Gusti Winata, Si Mbah Tukik Pengkonservasi Penyu di Pantai Minang Rua

Editor: Mahadeva WS

208

LAMPUNG – Upaya konservasi penyu laut yang bermigrasi ke berbagai wilayah di perairan Selat Sunda untuk bertelur, terus dilakukan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Minang Rua Bahari. Penyu-penyu terpantau bermigrasi ke Pantai Minang Rua, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni.

Gusti Winata (27), salah satu anggota Pokdarwis Minang Rua Bahari menyebut, berdasarkan informasi sejumlah nelayan, pantai tersebut menjadi lokasi untuk bertelur berbagai jenis penyu. Sejumlah nelayan pernah mendapatkan penyu saat memancing atau menjaring ikan. Jenis penyu yang ditemukan diantaranya, Penyu Tampah, Penyu Pipih, Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea Vandelli), Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Batik (sesuai dengan penyebutan warga setempat).

Gusti Winata memeriksa proses pembuatan kolam penangkaran untuk tukik yang diprediksi akan menetas dari telur pada 4 September 2018 mendatang [Foto: Henk Widi]
Awalnya sejumlah nelayan bahkan memanfaatkan penyu untuk dikonsumsi termasuk telur yang ditemukan. “Pada waktu pantai masih belum dikelola, dan belum ada sosialisasi mengenai larangan menangkap penyu, warga pernah menangkap penyu, tapi kini nelayan mulai sadar penyu perlu dilindungi,” terang Gusti Winata saat kepada Cendana News, Rabu (29/8/2018).

Sebagai salah satu pemuda Desa Kelawi yang peduli pada kelestarian penyu, Gusti Winata mengaku, sering ronda mencari penyu yang akan bertelur. Pertama kali menemukan telur penyu terjadi pada 7 Juni 2017, yang menjadi awal dari kegiatan proses pemindahan telur ke lokasi yang aman untuk konservasi. Pemindahan dilakukan, karena pantai ramai dikunjungi wisatawan, sehingga telur berpotensi terinjak atau dimangsa hewan predator.

Setelah penemuan pertama tersebut, mendorong dilakukannya ronda di malam hari untuk mencari penyu yang akan bertelur. aktifitas membuat ia aktif menunggu di sekitar pantai saat malam hari. Penemuan pertama diamankan 102 butir telur, temuan kedua pada 15 Juli, ditemukan 100 butir telur, dan temuan pada 27 Juli ada 80 telur.

Melalui proses otodidak, dan belajar dari internet cara menangani telur penyu agar bisa menetas, upaya pengamanan menghasilkan sekira 120 telur yang menetas menjadi tukik. Kecintaan pada tukik terus dipertahankan, untuk membantu menjaga populasi penyu. Keberadaan tukik tersebut, membuat Gusti Winata kini dikenal dengan sebutan “Si Mbah Tukik”. Sebutan baru yang melekat, yang disebutnya menjadi sebuah tanggung jawab, sembari terus belajar cara terbaik menangani telur penyu yang ada di pantai Minang Rua.

Melestarikan lingkungan pantai dengan menanam berbagai pohon diantaranya bakau, ketapang, cemara, ketapang kencana, hingga pandan laut dilakukan bersama anggota Pokdarwis. “Tukik yang sudah siap dilepasliarkan pada usia tertentu sudah kembali ke habitatnya, dan semoga bisa menjadi penyu dewasa yang nantinya akan kembali ke pantai ini untuk bertelur,” terang Gusti Winata.

Fasilitas penangkaran penyu, sejak berwujud telur hingga menjadi tukik hanya menggunakan kolam plastik terpal. Fasilitas tersebut dilengkapi mesin pompa air sederhana, untuk pengaturan sirkulasi air, termasuk pemberian pakan untuk tukik. Sebagai mbah tukik, Gusti Winata berusaha mencari lokasi terbaik untuk menetaskan telur penyu pada saat musim migrasi ke Pantai Minang Rua.

