Gula Aren Atinggola Masuk Indikasi Geografis Nasional

Ilustrasi gula aren - Foto Dokumentasi CDN

GORONTALO – Produk gula aren Atinggola dari Gorontalo, masuk dalam Indikasi Geografis Nasional. Hal tersebut disambut gembira pemerintah daerah setempat, karena diharapkan dapat mendorong produksi gula khas masyarakat setempat tersebut.

Pemkab Gorontalo Utara, bekerjasama dengan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF), menyosialisasikan pendaftaran Indikasi Geografis tentang gula Aren Atinggola. Kegiatan tersebut dihadiri langsung Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan regulasi Bekraf Pusat, Ari Juliono Gema. Hadir pula, Dirjen Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkumham RI, Saky Septiono, Wakil Ketua tim Ahli Indikasi Geografis, Riyaldi dan Kasubdit Ekonomi Kreatif RI, Emanuel Rano Rohi.

Bupati Gorontalo Utara, Indra Yasin mengatakan, pemkab sangat mengapresiasi terpilihnya gula Aren Atinggola dalam pendaftaran Indikasi Geografis. Gula aren Atinggola merupakan hasil kreatifitas masyarakat di Kecamatan Atinggola. “Jangan heran banyak industri rumahan yang memproduksinya, bahkan dikirim ke berbagai daerah di Indonesia,” ujarnya, Sabtu (25/8/2018).

Gula aren Atinggola, terkenal memiliki ciri khas tersendiri. Bahan dasarnya bukanlah kelapa maupun tebu. Masyarakat Atinggola, membuat gula Aren dari nira pohon enau. “Maka dari unsur bahan dasarnya, sangat diharapkan gula Aren Atinggola dapat memenuhi kriteria Indikasi Geografis Indonesia,” tandas bupati.

Gula aren Atinggola mampu menjadi bahan dasar produk olahan kreatif lainnya, seperti permen gula yang dikenal dengan nama gula-gula Soba. Banyak perajin gula Aren menggantungkan perekonomian keluarga dari hasil pendapatan penjualan gula itu.

Bupati berharap, masuknya produk gula aren Atinggola dalam Indikasi Geografis Indonesia, akan mendorong peningkatan permintaan dari berbagai wilayah di nusantara, yang akan berdampak pada peningkatan perekonomian para perajin. Ke depan, pemerintah daerah akan mendorong kreatifitas produk olahan berasal dari gula aren Atinggola.

Hal itu menjadi upaya untuk mendorong produksi gula yang memiliki ciri khas dari rasa, dan dari bentuk gula yang memiliki ukuran besar. Ada yang dibuat dalam ukuran dua kilogram per bola. Gula Aren Atinggola rata-rata dibentuk menyerupai bola, dan ada juga yang berukuran hingga lima kilogram per bola. Harganya berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. (Ant)

Lihat juga...