IMM Suarakan Pancasila Sebagai Sukma Bangsa

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.338

MALANG — Ketua Dewan Piminan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) Ali Muthohirin mengatakan, sudah seharusnya Pancasila tidak hanya dijadikan sebatas dasar negara, tetapi juga sebagai sukma bangsa Indonesia.

“Ketika badan kita tanpa sukma dan tanpa jiwa, maka akan mati. Begitu juga dengan Indonesia, ketika para pemimpin dan politisi tidak menjadikan Pancasila sebagai sukma bangsa, maka tidak ada harapan sama sekali,” ucapnya dalam acara pembukaan Muktamar IMM di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (1/8/2018).

Ali menyampaikan, tema besar muktamar IMM “Meneguhkan Pancasila sebagai sukma bangsa untuk Indonesia sejahtera” sengaja diambil karena ada kesedihan dan kegalauan bahwa kondisi saat ini butuh perbaikan. Ada kerisauan dalam konteks sejarah bangsa Indonesia, dimana Pancasila sangatlah luwes tergantung pemimpinnya.

Ketika di zaman Sukarno, ditafsirkan sebagai filosofi dan dasar bangsa. Ketika di zaman Soeharto, Pancasila menjadi dasar utama negara dengan semua simbol-simbol menjadi gambaran dalam pengambilan kebijakan. Bahkan menjadikannya ideologi tunggal.

“Tapi dalam konteks sekarang, maka sebenarnya Pancasila seharusnya tidak hanya dijadikan sebagai simbol maupun filosofi. Sudah saatnya menjadi sukma bangsa Indonesia,” ujarnya.

[kika] Rektor UMM Fauzan, Mendikbud Muhadjir Effendy, Pimpinan pusat Muhammdiyah Haedar Nashir, Ketua DPP IMM Ali Muthohirin. Foto: Agus Nurchaliq
Ketika dijadikan sebagai sukma bangsa, maka Indonesia akan mampu menghadapi tantangan dari luar yang sangat luar biasa, seperti globalisasi, ekstrimisme, dan radikalisme yang seolah-olah menjadi beban sejarah sekaligus penyakit.

Bahkan banyak yang tidak sadar, hal tersebut merupakan disain yang sangat luar biasa untuk menjadikan negara Indonesia carut marut dan tidak lagi bersatu.

“Maka sebagai generasi muda, khususnya IMM mari jadikan semangat itu sebagai pijar matahari agar menjadi penerang dalam gelap gulitanya bangsa,” ajaknya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, yang diangkat dalam muktamar IMM kali ini juga menjadi tema besar di dalam pemerintahan serta di dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

“IMM harus memiliki komitmen yang kuat di bawah payung Muhammadiyah. Mereka harus terus bergerak dan tidak boleh terhenti untuk mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia,” sebutnya.

Sementara itu, pimpinan pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyebutkan, menjadi orang baik saja tidak cukup untuk menaklukkan sejarah. Diibutuhkan orang cerdas dan berintelektual tinggi serta menguasai IPTEK.

“Untuk itu saya berpesan, ada lima keunggulan yang harus dibangun IMM yakni membangun keunggulan idealisme, keunggulan organisasi, kekuatan personal, kekuatan sinergi dan kekuatan peran,” pesannya.

Menurutnya, IMM bukanlah sebuah paguyuban tetapi merupakan organisasi modern.

“Untuk itu sebagai organisasi modern, sudah selayaknya IMM mampu membuat masalah yang rumit menjadi lebih sederhana agar bisa segera diselesaikan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...