Kemarau, Alternatif Manfaatkan Sungai Way Andeng

Editor: Satmoko Budi Santoso

498

LAMPUNG – Penurunan debit air bersih di penampungan milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Jasa Cabang Bakauheni mulai terlihat saat kemarau.

Bambang Erwinsyah, selaku Kepala Cabang PDAM Tirta Jasa cabang Bakauheni, menyebut, pihaknya sudah mengusulkan sejumlah opsi untuk menambah debit air ke bak penampungan yang ada di Bakauheni.

Usulan terkait penambahan sumber air diakuinya dengan membuat sumur bor dan menggunakan aliran Sungai Way Andeng yang mengalir di Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, dan Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa.

Saat ini, ia memastikan opsi yang sudah disetujui dalam usulan kepada pemerintah daerah Lamsel melalui DPRD Lamsel di antaranya pembuatan sumur bor.

Bambang Erwinsyah Kepala PDAM Tirta Jasa Cabang Bakauheni [Foto: Henk Widi]
Sumur bor tersebut, menurut Bambang Erwinsyah, akan dibangun dalam waktu dekat di area kantor cabang PDAM Bakauheni. Pengeboran di dekat kantor PDAM cabang Bakauheni untuk efisiensi penggunaan pipa, termasuk mudahnya pemeliharaan dibandingkan di lokasi lain.

Opsi kedua, penggunaan air Sungai Way Andeng, sudah dilakukan uji coba. Meski masih ada kendala terkait aset bangunan bendungan Way Andeng yang berada di bawah kepemilikan provinsi.

Ke depan, ia menyebut, akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk pemanfaatan Sungai Way Andeng yang mengalir dari Gunung Rajabasa tersebut dengan potensi debit air yang besar.

“Selama ini kita masih mengandalkan mata air dari Gunung Rajabasa di wilayah Totoharjo dengan saluran pipa mencapai lebih dari lima kilometer. Bisa memenuhi kebutuhan ratusan warga Bakauheni terutama saat kemarau,” terang Bambang Erwinsyah, Kepala Cabang PDAM Tirta Jasa Cabang Bakauheni, saat dikonfirmasi Cendana News, Senin (6/8/2018).

Penurunan debit air di PDAM Tirta Jasa terjadi saat kemarau biasanya 20-25 liter perdetik hanya mencapai 15 bahkan hanya 10 liter detik [Foto: Henk Widi]
Bambang Erwinsyah menyebut, kendala anggaran menjadi salah satu persoalan pemanfaatan Way Andeng untuk kebutuhan air untuk PDAM. Meski demikian, ia berharap, agar pemerintah bisa mengalokasikan anggaran untuk fasilitas kebutuhan air bersih warga tersebut.

Saat kemarau, akibat sumber mata air masih berasal dari satu lokasi, kekurangan kebutuhan air bersih terlihat dari debit air yang menurun.

Bambang Erwinsyah menyebut, pada musim penghujan sumber mata air dari Gunung Rajabasa bisa mencapai 20 hingga maksimal 25 liter per detik. Saat musim kemarau tiba, debit air bersih menurun menjadi 15 bahkan mencapai 10 liter per detik.

Bak penampungan dengan kapasitas 1500 liter dan bak lain berkapasitas 2500 liter bahkan harus diisi hingga penuh agar pelanggan bisa teraliri air bersih.

“Sistem penggiliran air bersih kepada pelanggan, sudah dilakukan semenjak kemarau tiba,” beber Bambang Erwinsyah.

Dampak menurunnya debit air bersih untuk kebutuhan masyarakat, Bambang Erwinsyah menyebut, PDAM Tirta Jasa terpaksa melakukan pembagian air bersih.

Pembagian air bersih tersebut dilakukan secara bergilir di seluruh konsumen pengguna air bersih yang menyalurkan air dari bak penampungan. Kondisi tersebut sudah terjadi selama bertahun-tahun terutama saat musim kemarau melanda di wilayah Bakauheni dan sekitarnya.

“Kita lakukan suplai air bersih secara bergilir dengan tujuan agar semua pelanggan kebagian air. Wilayah Muara Bakau pada pagi hari hingga siang dan Muara Piluk sekitarnya siang hingga sore,” beber Bambang.

Pembagian air tersebut sudah disosialisasikan ke masyarakat pelanggan air bersih agar bisa memanfaatkan jadwal. Memanfaatkan jadwal dilakukan dengan menampung air bersih pada jam pembagian air melalui pipa khusus warga sehingga kebutuhan air bersih terpenuhi.

Sistem pembagian jadwal pengaliran air dari pusat reservoir serta bak penampungan PDAM Tirta Jasa sekaligus Saluran Hidrant Umum (SHU) dilakukan agar semua pelanggan kebagian air secara merata.

Hingga akhir tahun 2017 Bambang Erwinsyah memastikan, pelanggan air bersih PDAM Tirta Jasa Cabang Bakauheni mencapai 747 pelanggan. Sebagian besar pelanggan merupakan masyarakat umum, sebagian instansi pemerintah serta perusahaan swasta maupun PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP). Untuk memasok kebutuhan air bersih di dermaga 1 dan 2 Pelabuhan Bakauheni.

Pada tahun 2018 usulan pemasangan sambungan baru sebanyak 125 pelanggan belum bisa direalisasikan akibat debit air yang belum normal.

Keberadaan Sungai Way Andeng di perbatasan Kecamatan Totoharjo dan Rajabasa juga diakui oleh Edi (30) salah petani penanam timun. Ia menyebut, sebagian warga yang semula menggarap lahan sawah saat ini mulai beralih menanam timun dan berbagai sayuran holtikultura.

Peralihan sistem pertanian tersebut, diakuinya, membuat air sungai yang melimpah bisa digunakan untuk sumber air bersih.

“Air Sungai Way Andeng memang mengalir sepanjang musim bahkan kemarau masih lancar sehingga bisa digunakan untuk lahan pertanian dan air bersih,” beber Edi.

Edi menyebut, pemanfaatan Sungai Way Andeng pernah disurvei oleh pihak PDAM. Meski demikian, Sungai Way Andeng justru sudah dimanfaatkan untuk pembuatan bendungan oleh Dinas Pertanian Provinsi Lampung.

Air sungai yang melimpah tersebut, selain bisa dipergunakan untuk pengairan juga bisa untuk air bersih dengan catatan masyarakat petani masih bisa memanfaatkan air Sungai Way Andeng.

Baca Juga
Lihat juga...