Harga Gas Melon Naik, Warga Bakauheni Gunakan Kayu Bakar

Editor: Koko Triarko

1.482
LAMPUNG – Kenaikan harga gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram atau dikenal dengan gas melon di Bakauheni, Lmpung Selatan, sudah terjadi sejak tiga pekan terakhir.
Suminah (40), warga Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, menyebut, kenaikan harga gas terjadi di tingkat distributor hingga pengecer. Harga gas elpiji ukuran 3 kilogram yang semula Rp22.000, naik menjadi Rp24.000, bahkan di sejumlah pengecer harga elpiji naik menjadi Rp27.000 per tabung.
Suminah terpaksa menghemat penggunaan gas elpiji kemasan 3 kilogram, dari yang biasanya digunakan untuk dua pekan, kini dihemat untuk tiga pekan. Caranya, dengan dengan memasak nasi menggunakan penanak nasi listrik, memasak air panas dengan kayu bakar serta menggunakan batok kelapa.
Roby salah satu pemilik pangkalan menjual gas elpiji bersubsidi sesuai dengan harga eceran tertinggi yang ditetapkan [Foto: Henk Widi]
“Setiap membeli gas bersubsidi, pengecer menyebut kenaikan sudah berasal dari pangkalan, sehingga warga seperti saya tetap membeli gas untuk keperluan memasak,” terang Suminah, saat ditemui Cendana News, Sabtu (11/8/2018).
Berbeda dengan Suminah, warga Siring Itik, Desa Bakauheni, yang akrab dipanggil Mama Yesy (45), menyebut kenaikan harga gas elpiji ukuran 3 kilogram berdampak pengeluaran bertambah. Pasalnya, ia tinggal di daerah padat penduduk, sehingga tidak bisa memasak menggunakan kayu bakar.
Sebagai cara mengurangi penggunaan gas elpiji, Mama Yesy memilih menggunakan sejumlah alat masak dengan listrik.
Alat masak menggunakan listrik, kata Mama Yesy, mulai dari penanak nasi, pemanas air untuk merebus air. Sedangkan kompor gas hanya dipergunakan untuk memasak sayur.
Ia lebih memilih membayar listrik dengan sistem prabayar, karena token listrik mudah diperoleh di sejumlah penjual token listrik prabayar, dibandingkan dengan tabung gas elpiji.
“Bayangkan, kalau saat memasak, gas habis. Harga mahal sekaligus kadang di warung pengecer tidak ada stok, makanya saya memilih memasak menggunakan listrik,” terang Mama Yesy.
Menurutnya, harga gas elpiji bersubsidi di wilayahnya masih bertahan di angka Rp27.000 per tabung. Harga gas melon ini juga kerap berbeda antarpengecer. Sebagian masih menjual seharga Rp25.000, sebagian lagi menjualnya Rp27.000 per tabung.
Suranto (40), warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, juga mengaku terpaksa kembali menggunakan tungku tanah, dengan bahan bakar batok kelapa dan kayu.
Menurut Suranto, semula harga elpiji ukuran 3 kilogram dibelinya seharga Rp22.000, kini naik menjadi Rp28.000.
“Lokasi yang jauh dari pangkalan, kerap menjadi alasan kenaikan harga tabung elpiji bersubsidi, sehingga saya kembali menggunakan tungku,” beber Suranto.
Penggunaan tungku berbahan bakar kayu, katanya, dilakukan untuk menanak nasi, dan menjerang air. Ia pun masih merasa beruntung, karena musim kemarau memudahkan untuk mencari kayu bakar di kebun.
Mama Yesy memperlihatkan tabung gas ukuran 3 kilogram kosong miliknya akibat harga terus naik di pengecer [Foto: Henk Widi]
Ia juga kerap mengumpulkan sisa kayu gergajian untuk dijadikan bahan bakar.
Batok kelapa yang dibuang oleh pembuat kopra juga diminta secara Cuma-cuma untuk bahan bakar, saat harga gas elpiji subsidi ukuran 3 kilogram naik.
Sementara itu, Roby (30), pemilik pangkalan elpiji ukuran 3 kilogram di Penengahan, menyebut harga eceran tertinggi (HET) gas elpiji subsidi ukuran 3 kilogram masih bertahan di angka Rp19.000.
Namun, katanya, sejumlah pengecer di wilayah tersebut menjual dengan harga bervariasi. Ia mengaku tidak memantau secara detail harga gas elpiji ukuran 3 kilogram yang dijual oleh  pengecer.
Pasokan gas elpiji bersubdisi dari depo atau stasiun pengisian bahan bakar elpiji Pertamina Panjang dan Sidomulyo, bahkan disebutnya lancar. Ia menduga, salah satu faktor kenaikan harga elpiji karena tingginya permintaan. Bahkan, sebagian pemilik usaha yang tergolong usaha besar masih menggunakan tabung elpiji ukuran 3 kilogram.
Selain itu, sejumlah warga mampu masih mempergunakan tabung elpiji yang dipergunakan untuk rumah tangga miskin tersebut. Padahal, sudah ada anjuran, bagi masyarakat mampu untuk menggunakan tabung gas nonsubsidi ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram.
Baca Juga
Lihat juga...