Harga Cengkih di Lampung Selatan Turun

Editor: Mahadeva WS

405

LAMPUNG – Harga cengkih di Lampung Selatan turun. Hal tersebut terjadi karena saat ini warga di sekitar Gunung Rajabasa sedang panen.

Warsinah (40), salah satu pemilik ratusan batang cengkih varietas sikitok dan zanzibar menyebut, panen cengkih masih berlangsung di wilayah kaki Gunung Rajabasa termasuk di kebun miliknya. “Masih ada panen,” ujar pemilik kebun di Desa Tanjungheran Kecamatan Penengahan, Selasa (7/8/2018).

Warsinah menyebut, harga cengkih kering sempurna paska penjemuran selama empat hari kini dijual Rp85.000 perkilogram. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp95.000 perkilogram. Harga tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan panen tahun lalu yang sempat mencapai Rp120.000 perkilogram.

Warsinah salah satu pemilik kebun cengkih menjemur hasil panen miliknya sebelum dijual [Foto: Henk Widi]
Turunnya harga komoditas cengkih membuat ia memilih menyimpan cengkih hasil panen meski sudah kering. “Faktor panen raya cengkih menjadi penyebab harga anjlok. Sebagian besar pengepul memiliki stok, sejumlah pemilik kebun cengkih juga terpaksa menjual dengan harga rendah,” terang Warsinah saat ditemui Cendana News, Selasa (7/8/2018).

Tahun ini, Warsinah memanen cengkih basah 300 kilogram, yang jika dikeringkan menjadi sekira 250 kilogram. Pengeringan dengan proses penjemuran memanfaatkan sinar matahari. Saat musim kemarau seperti saat ini, Warsinah bisa menjemur cengkih empat hari untuk kering sempurna.

Ciri-ciri cengkih kering sempurna, sulit dipatahkan karena sudah mengering, berbeda dengan kondisi saat basah yang lembek dan empuk. Warna hijau dari cengkih yang baru dipetik akan berubah menjadi warna coklat tua. Pencari cengkih yang dikenal dengan cengkau (perantara jual beli cengkih, kakao) akan membeli dari petani dengan harga Rp70.000 hingga Rp75.000 per kilogram.

Harga tersebut lebih rendah dibandingkan dijual langsung ke pengepul seharga Rp85.000 perkilogram. Warsinah menyebut, idealnya harga cengkih saat ini bisa mencapai di atas Rp100.000 per kilogram. Harga tersebut, bisa menutup biaya operasional perawatan hingga proses pemanenan yang melibatkan sejumlah tenaga kerja pemetik.

Tenaga kerja pemetik dengan sistem cakak (memanjat) dan ngudokh (mengambil di bawah pohon cengkih) dibayar dengan sistem harian, rata-rata Rp80.000 atau sistem bagi hasil satu banding satu.  “Saya harus mengupah pemetik jika hasil petikan sepuluh kilogram maka pemetik diupah sebanyak lima kilogram,” bebernya.

Penurunan harga cengkih lainnya, Sobiran (30), warga Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni menyebut, harga cengkih pada masa jayanya bisa mencapai Rp150.000 perkilogram. Meski demikian, sejak lima tahun terakhir harga komoditas perkebunan tersebut semakin anjlok.

Sementara, kebutuhan cengkih sebagai bahan baku perusahaan rokok serta produk kosmetik dan kesehatan terus meningkat. Potensi anjloknya harga masih akan terjadi saat terjadi musim panen raya, dimana saat itu nilai tukar petani semakin rendah. Beruntung komoditas cengkih menjadi salah satu komoditas yang mudah disimpan sehingga bisa dijual saat harga naik. Cengkih dengan penyimpanan sempurna sebagai rempah-rempah dengan menggunakan karung goni bisa disimpan puluhan tahun.

Petani cengkih di wilayah Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni sedikit lebih beruntung karena mendapatkan program kemitraan. Lahan pertanian cengkih yang berada di kaki Gunung Rajabasa menghadap ke Selat Sunda mendapatkan bibit cengkih sepuluh tahun silam dari perusahaan produsen rokok. Pola kemitraan dengan penyediaan bibit dan kepastian pembelian dengan harga sesuai kontrak cukup menjanjikan.

Jaminan harga didapatkan untuk hasil panen cengkih jenis zanzibar yang mencapai Rp100.000 perkilogram. Meski harga sempat anjlok di sejumlah petani, namun dengan pola kemitraan, petani tidak mengkawatirkan harga anjlok. Petani hanya diperkenankan menjual cengkih kepada pengepul yang sudah bekerjasama dengan produsen rokok dengan jalinan kemitraan.

Baca Juga
Lihat juga...