Kemarau, Batal Tanam Padi, Beralih Cabai Merah Keriting

Editor: Satmoko Budi Santoso

175

LAMPUNG – Sejumlah petani komoditas di Kabupaten Lampung Selatan mulai terdampak musim kemarau di wilayah tersebut.

Nyoman (40) warga Desa Sumbernadi, Kecamatan Ketapang, penanam cabai merah keriting menyebut, kemarau berdampak tanaman cabai keriting miliknya kekurangan air. Sebagai upaya memenuhi kebutuhan penyiraman, Nyoman mengaku memanfaatkan air dari sumur bor yang dibuat dengan kedalaman 100 meter di lahan sawah miliknya.

Berkurangnya debit Sungai Kaliasin yang mengalir di wilayah tersebut, menurut Nyoman, berimbas ia tidak bisa menggunakan air sungai. Sebagian petani penanam padi yang sudah menyiapkan bibit usia 20 hari, bahkan terpaksa membatalkan penanaman akibat kemarau.

Nyoman (kanan) memeriksa tanaman cabai merah keriting yang mulai memasuki masa panen tahap pertama sebagai pengganti batalnya proses penanaman padi akibat kemarau [Foto: Henk Widi]
Beruntung, Nyoman mempergunakan sebagian lahan untuk penanaman cabai merah keriting yang bisa dipanen saat usia 70 hari.

Lahan sawah yang sudah diolah dengan bibit yang sudah disemai seluas setengah hektar  bermodalkan tiga juta rupiah bahkan terpaksa dibiarkan terbengkelai. Pasokan air yang berkurang menjadi keputusan baginya membatalkan menanam padi.

Sebagian petani yang berada di dekat aliran Sungai Kaliasin bahkan masih memanfaatkan air sungai tersisa dengan menggunakan mesin sedot air.

“Saya harus korbankan tidak jadi menanam padi dan memanfaatkan lahan setengah hektar untuk menanam cabai merah keriting dan sudah memasuki masa panen tahap pertama,” terang Nyoman, salah satu penanam cabai merah keriting di Desa Sumbernadi, Kecamatan Ketapang, saat ditemui Cendana News, Rabu (8/8/2018).

Nyoman menyebut, meski telah kehilangan modal sekitar tiga juta rupiah, namun ia masih bisa meneruskan budidaya cabai merah keriting. Bermodalkan sekitar lima juta untuk bibit, mulsa dan perawatan pada masa panen perdana, ia bisa memperoleh hasil Rp6 juta dengan harga per kilogram cabai Rp30 ribu.

Sumur bor yang dimanfaatkan untuk menanam cabai merah keriting [Foto: Henk Widi]
Hasil tersebut, akan bertambah pada masa tanam berikutnya yang diprediksi masih akan bisa dipanen beberapa kali.

Sebanyak 1500 batang tanaman cabai tersebut, diakuinya ditanam bersamaan dengan musim kemarau sehingga cukup menguntungkan. Keputusan menanam cabai merah keriting, diakui Nyoman, setidaknya telah menyelamatkannya dari kerugian lebih besar jika ia memanfaatkan lahan untuk menanam padi.

Kerugian menanam padi akibat pasokan air yang berkurang bisa ditutupi dengan budidaya cabai merah dengan target panen total mencapai 2 ton.

“Sebagian petani lain yang sudah menanam padi bahkan merelakan lahannya kering meski sudah ditanami bibit karena tidak bisa diselamatkan,” beber Nyoman.

Datangnya musim kemarau yang berdampak berkurangnya debit air, disebut Nyoman, membuat dirinya harus menyiasati proses penyiraman. Sistem penyiraman dilakukan dengan jadwal dua hari sekali bersamaan dengan pemberian pupuk.

Pemberian pupuk sistem kocor yang dilarutkan dalam air untuk efisiensi penggunaan air dan tenaga kerja. Hal tersebut dilakukan karena air untuk penyiraman memanfaatkan sumur bor yang dibuat secara mandiri dengan biaya sekitar Rp10 juta.

Keputusan mengalahkan proses penanaman padi dan dialihkan ke penanaman cabai merah juga dilakukan Wayan (30). Ia menyebut, di sebagian lahan yang masih bisa ditanami cabai merah dirinya menanam sebanyak 1000 batang.

Tanaman cabai merah disiram dengan menggunakan fasilitas belik atau sumur gali di tengah sawah. Sumur tersebut dipastikan tidak cukup untuk menanam padi sehingga dialihkan untuk cabai merah.

“Sama seperti petani lain saya justru sudah menanam padi, namun dipastikan gagal panen karena sudah kering tidak ada pasokan air,” beber Wayan.

Pada panen tahap pertama, ia mengaku, memperoleh sekitar 100 kilogram dengan harga Rp30 ribu dirinya mendapat Rp3 juta. Pada panen berikutnya, ia menyebut, akan dilakukan jelang hari raya Idul Adha sehingga kebutuhan akan cabai merah meningkat.

Sebagian warga Kecamatan Ketapang memilih menanam bawang merah dampak kemarau [Foto: Henk Widi]
Meski mengaku sudah mengalami kerugian akibat gagalnya tanaman padi miliknya, ia memastikan panen cabai merah bisa menutupi kerugian selama musim kemarau.

Selain sebagian memutuskan menanam cabai merah, sebagian petani di wilayah Ketapang juga mulai beralih menanam bawang. Kebutuhan akan air yang lebih minim dibandingkan tanaman padi membuat petani memilih menanam bawang merah.

Bawang merah yang bisa dipanen usia 60 hari sebagian ditanam warga Kecamatan Ketapang di Desa Ruguk, Desa Sumur dan sebagian di Pematang Pasir.

Baca Juga
Lihat juga...