Kelestarian Way Asahan, Pasoki Lahan Pertanian di Penengahan

Editor: Mahadeva WS

1.413

LAMPUNG – Sungai Way Asahan yang mengalir puluhan kilometer, mulai dari muara anak sungai way Muloh dan menginduk ke sungai Way Pisang masih dilestarikan warga. Kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dijaga bahkan membuat sebagian pohon yang ada di DAS dipertahankan hingga puluhan tahun sebagai penahan bantaran sungai.

Ngatijo (40), salah satu warga di DAS Way Asahan menyebut, hulu sungai Way Asahan tetap terjaga sumber airnya. Kondisi tersebut berkat pelestarian pohon di kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa. Sempat mengalami penggundulan dan kebakaran di 1990, kesadaran warga untuk melestarikan saat ini semakin meningkat.

Upaya pelestarian dilakukan karena semakin berkurangnya debit air, yang berdampak pada jumlah mata air seperti mata air di Way Muloh dan Way Asahan kering. “Setelah muncul kekeringan dan kesulitan sumber air di sejumlah sungai termasuk sungai utama Way Asahan warga mulai melakukan reboisasi, hasilnya DAS Way Asahan menghijau serta aliran sungai kembali melimpah,” terang Ngatijo, petani padi di Desa Ruang Tengah, Penengahan kepada Cendana News, Rabu (1/8/2018).

Ngatijo menyebut, kini Dirinya bersama ribuan petani di DAS Way Asahan dapat memanfaatkan air irigasi yang dibangun sejak 1970 oleh Presiden RI Kedua, HM.Soeharto tersebut. Bendungan pada era Presiden Soeharto tersebut, terintegrasi dengan kanal-kanal irigasi yang memiliki panjang puluhan kilometer, mengalir ke ribuan hektar lahan pertanian.

Berkat pembangunan bendungan pada masa Presiden Soeharto, dan upaya pelestarian lingkungan DAS Way Asahan, petani dan warga kini tidak pernah kekurangan air meski kemarau melanda. Selain untuk pengairan lahan pertanian, air irigasi juga dipergunakan untuk budidaya ikan air tawar seperti ikan nila, gurami, emas,  lele dan patin.

Ranik (40), salah satu petani penanam padi di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut, pasokan air yang lancar tidak lepas dari pelestarian DAS Way Asahan. Meski sebagian lahan sawah kering, warga tetap bisa menggarap lahan dengan menggunakan mesin pompa untuk mengalirkan air.  “Jika area sawah lebih rendah dari sungai bisa mengandalkan aliran air melalui kanal tapi kami yang sawahnya lebih tinggi terpaksa menyedot air,” ujar Ranik.

Suhardi salah satu petani terpaksa menyedot air di lahan sawah yang jauh dari sungai Way Asahan meski sebagian lahan sawahnya bisa dialiri dari irigasi Way Asahan [Foto: Henk Widi]
Kendati demikian, Ranik menyebut, debit air Sungai Way Asahan masih tetap bisa dipergunakan untuk proses pengairan lahan pertanian. Dia berharap, warga di wilayah Gunung Rajabasa tetap mempertahankan kelestarian lingkungan DAS Way Asahan.

Keberadaan Sungai Way Asahan yang lestari untuk sumber air juga dirasakan Suhardi (50). Anggota kelompok tani Sejahtera III dan pemilik dua lahan sawah seluas masing-masing dua hektare tersebut, sangat mensyukuri keberadaan sungai Way Asahan. Satu lahan sawah miliknya saat ini bisa dimanfaatkan karena keberadaan aliran sungai Way Asahan. “Sungai Way Asahan yang tetap lestari dampaknya tentu sangat terasa saat kemarau,warga masih bisa bertani dan memanfaatkan air untuk sejumlah keperluan,” paparnya.

Keberadaan Sungai Way Asahan diakui Suhardi sangat terasa saat musim kemarau. Sebagian warga memanfaatkan air sungai dengan mengambil menggunakan jeriken. Air dimanfaatkan untuk menyiram tanaman sayuran seperti sawi, kacang dan cabai merah. Sebagian dimanfaatkan warga yang sumurnya mengering untuk air bersih dengan cara mengendapkan terlebih dahulu.

Baca Juga
Lihat juga...