Gurih, Pedas Ayam Betutu Khas Gianyar

Editor: Koko Triarko

216
BADUNG — Jika Anda sering berkunjung ke pulau Bali, maka sudah tidak asing lagi dengan kuliner Ayam Betutu. Salah satu warung yang terkenal di Bali adalah Ayam Betutu Men Tempeh di Gianyar.
Namun, di Bali selatan, khususnya di Badung, tepatnya di Jalan Raya Uluwatu, Kelan, Kuta Selatan, Badung Bali, juga terdapat warung Jawa yang menjual masakan berbahan utama daging ayam ini.
Masriah, pembuat sekaligus pemilik warung Jawa, mengatakan, sama seperti kuliner khas Nusantara, lainnya, keistimewaan ayam betutu juga terletak pada bumbu serta teknik memasaknya.
Ia menjelaskan, bumbu yang digunakan untuk kuliner ini bisa dibilang tidak jauh berbeda dengan bumbu ayam betutu aslinya. Artinya, semua jenis rempah masuk atau digunakan. Dalam istilah Bali, biasa disebut ‘basa gede’ atau bumbu besar. Bahan seperti bawang   merah, putih, jahe, laos menjadi bumbu utamanya.
Marsiah. -Foto: Sultan Anshori.
Selain itu, ditambahkan pula bumbu khas Bali, yaitu ‘Wangen’. Bumbu ini terbuat dari lada hitam, kapulaga. Dirinya juga tambahkan sedikit bumbu rahasia dari keluarga, sehingga menjadikan ayam betutu buatannya tidak kalah enak dengan ayam betutu yang dijual oleh orang Bali pada umumnya.
Meski ia sendiri bukan orang asli Bali, tetapi keahlian membuat ayam betutu ini tidak perlu diragukan lagi. Ia mengaku, bisa membuat kuliner Bali ini saat belajar kepada suami bibinya yang merupakan asli orang Bali.
“Dari sana mungkin awal saya bisa membuat masakan ini,” ucap Masriah, saat ditemui, Sabtu (11/8/2018).
Wanita yang akrab disapa Sri ini menambahkan, memasak ayam betutu, agar menghasilkan rasa yang pas, membutuhkan waktu yang cukup rumit dan panjang. Rata-rata waktu yang dibutuhkan dalam setiap menyajikan bumbu ayam betutu ini sekitar tiga hingga empat jam.
Sri menjelaskan, pertama-tama, semua bumbu lengkap tersebut direndam menggunakan air. Kemudian diungkep selama kurang lebih selama dua jam sebelum diracik menjadi satu.
Namun, ada yang berbeda dengan ayam betutu buatannya ini dengan betutu yang dijual di Jembrana. Jika ayam betutu yang dijual di sana menggunakan satu ekor ayam, maka di tempatnya ukuran ayamnya dipotong dengan ukuran kecil-kecil.
“Kalau ayamnya saya biasa pakai ayam potong,” imbuh dia.
Memiliki rasa yang enak, ayam betutu buatannya ini sering dicari, baik oleh masyarakat sekitar maupun wisatawan yang berlibur di pulau yang berjuluk ‘Seribu Pura’, ini. Dalam sehari, ia bisa menjual 200 porsi, dan menghabiskan puluhan kilogram ayam potog.
“Untuk satu porsi ayam betutu, saya jual mulai dari 10 hingga 20 ribu rupiah. Tergantung besarnya ayam yang diminta,” imbuh wanita asal Banyuwangi, ini.
Tak hanya menjualnya di warung, ia juga menerima pesanan ayam betutu dengan porsi satu ekor ayam betutu, seharga Rp100.000 tanpa nasi.
Sementara itu, Rino, penggemar ayam betutu, mengaku ayam betutu di Warung milik Masriah ini memiliki rasa yang unik. Rasa gurih yang dominan bercampur dengan rasa asam. Bagian yang paling disukai adalah daging ayam yang mudah dilepas dari tulangnya.
“Ya, meskipun yang membuatnya orang Jawa, tapi  rasanya tetap enak dan tidak kalah dengan ayam betutu khas Bali,” ujar Rino.
Seperti diketahui, pada awal pembuatannya pada 1976, makanan ini dikenal khas dari daerah Gianyar. Selain daging ayam, orang Bali biasa menggunakan bahan lain untuk membuatnya.
Betutu ini dibuat oleh Men Tempeh atau Ni Wayan Tempeh, yang berasal dari Abianbase, Kota Gianyar, dengan suaminya, I Nyoman Suratna, ari Bangli.
Baca Juga
Lihat juga...