Kak Kusumo Perjuangkan Hari Dongeng Nasional

Editor: Koko Triarko

1.694
Kusumo Priyono, ‘Raja Dongeng Indonesia’ -Foto Akhmad Sekhu
JAKARTA – Dongeng merupakan seni tutur yang disampaikan secara turun-temurun sejak dari nenek moyang. Fungsinya untuk menyampaikan ajaran moral (mendidik), dan juga menghibur. Sayangnya, dongeng mulai ditinggalkan masyarakat, seiring pesatnya perkembangan pada era globalisasi.
Berangkat dari keprihatinan itu, Kak Kusumo sekarang sedang memperjuangkan adanya Hari Dongeng Nasional, agar dongeng kembali ke kalangan anak-anak. Dengan dongeng pada anak, sehingga anak punya rasa keingintahuan yang sangat besar.
“Sekarang ini saya melihat perkembangan dongeng sudah luar biasa, dan para pendongeng sudah sangat banyak seperti jamur, murid-murid saya sudah tampil dan mengajar dimana-mana, ada yang jadi guru PAUD, TK, hingga SD,“ kata Kusumo Priyono, ‘Raja Dongeng Indonesia’, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (29/8/2018).
Sebagai ‘Raja Dongeng Indonesia’’, Kak Kusumo, begitu biasa ia dipanggil oleh anak-anak, senang dan bangga, karena merasa perjuangannya tidak sia-sia, dan ia sekarang sedang memperjuangkan adanya Hari Dongeng Nasional setiap tanggal 28 November.
“Kita sudah datang ke beberapa menteri untuk minta dukungan supaya ada Hari Dongeng Nasional, yang nanti dicanangkan presiden,“ terangnya.
Pemilihan tanggal 28 November sebagai Hari Dongeng Nasional, karena tanggal tersebut adalah hari lahirnya Drs. Suyadi, yang terkenal sebagai pencipta ‘Si Unyil’. “Agar ada ikon dongeng Indonesia, “ ungkapnya.
Kak Kusumo membeberkan, dulu Drs. Suyadi dengan Unyil-nya, Kak Seto dengan Komo-nya dan dirinya dengan Gasa-nya (Garuda Perkasa). “Tokoh idola anak-anak yang dekat dengan masyarakat,“ ujarnya.
Namun, katanya, anak-anak sekarang sudah mulai kurang suka dengan dongeng. Generasi sekarang lebih suka pada google dan youtube.
“Hal itu sudah merusak seni tutur dari dongeng itu sendiri, sehingga pengembangan jiwa anak sekarang lebih pasif,“ tuturnya.
Kak Kusumo menyampaikan, bahwa dalam dongeng ada imajinasi, sehingga anak-anak bisa aktif membayangkan tokoh dengan karakternya.
“Dalam dongeng, ada pesan moral dan budi pekerti, serta nasehat tentang sikap kepahlawanan, jiwa satria, kejujuran, dan etos kerja keras,“ ungkapnya.
Bagi Kak Kusumo, mendongeng adalah mendidik atau mengajari sesuatu tanpa kesan menggurui. “Mendongeng itu seni tutur yang terlama dan sangat dekat dengan anak-anak,“ simpulnya.
Dalam dongeng, sambungnya, ada semacam hiburan yang sekarang sudah mulai tergantikan HP. Namun, Kak Kusumo percaya, dongeng akan kembali populer lagi di kalangan anal-anak, karena pendongeng sekarang sudah tersebar di mana-mana, bahkan sudah sampai ke perbatasan.
“Mudah-mudahan dongeng tidak sekadar dongeng, tapi dongeng menjadi kenyataan,“ pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...