Kadin Balikpapan Dorong Efisiensi Impor dan Tingkatkan Ekspor

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

185
Ketua Kadin Balikpapan Yaser Arafat. Foto: Ferry Cahyanti

BALIKPAPAN — Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Balikpapan mendorong pelaku usaha di daerah, khususnya Kallimantan Timur untuk mencari cara meningkatkan perekonomian daerah. Menyusul adanya perkiraan melemahnya ekonomi di 2019 mendatang akibat tekanan ekonomi global.

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Balikpapan, Yasser Arafat mengungkapkan, tekanan ekonomi global yang dirasakan saat ini juga berdampak pada daerah. Yang paling merasakan adalah pelaku usaha sektor industri.

“Tambang batu bara memang lagi bagus, tetapi pengusaha juga berhati-hati karena untuk memproduksi tambang membutuhkan sparepart serta alat berat yang juga impor,” katanya di Balikpapan, Kamis (2/8/2018).

Yasser menjelaskan, yang dilakukan agar ekonomi daerah tetap baik harus menekan atau mengefisiensi impor dan mendorong produk daerah untuk melakukan ekspor ke luar negeri.

“Di tengah gejolak volatilitas harga saham yang agak simpang siur harus ada efisiensi biaya dengan meningkatkan produktivitas kinerja agar ketemu acuan profitnya,” jelas Yasser.

Dia optimis apabila upaya itu dilakukan maka ekonomi daerah tetap bergerak sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Dampak dari ekonomi global tidak akan begitu dirasakan, karena belanja daerah tetap berjalan dan pelaku usaha mampu menekan pengeluaran.

“Saya yakin kalau dapat menyiasatinya maka akan meningkatkan Pendapat Asli Daerah sehingga bisa mengurangi dampak dari gejolak perekonomian global,” imbuhnya.

Kondisi yang terjadi saat ini, Yasser menyebutkan, harga kelapa sawit juga mengalami penurunan. Pelaku usaha diminta juga harus mencari cara menciptakan produk dari kelapa sawit yang bisa diekspor.

“Termasuk juga di sawit yang sekarang harganya rendah sekali. Harus disiasati. Bagaimana kita merealisasikan industri biodiesel yang bisa mendorong terciptanya produk yang bisa diekspor,” timpal Yasser.

Yasser menambahkan, dengan menggunakan biodiesel, pengeluaran industri jauh lebih murah, karena per liternya berkisar Rp4.500.

“Itu yang seharusnya didorong, tidak menggunakan bahan bakar dari fosil terus,” tambahnya.

Baca Juga
Lihat juga...