Jambu Mete, Komoditas Andalan Buah Lokal di Sikka

Editor: Satmoko Budi Santoso

484

MAUMERE – Komoditi jambu mete yang menjadi salah satu andalan komoditas perkebunan di Kabupaten Sikka selain kakao dan kelapa mengalami kenaikan harga sejak awal bulan Agustus 2018 meski hasil produksi mete mengalami penurunan selama beberapa tahun terakhir.

“Kami menjual di pedagang Maumere seharga Rp20 ribu per kilogram yang ditimbang dengan kulitnya. Harga ini sebelumnya di bulan Juli hanya berkisar antara Rp15 ribu sampai Rp18 ribu per kilogram,” sebut Urbanus Usi, petani mete Desa Nebe, Senin (6/8/2018).

Warga Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka ini, menjelaskan, produksi jambu mete berkurang sebab sebelum pohon jambu mete berbunga harusnya turun hujan sehingga buah mete yang dihasilkan lebih banyak dan besar.

Urbanus Usi petani mete di kampung Wairbou Desa Nebe
Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka. Foto : Ebed de Rosary

“Hujan tidak turun sehingga saat bulan Mei dalam satu pohon buahnya hanya sedikit sekali. Biji mete yang dihasilkan pun lebih kecil sehingga dalam satu pohon hanya menghasilkan 20 kilogram saja,” tuturnya.

Bila hujan maksimal, tambah Usi, dalam satu pohon sejak mulai panen bulan Juli sampai Agustus bisa menghasilkan 100 kilogram mete. Tapi pohon metenya pun yang berumur di atas 5 tahun dan mempunyai banyak ranting sementara yang berumur di bawah 5 tahun hasilnya sedikit.

Carolus Winfridus Keupung, Direktur Wahana Tani Mandiri menjelaskan, petani mete di Kabupaten Sikka maupun beberapa kabupaten tetangga seperti Flores Timur dan Ende mulai melakukan penanaman mete secara besar-besaran sejak tahun 1990-an.

“Petani mulai tanam mete sejak tahun 1980-an dan mulai besar-besaran melakukan penananam sejak tahun 1990-an. Harga mete mulai meningkat. Umur tanaman mete saat berbuah biasanya 3 sampai 5 tahun,” tuturnya.

Saat awal 1990-an, tambah Carolus, bibit mete yang ditanam biasanya bibit unggul yang didatangkan dari Sulawesi dan Jawa Tengah yang biasanya dibagikan oleh Dinas Pertanian sehingga buah mete yang dihasilkan pun lebih besar dibandingkan bibit mete lokal.

“Produk mete mulai menarik minat petani ketika para pengusaha dari India mulai berdatangan ke Flores dan membeli hasil produksi mete petani. Apalagi tanaman mete cocok dikembangkan di lahan tandus dan berbatu sehingga petani mulai melakukan penanaman besar-besaran,”
terangnya.

Namun, biasanya, tambah Carolus, petani melakukan penanaman mete dalam lahan seluas sehektar sebanyak 300 pohon dengan jarak yang terlalu dekat sekitar 5 sampai 7 meter. Kalau ditanam dengan jarak sekitar 10 sampai 15 meter, bisa ditanam sekitar 100 pohon.

“Pola penanaman harus penjarangan sehingga produksi mete pun bisa meningkat. Dalam setahun panen bisa mencapai satu ton per hektar. Pemangkasan pun harus rutin dilakukan setelah selesai panen dan kebunnya harus selalu dibersihkan agar hasil produksi terus
meningkat,” pesannya.

Namun, pemangkasan dan perawatan biasanya tidak dilakukan petani, kritik Carolus, dan rata-rata hanya membersihkan kebun metenya saat mete mulai berbunga. Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat produksi mete menurun. Sebab saat tanaman mete berbunga, hujan turun sehingga banyak bunga yang jatuh dan buah mete berwarna hitam.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.