapan, dimana dan berapa besar magnitudo gempa akan terjadi. Termasuk juga, apakah gempa ini menjadi penyebab erupsi gunung api dalam waktu seketika,” kata Sri.

Baca Juga
Lihat juga...