Penyu Hijau (Chelonia mydas) yang sedang bertelur di pantai Minang Rua dan setelah itu telur dipindahkan ke lokasi penetasan dan penangkaran yang aman [Foto: Ist/Henk Widi]
Sesuai dengan pola kebiasaan, penyu berbagai jenis akan bertelur di Pantai Minang Rua sekitar Mei. Pada Mei 2018, si Mbah Tukik mencatat, ada tuju induk penyu mulai bertelur di Pantai Minang Rua. Berdasar ciri fisik penyu yang bertelur, ada tiga ekor penyu hijau, seekor penyu tampah dan seekor penyu sisik.

Pada saat masa bertelur, ada dua ekor induk penyu yang sudah bertelur, tersapu ombak sehingga telur tidak bisa diselamatkan. Sesuai dengan pengalaman sebelumnya, masa penetasan telur membutuhkan waktu 64 hari. Sesuai dengan perhitungan, dari lima kumpulan telur yang masing masing berjumlah 100 butir telur, diperkirakan akan menetas pada 4 September mendatang.

Butuh ketelatenan dan juga peran serta anggota Pokdarwis, serta Gusti Winata sebagai si mbah Tukik, untuk menjaga lingkungan sekitar tempat penangkaran penyu aman dari gangguan. Upaya konservasi penyu di Pantai Minang Rua, mulai mendapat perhatian dari sejumlah pihak. Bantuan peralatan untuk penangkaran, selain berasal dari swadaya Pokdarwis Minang Rua Bahari, juga berupa bantuan dari sejumlah pihak. Bantuan tersebut diantaranya dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Dinas Perikanan Kabupatan Lampung Selatan dan Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Astra Otoparts.

Bantuan bantuan tersebut, ada pembuatan lokasi penetasan dan penangkaran berpasir sesuai habitat asli telur penyu. Kolam penangkaran, dengan konstruksi kolam semen dengan pagar besi, bagian tengah diisi pasir, yang dibuat dengan ukuran 3×3 meter.

Proses pembangunan selesai pada bulan Agustus 2018. Akan dilanjutkan dengan bantuan dari Dinas Perikanan, melalui pembuatan kolam penangkaran saat telur menetas menjadi tukik. Kolam berukuran 4×2 meter disiapkan termasuk rumah jaga yang berada di dekat lokasi penangkaran. Fasilitas listrik sudah dipasang oleh pokdarwis. “Banyak yang mulai peduli dengan kegiatan konservasi penyu dan saat pelepasan tukik donasi juga diberikan untuk mendukung kelestarian penyu,” tambah Gusti Winata.

Kegiatan tersebut juga mendapatkan dukungan dari mahasiswa Universitas Indraprasta (Unindra) Jakarta Selatan. Tujuh mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Jurusan Desain Komunikasi Visual, membuat eco desain. Tergabung dalam Komuniutas Lingkup Desain, dukungan ke penangkaran penyu dilakukan dengan membuat tulisan dan miniatur penyu belimbing.

Ali, salah satu anggota komunitas Lingkup Desain, membuat visual sejumlah tulisan untuk melestarikan penyu, menjaga lingkungan dan mempercantik pantai Minang Rua. Keberadaan penyu sebagai salah satu daya tarik pantai Minang Rua, bahkan divisualkan dengan miniatur penyu yang terbuat dari kertas, bambu dan kayu.

Miniatur tersebut sebagai pengingat, bahwa kawasan pantai tersebut sebagai lokasi penyu bertelur, dan bisa menjadi objek untuk swafoto. “Dukungan Komunitas Lingkup Desain tentunya selain berkaitan dengan estetika juga konservasi lingkungan,” terang Ali.

Selain dengan eco desain dan seni, mahasiswa dari Universitas Indraprasta ikut mendukung kelestarian lingkungan, dengan membersihkan pantai dari sampah. Keberadaan penangkaran penyu dikelola secara kombinasi, selain sebagai lokasi wisata juga menjadi tempat konservasi, serta mempertahankan sapta pesona wisata bahari.

Lihat juga...

Isi komentar yuk