Kemarau, Jasa Pembuatan Sumur Bor Banjir Order

Editor: Satmoko Budi Santoso

1.460

LAMPUNG – Permintaan pembuatan fasilitas sumur bor mulai mengalami peningkatan sejak dua bulan terakhir dampak tibanya musim kemarau.

Dody (40), salah satu warga Desa Sukatani, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, mengaku, memutuskan membuat sumur bor pascasumur gali miliknya mengalami penurunan debit air.

Sumur yang sudah digunakan beberapa tahun tersebut sudah tidak bisa dipompa menggunakan mesin sehingga ia terpaksa membeli air galon untuk minum dan air tangki untuk mandi.

Sumur dengan kedalaman sebelas meter di belakang rumah, disebutnya, bahkan sudah tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Air sumur hanya bisa disedot tiga hari sekali untuk mengisi tower air dengan kapasitas 1500 liter.

Sebagian warga terpaksa memanfaatkan air bersih dari embung untuk kebutuhan sehari-hari [Foto: Henk Widi]
Setelah berkonsultasi dengan tetangga yang terlebih dahulu membuat sumur bor, Dody akhirnya menggunakan jasa penggalian sumur bor. Lahan di depan rumah menjadi lokasi pembuatan sumur bor yang berdekatan dengan tower air.

“Sumur bor harus saya buat karena wilayah kami berada di dataran rendah. Sebagian lahan sudah mengalami kekeringan sulit untuk mendapatkan air dengan sumur,” terang Dody, salah satu warga Desa Sukatani, Kecamatan Kalianda, saat ditemui Cendana News, Rabu (1/8/2018).

Hingga hari kedua proses pembuatan sumur bor, ia menyebut, kedalaman sudah mencapai 20 meter. Meski belum mendapatkan air bersih yang diinginkan. Di wilayah tersebut, menurut Dody, rata-rata sumur bor baru akan memperoleh air bersih setelah kedalaman sekitar 50 meter bahkan sebagian mencapai 60 meter.

Sebagai sumber pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari ia bahkan mengeluarkan biaya ekstra hingga ratusan ribu per tiga hari untuk membeli air dari penjual air keliling menggunakan tangki.

Sesuai dengan kalkulasi yang sudah diperhitungkan selama kemarau, dirinya bisa mengeluarkan biaya hingga lebih dari Rp5 juta untuk kebutuhan air. Sementara untuk pembuatan sumur, dirinya cukup hanya mengeluarkan biaya Rp6 juta hingga Rp7 juta menyesuaikan kedalaman sumur bor.

Efisiensi pembuatan sumur bor dengan kalkulasi biaya yang dikeluarkan, disebutnya, lebih bisa dihemat dan sumur bisa dipergunakan dalam jangka panjang.

Proses pemasangan pipa untuk sumur bor yang dibuat sebagai sumber air bersih bagi warga selama musim kemarau [Foto: Henk Widi]
Sugeng (40) penyedia jasa pembuatan sumur bor mengaku, order pembuatan sumur bor mulai meningkat sejak awal tahun 2018. Bersama sekitar empat tenaga kerja proses pengeboran sumur, dirinya sudah melakukan pekerjaan tersebut sejak dua belas tahun silam.

Order pembuatan sumur bor, diakuinya, berasal dari warga di wilayah Provinsi Lampung, Provinsi Jambi, Bangka Belitung hingga Sumatera Selatan.

“Selama awal tahun ini, rata-rata per bulan saya bisa mengerjakan sebanyak puluhan titik menyesuaikan tingkat kesulitan lokasi pengeboran,” beber Sugeng.

Lokasi pengeboran sumur dengan kontur padas minim batu keras, membuat proses pengeboran bisa dilakukan maksimal tiga hari. Meski demikian, terkadang dirinya menemukan lokasi yang sulit berimbas mata bor patah.

Pembuatan satu titik sumur bor bahkan bisa memakan waktu dua pekan. Sejak awal Juli, ia menyebut, sudah membuat sumur bor di sekitar dua puluh titik di tiga kecamatan di Lampung Selatan. Terakhir di Kecamatan Kalianda.

Tingginya permintaan pembuatan sumur bor akhir-akhir ini, membuat Sugeng harus menolak memperhitungkan jarak. Sejumlah lokasi yang tidak terjangkau bahkan dialihkan ke pemilik usaha pembuatan sumur bor lain.

Ia menyebut, sengaja memilih wilayah dataran rendah yang minim mengandung batuan keras sehingga proses pembuatan sumur bor bisa berlangsung cepat. Biaya pembuatan sumur bor setiap titik, diakui Sugeng, bervariasi sesuai kondisi lokasi.

Saat ini, Sugeng menyebut, khusus untuk biaya per titik untuk pengeboran, ia mematok biaya sebesar Rp3,5 juta. Ditambah fasilitas berupa pipa PVC diameter 1 inchi, serta peralatan lain dengan kualitas yang bagus, pemilik bisa mengeluarkan biaya hingga Rp7,5 juta bahkan mencapai Rp8 juta. Termasuk jasa pengeboran.

Biaya tersebut, diakui Sugeng, terbilang murah karena di wilayah lain bisa mencapai Rp15 juta dengan kedalaman dan tingkat kesulitan pengeboran yang tinggi.

“Biaya menjadi mahal saat mata bor kami patah. Harus dibebankan ke pemilik lokasi. Selain itu peralatan pipa hingga air bisa dialirkan mempengaruhi besaran biaya,” beber Sugeng.

Sesuai kalkulasi jumlah tersebut, diakuinya, bisa menjadi murah saat dibandingkan dengan biaya membeli air setiap pekan dari pedagang air. Pembuatan sumur bor sekaligus menjadi investasi bagi sejumlah warga.

Pasalnya, selain bisa dipergunakan untuk sumber kebutuhan air bersih, bisa digunakan pula untuk pengairan lahan pertanian. Fungsi ganda tersebut, bisa menjadi keuntungan bagi warga yang menggunakan jasa pembuatan sumur bor darinya.

Wilayah yang kerap sulit dilakukan pengeboran, diakuinya, ada di wilayah Bakauheni. Pasalnya kedalaman 70 bahkan 100 meter belum mendapatkan air bersih. Sebagian warga bahkan harus mengambil air dari sungai dan embung dengan jerigen untuk air bersih sehari-hari.

Imbasnya, sejumlah warga mengandalkan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Jasa. Sebagian membeli dari penjual air bersih perseorangan dengan tandon air dan tangki menggunakan mobil keliling.

Asarudin, salah satu penjual air bersih keliling melayani permintaan warga Bakauheni yang mulai kesulitan air bersih [Foto: Henk Widi]
Asarudin (43) salah satu penjual air keliling mengaku, bisa menjual 20 hingga 50 tandon air. Air dengan kapasitas 600 liter, dijual Rp60 ribu dalam jarak dekat dan bisa mencapai Rp80 ribu saat dikirim jarak jauh.

Sementara, air dalam tandon berukuran 1200 liter dijual dengan harga Rp150 ribu dalam jarak dekat dan dijual Rp200 ribu saat dikirim jarak jauh dari lokasi pengambilan air. Sebagian warga yang membeli air, diakui Asarudin, merupakan warga yang tidak memiliki sumur dan tidak bisa membuat sumur bor. Meski berlangganan dari PDAM, sebagian bahkan kerap tidak mengalir terutama saat musim kemarau melanda.

Baca Juga
Lihat juga...