IGF 2018, Kuatkan Solo Sebagai Kampung Halaman Gamelan

Editor: Mahadeva WS

190

SOLO – Internasional Gamelan Festival (IGF) 2018 yang digelar Kamis (9/8/2018) malam hingga Jumat (10/8/2018) dinihari di Solo berlangsung meriah. Belasan kelompok gamelan baik dari Nasional maupun Internasional, tampil susul menyusul memberikan hiburan terbaiknya.

Setelah dikumandangkannya gending Ketawang Pusowarno, para komponis yang telah mencapai puncak penjelajahan artistik, tampil membuka IGF 2018. Diantaranya, Seperti Rahayu Supanggah, Wayan Yudahe dari Bali, Taufik Adam dan Garin Nugroho dari Jakarta.

Penampilan menarik ditunjukan, Southbank Gamelan Player, dari Inggris. Penampilannya menghentakkan semangat ribuan penonton yang memadati benteng Vastenburg, yang merupakan peninggalan jaman kolonial Belanda tersebut.

Mendikbud Muhadjir Effendy yang membuka IGF 2018 dengan menabuh kendang bersama menyebut, pentingnya kecintaan terhadap salah satu alat musik tradisional, yang sudah diterima di seluruh pelosok dunia tersebut. “Mudah-mudahan berharap, gamelan ini bisa jadi spirit kita kebersamaan. Spirit melintasi batas, baik batas  geografis maupun batas generasi,” papar Muhadjir Effendy saat membuka IGF 2018, Kamis (9/8/2018) malam.

Konser Opening Ceremony IGF 2018 menampilkan Kelompok Gamelan dari Inggris dan Yogyakarta – Foto Harun Alrosid

Tema Home Comming dipilih pada penyelenggaraan IGF 2018. Hal itu ingin menonjolkan keberadaan gamelan sebagai sarana para ahli, dan peminat gamelan untuk bersilaturahmi, dan berkontribusi secara akademis, dan estetis dalam menyegarkan pengetahuan dan memajukan kebudayaan.

Termasuk ikut memikirkan kembali, perspektif sumbangan kultur gamelan bagi kemanusiaan dan peradaban dunia masa kini dan masa depan. “IGF juga merupakan salah satu festival pertama dari 13 rangkaian festival di sembilan daerah, yang dihelat dalam platform kebudayaan Indonesiana di 2018,” tambah Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid dalam kesempatan yang sama.

Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo menegaskan, penyelenggaraan IGF 2018 di Solo,  memperkuat posisi Solo sebagai asal gamelan. Tak hanya itu, IGF 2018 juga mencerminkan partisipasi aktif masyarakat dalam bergotong royong melindungi, sekaligus melestarikan gamelan yang berasal dari Jawa, dan sudah ada sejak berabad-abad yang lampau.

Tak hanya terbentang se-Nusantara, Gamelan bahkan sudah diterima serta diminati hingga berbagai belahan dunia. “Tema Home Comming ini menunjukkan bagaimana gamelan bisa menyatu dalam tradisi kerakyatan di kota asalnya, terutama Solo yang merupakan kota budaya. Melalui IGF ini bisa dijadikan momentum untuk menguak gamelan di kancah internasional. Di mana gamelan menemukan berbagai tempat-tempat baru dan berkembang menjadi bagian budaya komunitas diaspora di dunia,” tandas Rudy.

Pembukaan IGF yang berlangsung hingga Jumat dinihari, ditutup pementasan Djaduk Ferianto dan Kuaetika. Kelompok gamelan dari Yogyakarta tersebut menutup kemeriahan panggung pembukaan IGF 2018, yang akan berlangsung hingga 16 Agustus mendatang.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.