IPB Gelar Seminar Majukan Peternakan Nasional

1.709
Peternakan Kambing, ilustrasi -Dok: CDN
BOGOR – Institut Pertanian Bogor mencari strategi peningkatan kapasitas peternak tradisional, agar mampu ke persaingan global dengan menggelar seminar industri peternakan, menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri.
“Seminar ini memadukan antara ilmu dan teknologi, lalu ilmu tersebut ditransfer ke industri,” kata Dr. Despal, selaku Ketua Pelaksana Internasional Seminar on Animal Industry (ISAI) 2018, di Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/8/2018).
Despa mengatakan, terdapat dua industri peternakan di Indonesia, yakni industri besar dan kecil, yakni peternakan rakyat.
Menurutnya, keberadaan peternakan rakyat membuat industri peternakan di Indonesia unik dari negara lainnya. Keberadaannya sangat kuat, dan jumlahnya sangat banyak, hampir 90 persen.
Untuk industri besar, lanjutnya, sudah cukup bagus dan mampu bersaing dengan negara-negara maju.
“Di Indonesia, kita punya segmen lain dibanding negara lain, yakni peternakan rakyat, hampir 90 persen industi peternakan berasal peternakan rakyat,” katanya.
Untuk ternak unggas, lebih banyak dari komponen industri, sedangkan beef atau daging sapi jumlah komponen peternakan tradisional juga besar. Walau skala kecil, lanjutnya, peternakan rakyat tersebut mampu bertahan hingga saat ini dengan persaingan yang ada.
“Tugas kami, bagaimana membuat mereka mampu bertahan, ketika memasuki globalisasi, meningkatkan taraf hidupnya dan berkontribusi,” katanya.
Perternak rakyat harus disiapkan untuk memasuki pasar global, dengan strategi untuk meningkatkan daya saing mereka, melalui ilmu dan teknologi.
Seminar ini menghadirkan sejumlah pembicara internasional yang menguasai bidang peternakan, disesuaikan dengan isu terkini. Seperti Prof. Wayne Pitchford dari Australia, yang membahas optimalisasi produk domba di kawan tropis, Marcel Ludema dari Belanda yang ahli di bidang ratai pasok peternakan, solusi dan permasalahannya.
Turut hadir pembicara dari Indonesia, Prof. Luki Adullah, yang memaparkan tentang pengembangan pakan hijauan dari Indogofera.
Despa menambahkan, seminar juga membahas berbagai isu terkait masalah peternakan, seperti larangan penggunaan atibiotik pemacu pertumbuhan pada ayam, logistik peternakan, dan rantai pasok.
“Jadi, melalui seminar ini, kita berpikir global mencari solusi untuk permasalahan lokal,” kata Despa.
Dekan Fakultas Peternakan IPB, Mohammad Yamin, menambahkan, seminar internasional ini diharapkan para peneliti, maupun pelaku industri mendapatkan gagasan baru dalam memajukan peternakan di Indonesia dengan segala permasalahan yang ada. (Ant)
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.