Hanya Dapat Rp50ribu, Pemain Jathilan Sewa Kostum Sendiri

Editor: Mahadeva WS

237

YOGYAKARTA – Meski mengalami berbagai kendala dan keterbatasan, kesenian tradisional Jathilan dan Reog, diyakini tidak akan pernah mati atau punah. Kesenian yang telah banyak dikenal masyarakat tersebut, diyakini akan tetap hidup sampa akhir zaman.

Meski kini diakui semakin terpinggirkan di tengah pesatnya perkembangan zaman. Tetap akan muncul pemain-pemain baru pengganti. Proses regenerasinya akan terjadi secara alamiah di tengah masyarakat. Hal itu diungkapkan salah seorang pelaku kesenian Jathilan dan Reog asal Kulonprogo, Sapari.

Sapari – Foto Jatmika H Kusmargana

Ketua kelompok seni jathilan, ogek dan reog, Tri Manunggal, asal Dusun Panjul, Srikayangan, Sentolo, Kulonprogo itu menilai, generasi muda penerus kesenian asli Jawa itu, tetap akan terus muncul, menggantikan generasi sebelumnya. “Memang banyak yang bilang, kesenian seperti ini lama-lama akan hilang dan punah karena tidak ada penerusnya. Tapi menurut saya itu salah. Saya yakin jathilan atau reog tidak akan mati. Karena banyak anak-anak muda yang masih mau meneruskan kesenian ini. Setidaknya di dusun saya,” tuturnya, usai pentas, Minggu (26/8/2018).

Sapari, saat ini memimpin kelompok seni jathilan dan reog, Tri Manunggal, yang beranggotakan 40 orang. Anggotanya adalanh, kumpulan anak-anak maupun pemuda, berusia belasan tahun dari dusunnya, Panjul, Sri Kayangan, Sentolo, Kulonprogo. “Mereka merupakan generasi ketiga, kelompok kami yang didirikan sejak tahun 1990. Semua adalah anak-anak asli dusun kami,” jelasnya.

Seluruh anak didik Sapari, ikut dalam berbagai kegiatan pentas kesenian Jathilan dan Reog dengan kesadaran masing-masing. Tanpa paksaan, mereka rutin berlatih di desa untuk pentas dalam berbagai acara tanggapan seperti festival, kegiatan bersih desa, pertunjukan seni.

Berbagai kendala dan keterbatasan tidak berpengaruh pada minat anak-anak muda di dusunnya untuk ikut dalam setiap pementasan. Mereka bahkan rela tidak dibayar, meski harus menempuh perjalanan jauh ke kota lain, sekedar untuk bisa tampil di atas panggung.

“Memang setiap diundang pentas kita mendapatkan honor. Ya sekitar Rp6-7juta. Tapi biasanya itu habis untuk biaya operasional. Misalnya untuk sewa truk pengangkut. Untuk biaya konsumsi 40 orang anggota. Sampai sewa seragam kostum, karena kita belum punya. Paling anak anak hanya dapat sekedar uang jajan Rp50ribu per orang. Sisanya masuk kas kelompok untuk biaya latihan,” jelasnya.

Kecintaan pada seni tradisi, dan rasa kebanggaan bisa tampil di hadapan orang banyak, menjadi faktor utama anak-anak Dusun Panjul mau menggeluti Jathilan dan Reog. Meski demikian, para senior seperti Sapari, harus tekun dan sabar memberikan dukungan. “Ya harus ngemong, misalnya kita latihan tidak di hari malam minggu, karena pasti banyak yang tidak bisa. Kalau misal mau pentas ke luar kota, kadang kita yang minta ijin ke orang tua anak-anak. Bahkan sampai menguruskan ke sekolahnya. Agar anak-anak dapat ijin pentas,” katanya.

Dengan segala keterbatasan yang ada, profesi sebagai pelaku kesenian Jathilan dan Reog tidak bisa dijadikan sandaran untuk mengais rezeki. Hoby dan kecintaan pada seni tradisi, itulah yang menjadi satu-satunya alasa bagi Sapari untuk tetap mau menggeluti dan membesarkan Jathilan dan Reog.

Kelompok seni Tri Manunggal merupakan salah satu kelompok keseninan Jathilan dan Reog yang masih tersisa, di sekitar kawasan Desa Srikayangan Sentolo Kulonprogo. Kelompok tersebut, melestarikan kesenian tradisi, secara swadaya. Mengandalkan rasa kebersamaan, mereka rutin berkeliling untuk pentas dalam berbagai acara setiap bulannya.

Baca Juga
Lihat juga...