Kekeringan, Petani Gunakan Padi untuk Pakan Ternak

Editor: Koko Triarko

1.514
LAMPUNG – Ratusan hektare lahan pertanian padi di wilayah Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, antara lain di Desa Bangungrejo, Sumbernadi, Tamansari, Ruguk, Sumur dan sejumlah desa lain di pesisir Timur Lampung, mengalami kekeringan.
Suwarji (45), warga Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, mengatakan, kekeringan telah melanda sejak tiga bulan terakhir.
Suwarji yang juga Ketua Kelompok Tani (Poktan) Subur Makmur 3, menyebut saat masa tanam ketiga (MT3), hujan masih ada. Pasokan air hujan dipergunakan untuk mengairi lahan sawah, hingga padi memasuki usia tiga pekan. Namun musim kemarau yang tidak terhindarkan kali ini, membuat warga tidak bisa meneruskan menggarap lahan.
Suwarji, Ketua Poktan Subur Makmur 3 di dekat bendungan penangkis air laut yang rusak, sehingga air tidak bisa dimanfaatkan oleh petani [Foto: Henk Widi]
Menurut Suwarji, lahan seluas 500 hektare di wilayah Bangunrejo itu merupakan lahan sawah tadah hujan, yang mengandalkan masa tanam di musim rendengan atau musim peralihan kemarau ke musim penghujan.
“Bagi pemilik modal yang bisa membuat sumur bor, pengairan bisa dilakukan dengan sistem pompanisasi, namun karena  sebagian petani tidak memiliki fasilitas tersebut, dipastikan petani gagal panen,” terang Suwarji, saat ditemui Cendana News, Sabtu (11/8/2018).
Suwarji juga mengatakan, keberadaan bendungan penangkis air asin dari air laut pesisir Timur, sudah rusak, sehingga berimbas air pasang masuk ke aliran sungai Lebung Buaya, dan membuat warga tidak bisa memanfaatkan air sungai itu karena tercampur air laut. Kadar garam yang tinggi tidak bisa digunakan untuk pengairan lahan sawah.
Menurutnya, bendungan penangkis air laut di Sungai Lebung Buaya, selama ini cukup membantu saat air pasang. Tujuh kelompok tani dengan rata-rata per kelompok menggarap 20 hingga 20 hektare sawah, mengandalkan tanggul penangkis tersebut.
Sebagian kelompok dari total 20 kelompok tani di wilayah tersebut yang berada di seberang tanggul penangkis, bahkan hingga kini mengalami kekeringan yang cukup parah. Sebagian bibit padi, layu dan mati.
“Bendungan penangkis air laut sudah rusak, sehingga air sungai tidak terpakai karena payau untuk penanaman padi,” terang Suwarji.
Selama ini, ia menyebut dari 20 kelompok tani yang ada, masih memiliki satu unit sumur bor bantuan dari instansi terkait. Idealnya, satu sumur bor bisa digunakan untuk pengairan lahan seluas 10 hektare, sehingga petani sebagian memilih membuat sumur bor secara mandiri, dengan biaya Rp7 juta per titik, bahkan lebih mahal sesuai dengan kedalaman sumur bor.
Dampak kekeringan juga dialami Sumiran (30), warga Bangunrejo yang memiliki lahan seluas dua hektare dengan padi varietas Ciherang. Ia mengatakan, padi tersebut sebagian sudah mengalami kekeringan, sehingga dirinya terpaksa membeli air dari pemilik sumur bor di wilayah tersebut.
Padi usia 60 hari yang ditanamnya masih bisa diselamatkan dengan target masa panen 120 hari. Dengan mengeluarkan biaya lebih banyak untuk operasional, Sumiran berharap masih bisa panen.
“Aliran sungai Lebung Buaya memang mengalir lancar, tapi kadar air laut sangat tinggi akibat rusaknya bendungan penangkis air laut,” terang Sumiran.
Menurut Sumiran, sungai yang berjarak satu kilometer dari laut timur Lamsel tersebut, sebetulnya bisa digunakan untuk mengairi sawah, jika tidak tercampur air laut.
Usulan normalisasi bendungan yang dibangun sejak 2010 bahkan telah dilakukan, termasuk usulan titik sumur bor baru, namun hingga kini belum terealisasi.
Petani lain yang sudah tidak bisa menyelamatkan lahan sawahnya, Sukirno (40), mengatakan, lahan padi seluas dua hektare dengan sisa sebanyak dua petak benih yang semula hendak dijadikan cadangan untuk penyulaman, ikut kekeringan. Ia memastikan, jika tidak turun hujan dalam dua pekan ke depan, tanaman padi miliknya akan mati kekeringan.
Sukirno pun terpaksa menggunakan benih cadangan untuk pakan ternak sapi miliknya. Bibit cadangan sebanyak lima kampil, sedianya akan dipergunakan untuk pengganti tanaman yang mati. Namun, akibat kemarau, ratusan hektare lahan sawah harus mengalami kekeringan, dan sebagian dimanfaatkan petani untuk pakan ternak, daripada dibiarkan layu kekeringan.
“Saya sudah mendapatkan dua karung besar benih untuk pakan ternak, sebagian benih bahkan sudah layu dan dipastikan gagal panen,” terang Sukirno.
Ia berharap, pihak terkait bisa memberikan bantuan, terutama untuk pasokan kebutuhan air dari sumur bor. Selain itu, normalisasi Sungai Lebung Buaya mendesak dilakukan, agar bendungan penangkis bisa dimanfaatkan.
Saat bendungan penangkis normal, air sungai yang tawar dipastikan tidak tercampur air laut, sehigga dapay digunakan oleh petani.
Baca Juga
Lihat juga...