Kemarau, Alat Penampungan Air Diburu Warga Lamsel

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.007
Abukori penjual alat penampungan air di Desa Hatta Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]

LAMPUNG — Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lampung Selatan berimbas sulitnya mendapatkan air bersih. Bahkan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Jasa cabang Bakauheni juga mengalami penurunan debit dari sumber mata air ke bak penampungan (reservoir).

Bambang Erwinsyah, Kepala Cabang PDAM Tirta Jasa Bakauheni menyebutkan, debit air normal semula 25 liter turun menjadi 10 liter per detik. Dampak kekeringan juga membuat sistem pembagian air ke pelanggan dilakukan bergilir

 

“Bahkan debit yang menyusut membuat masyarakat secara mandiri membeli kepada penjual air keliling dari Kalianda,” terang Bambang Erwinsyah saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (3/8/2018).

Dampak kemarau membuat warga melakukan pengambilan langsung ke mata air. Seperti halnya di Desa Hatta Kecamatan Bakauheni, sebagian warga bahkan mengambil dengan menggunakan jeriken ke mata air di Dusun Penegolan dan Sidoluhur Kecamatan Ketapang.

Bambang Erwinsyah memperlihatkan bak penampungan air yang dialirkan melalui pipa di PDAM Tirta Jasa yang mulai mengalami penurunan debit saat kemarau [Foto: Henk Widi]
Kondisi tersebut juga berdampak pada kenaikan permintaan alat penampung air. Abukori (50) salah satu pedagang menyebutkan, permintaan ember, jeriken, blong atau drum plastik, bekas drum cat, galon serta tandon air meningkat selama kemarau.

“Pembeli berbagai alat penampungan mayoritas dari wilayah kecamatan Ketapang, Bakauheni, Penengahan di daerah yang sulit air,” papar Abukori.

Disebutkan, biasanya penjualan hanya 50 unit, saat musim kemarau bisa mencapai 100 ember. Jeriken semula hanya mencapai 40 meningkat menjadi 100 unit.

Jenis ember berbagai ukuran dijual mulai harga Rp5 ribu hingga Rp15 ribu. Jeriken berbagai ukuran dijual mulai Rp100 ribu hingga Rp150 ribu, blong seharga Rp220 ribu hingga Rp300 ribu dan tandon air berisi 1.500 liter dijual mulai Rp1 juta hingga Rp2 juta.

“Jeriken bekas penampungan gula serta ember dari bekas wadah cat masih bisa dijual,” beber Abukori.

Ida (30) salah satu ibu rumah tangga asal Pegantungan Bakauheni menyebut membeli tiga jeriken berukuran 20 liter. Jeriken tersebut dipergunakan untuk mengambil air yang kemudian ditampung di bak mandi dan tandon air selama musim kemarau.

Sulitnya akses air bersih dari sumur dalam diakuinya dampak kemarau yang mengakibatkan air sumur kering. Ia bahkan harus mengambil air dari sumber yang berjarak ratusan meter dari rumah.

“Sebagian warga lain bahkan harus menempuh jarak satu kilometer menggunakan kendaraan roda dua untuk mendapatkan air bersih kebutuhan sehari hari,” imbuhnya.

Baca Juga
Lihat juga...