Indonesia Kekurangan Sejarawan Seni

Editor: Satmoko Budi Santoso

301
Bonnie Triyana - Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA – Bonnie Triyana termasuk sejawaran muda yang kritis dan sangat peduli dengan heritage, warisan sejarah yang tak ternilai harga dan memang patut dipertahankan atau dilestarikan keberadaannya.

Ia produktif menulis artikel yang tersebar di berbagai media massa nasional.

Bonnie dikenal sebagai sejarawan di balik gagasan berdirinya Museum Multatuli di Rangkasbitung, Banten dan juga salah satu sejarawan yang terlibat aktif dalam menyelamatkan gedung Sarekat Islam di Semarang.

“Indonesia kekurangan sejarawan seni yang mempunyai tugas melampaui sekadar memberi harga pada karya seni, tapi juga memberi harga yang di luar bersifat komersil,“ kata Bonnie Triyana, sejarawan dan Pemred Majalah Historia, mengawali pemaparan sebagai pembicara dalam acara diskusi budaya Indonesia dalam Perhelatan Dunia bertema ‘Kebudayaan Sebuah Diplomasi’ di Balai Budaya, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Lelaki kelahiran Rangkasbitung, 27 Juni 1979, itu mengharapkan semoga ke depan punya sejarawan seni yang punya marwah dan punya kemampuan yang mendalam.

“Karena seperti kata Bang Remy Sylado, kita hanya mengimpor dari Barat, kemudian mempraktikkannya dan menelannya bulat-bulat, ada benarnya juga,“ ungkap sejarawan dan mengoleksi banyak lukisan, termasuk lukisan Aisul Yanto yang akan pameran tunggal di di Jakarta Barat.

Bonnie merujuk pada persoalan debat klasik, ketika Sudjojono dan Agus Djaja mendirikan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) pada tahun 1938 sebagai sebuah kritik terhadap perkembangan lukisan Mooi Indie.

“Mooi Indie disatukan oleh aliran tertentu dalam seni lukis, tapi sebenarnya bergabungnya para seniman dalam Persagi bukan disatukan style of art tertentu tapi karena ideologi yang bergabung karena kesadaran yang sama bahwa kita harus menampilkan realita yang lain yang selama ini disampaikan Mooi Indie,“ bebernya.

Menurut Bonni, Persagi menampilkan realita lain yang ada di kehidupan masyarakat Indonesia yang orang tidak pernah lihat.

“Karena sebagai bangsa yang dijajah, seniman punya cara pandang lain yang juga sama-sama penting dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia,“ ujarnya.

Dua bulan lalu, Bonnie diundang untuk ceramah di Stedelijk Museum di Amsterdam Belanda untuk mempresentasikan tentang propaganda seni dan di saat yang bersamaan ada pameran lukisan Otto Djaja dan Agus Djaja.

“Saya setengah digugat oleh Ucok, Aminudin TH Siregar, siapa bilang Mooi Indie terkesan buruk sedangkan Persagi itu terkesan heroik sehingga lebih tinggi posisinya. Saya bukan bicara seperti itu, karena saya tidak bicara dari segi estetika dan lukisannya. Tapi saya bicara tentang gagasan dari Barat yang kemudian diterima, dieloborasi, dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia,“ paparnya.

Bonnie menegaskan bahwa Persagi itu sangat politis, Mooi Indie juga sebenarnya politis.

“Yang luput dari pandangan orang, Mooi Indie dianggap sebagai sebuah aliran kumpulan pelukis yang hanya melukis yang indah-indah saja dari Hindia Belanda, yang kesannya apolitis. Padahal di dalam lukisan-lukisan Mooi Indie yang sangat indah-indah itu tersembunyi pesan politis yang sama kuatnya karena memilih realita yang ditampilkan dalam karya seni. Itu sebuah tindakan politis,“ urainya.

Persagi menampilkan kehidupan rakyat kecil yang tertindas itu politis, kata Bonnie.

“Dari situ mulailah benturan perdebatan gagasan besar yang terkandung di dalam dua kelompok itu,“ ujarnya.

29 tahun kemudian setelah Persagi, kata Bonnie, seni sebagai salah satu perjuangan politik sangat mempengaruhi sejarah.

“Kita tahu sebagian besar seniman Persagi, setelah pendudukan Jepang, Persagi bubar, dan kemudian membentuk Keimin Bunka Shidoso yang merupakan pusat kebudayaan yang didirikan oleh pemerintah Jepang pada tahun 1943. Untuk memproduksi materi propaganda,“ tegasnya.

Bonnie menyampaikan dari situlah Soekarno berkenalan dengan Affandi, Sudjojono, Dullah, Hendra Gunawan dan para pelukis besar lainnya,  dan dari situ mulailah seni lukis punya pengaruh yang sangat kuat.

“Saya mengistilahkan, seni yang sadar politik sehingga seni mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi orang,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...