Indonesia Komitmen Antidumping dengan Cina

121
Ilustrasi -Dok: CDN
BEIJING – Indonesia menjaga komitmennya mengenai antidumping dengan Cina, agar bisa mendapatkan solusi yang saling menguntungkan antarkedua negara.
“Kami ikuti prosedur ekspor baja kami ke sini,” kata Duta Besar RI untuk Cina, Djauhari Oratmangun, di Beijing, Minggu (5/8/2018).
Pernyataan tersebut menanggapi investigasi Kementerian Perdagangan Cina (Mofcom), atas pengaduan perusahaan setempat terhadap beberapa perusahaan, salah satunya dari Indonesia yang dituduh melakukan dumping.
Shanxi Taigang Stainless Steel Co Ltd sabagai perusahaan dalam negeri Cina, mengajukan permohonan agar kasus tersebut diselidiki.
Perusahaan tersebut menghasilkan produk yang sama dengan perusahaan baja dari Indonesia, Korea Selatan, Jepang, dan Uni Eropa.
Sementara itu, Atase Perdagangan KBRI Beijing, Dandy S Iswara, mengungkapkan kronologi pengaduan tersebut pada 23 Juli 2018.
“Dari Indonesia, ada dua perusahaan yang diadukan melakukan dumping. Kedua perusahaan tersebut sebenarnya juga PMA (penanaman modal asing) dari Cina yang beroperasi di Indonesia,” ujarnya.
Ia menyebutkan, bahwa pada 2015, Indonesia belum mengekspor baja ke Cina. Kemudian pada 2016, nilai ekspor baja Indonesia ke Cina mencapai 14,2 juta dolar AS.
Setahun kemudian, nilai ekspor itu melonjak drastis menjadi 689 juta dolar AS. Bahkan, nilai ekspor baja Indonesia ke Cina tertinggi dibandingkan dengan 19 negara Uni Eropa, ditambah Jepang dan Korea Selatan.
Shanxi Taigang melaporkan dua perusahaan asal Indonesia, tiga dari Korsel, dua dari Jepang, dan tiga dari Uni Eropa, setelah mengetahui daya serap produk untuk dalam negeri Cina terus berkurang.
Selain itu, 29 perusahaan distributor baja dari Uni Eropa turut diinvestigasi oleh Mofcom atas laporan yang sama.
Laman Mofcom sebelumnya menyatakan, bahwa investigasi akan dilakukan 20 hari kerja sejak laporan pengaduan diterima.
Ruang lingkup investigasi dibatasi pada baja batangan dan pelat baja di pasaran Cina, yang berasal dari Indonesia, Korsel, Jepang, dan Uni Eropa.
“Kedua jenis baja tersebut merupakan bahan baku industri baja dan bahan jadi yang banyak digunakan untuk pembuatan kapal, kontainer, kereta api, elektronik, industri perminyakan, petrokimia, dan industri lainnya”, sebut Mofcom. (Ant)
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.