Indonesia Harus Belajar dari Barat

Editor: Koko Triarko

1.490
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, M.Si., -Foto: Agus Nurchaliq
MALANG – Nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan kegotongroyongan, sebenarnya telah hidup di bangsa Indonesia sejak lama. Namun patut disayangkan, pada kenyataannya justru sering timbul pertikaian-pertikaian yang diakibatkan permasalahan sederhana, bagaikan rumput kering yang mudah terbakar.
Situasi seperti inilah yang kemudian menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, M.Si., harus segera diakhiri. “Kenapa bangsa kita dalam retorikanya selalu berbicara tentang toleransi, tapi pada kenyataannya justru kita sering ‘jebol’? Hal tersebut tidak terlepas dari hilangnya rasa rasionalitas,” ujarnya, usai menghadiri acara Pidato Kebangsaan yang mengusung tema ‘Meneguhkan Nilai-nilai Kebangsaan yang Berkemajuan Menyongsong Indonesia Emas’ di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Minggu (12/7/2018).
Dikatakan Haedar, bangsa Indonesia harus belajar banyak dari bangsa barat. Mereka bisa maju dan modern karena rasionalitas, dan rasionalitas itulah yang kemudian mampu membangun sistem mereka.
“Untuk itu, kami ingin menggabungkan antara komunalitas yang luhur, tetapi dengan rasionalitas yang tinggi, sehingga kita tidak stagnan dan bisa menjadi bangsa yang maju,” ucapnya.
Menurutnya, hilangnya rasionalitas selama ini lebih disebabkan pada pendidikan di Indonesia yang belum merata, sehingga belum mampu menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni.
Untuk itu, katanya, ke depan siapa pun yang menjabat sebagai Presiden dan Wakil Persiden harus sudah mulai memperkuat SDM dengan berbasis nilai-nilai yang aktual.
“Sekarang kita harus berani berinvestasi besar di bidang SDM dan pendidikan. Uang negara di bidang  pendidikan harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk menghasilkan SDM yang unggul,” terangnya.
Tetapi, katanya, jangan justru menjadi jarahan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tolong jika ada anggaran 20 persen untuk pendidikan, jangan sampai dikorupsi, baik oleh institusi, pemerintah, aparat, parpol maupun ormas.
“Karena di antara masalah bangsa yang cukup serius adalah korupsi yang masif dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab, sehingga berdampak luas pada kehidupan bangsa”, ujarnya.
Jika permasalahan ini tidak memperoleh pemecahan yang sungguh-sungguh melalui upaya rekontruksi yang bermakna, demikian Haedar, maka Indonesia akan berpotensi menjadi negara gagal dan salah arah dalam menempuh perjalanan ke depan.
Baca Juga
Lihat juga...