Gunung Anak Krakatau Bergemuruh, Aktivitas di Penyeberangan Normal

Editor: Makmun Hidayat

941

LAMPUNG — Warga di wilayah Dusun Kayu Tabu, Dusun Minangrua Desa Kelawi dalam beberapa malam terakhir mendengar suara gemuruh seperti guntur berasal dari Gunung Anak Krakatau.

Kondisi tersebut diakui oleh Beny, salah satu warga saat dihubungi Cendana News melalui telepon pada Jumat malam (3/8/2018).

Ia menyebut suara gemuruh tersebut kerap terdengar saat malam dengan kondisi sama seperti saat akan turun hujan. Suara gemuruh tersebut terdengar dari Gunung Anak Krakatau (GAK) yang teramati jelas dari Pantai Minangrua Bakauheni.

Dikatakan Beny, warga sudah terbiasa mendengar kondisi tersebut selama hampir satu bulan terakhir paska GAK mulai mengalami erupsi sejak (25/6/2018) lalu.

Pada saat kondisi cuaca cerah sejumlah nelayan bahkan bisa melihat nyala api dari lava yang mengalir saat terjadi erupsi. Meski demikian warga menyebut kondisi tersebut normal terjadi pada gunung berapi di Selat Sunda yang masih ditetapkan dalam level waspada.

“Kami kerap mendengar saat malam seperti suara guntur dan kalau kondisinya cerah saat erupsi terlihat samar-samar warna terang seperti lava pijar,” papar Beny salah satu warga Dusun Kayu Tabu yang kerap melaut di perairan Desa Kelawi.

Aktivitas GAK yang mengeluarkan lava pijar dengan material letusan dibenarkan oleh Andi Suardi, selaku kepala Pos Pemantauan GAK Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Desa Hargo Pancuran Kecamatan Rajabasa Lamsel.

Andi Suardi, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan – Foto: Henk Widi

Andi Suardi menyebutkan data terkait aktivitas GAK tercatat di Volcanic Activity Report (Magma-VAR) milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dengan kode Krakatau KRA2 EHZ VG 00.

“Kondisi GAK masih aktif dengan letusan teramati sebanyak 137 kaki dengan ketinggian 100 hingga 300 meter dengan warna asap hitam. Pemantauan visual diakuinya terpantau melalui closed circuit television (CCTV),” ujarnya.

Ia memastikan dalam beberapa tahun terakhir semenjak letusan pada tahun 2012 dinyatakan level waspada aktivitas di sekitar GAK hanya diperbolehkan dalam radius 1 kilometer.

“Melihat kondisi saat ini wisatawan dan masyarakat yang kerap melakukan aktivitas radiusnya diperluas menjadi dua kilometer dari sebelumnya satu kilometer,” papar Andi Suardi.

Sesuai pengamatan visual, ia menyebut asap kawah teramati berwarna putih meski kerap samar-samar saat kondisi cuaca mendung. Kondisi angin disebutnya saat GAK erupsi, angin berhembus ke arah utara, tenggara, barat daya dan barat.

Ia menngatakan letusan pada Jumat (3/8) tercatat hingga 137 kali,amplitudo 15 hingga 45 mm, durasi antara 13-77 detik. Hembusan berjumlah 96 kali,amplitudo berjumlah 4 hingga 20 mm berdurasi 16-122 detik.

Sesuai dengan pengamatan alat seismograf yang terhubung dengan seismometer di GAK, kegempaan vulkanik dangkal tercatat berjumlah 23, amplitudo 3-22 mm dengan durasi 5 hingga 16 detik.

Meski terus beraktivitas, Andi Suardi, menyebut kondisi tersebut merupakan sebuah kegiatan pelepasan energi yang tengah dilakukan GAK sehingga akan mengurangi energi yang tersimpan di dalam perut bumi.

Gugusan kepulauan Krakatau diantaranya Krakatau Purba, Gunung Anak Krakatau, Pulau Sertung dan Pulau Panjang terlihat samar dari pos Pantau GAK Desa Hargo Pancuran – Foto: Henk Widi

 

Terkait aktivitas GAK yang erupsi sejak bulan Juni lalu, Ferry Hendy Yamin, selaku petugas Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli (KBPP) Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Bakauheni, memastikan operasional kapal penyeberangan masih normal.

Aktivitas GAK disebutnya masih tetap beroperasi seperti biasa termasuk dengan kondisi perairan di pelabuhan Bakauheni-Merak yang aman dilintasi kapal.

Sesuai dengan kondisi jalur penyeberangan, pihak KSOP selalu mendapat prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Pada (3/8) ia menyebut di jalur Bakauheni-Merak kondisi cuaca berawan, arah angin dari Timur ke Selatan dengan kecepatan angin 3-15 knots.

Arus laut dari Tenggara ke Selatan dengan ketinggian gelombang mencapai 0,3 hingga 1,3 meter sehingga masih aman untuk pelayaran kapal. Meski demikian ia tetap mengimbau nahkoda dan pengguna jasa pelayaran mewaspadai jalur pelayaran dengan perubahan cuaca yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.