Kemarau, Pemilik Sawah Sewakan Lahan Tanam Bawang Merah

Editor: Satmoko Budi Santoso

1.148

LAMPUNG – Kemarau yang melanda wilayah Lampung Selatan berimbas pada kekeringan sejumlah lahan pertanian di wiilayah tersebut.

Dampak kekeringan mulai dirasakan petani dengan sulitnya mendapat pasokan air untuk pengairan lahan sawah di wilayah Kecamatan Ketapang untuk pertanian padi dan sayuran.

Keterbatasan modal untuk pertanian dengan tingginya biaya operasional membuat sebagian petani memilih menyewakan lahan bagi pemilik modal yang lebih besar.

Sunarto (45), warga Desa Ruguk menyebut, lahan seluas dua hektar miliknya terpaksa disewakan satu hektar untuk efisiensi biaya produksi. Pada masa tanam sebelumnya, Sunarto mengaku menggarap dua hektar lahan dan kini hanya menggarap setengah hektar untuk menanam bawang merah.

Sunarto salah satu petani bawang merah di Desa Ruguk Kecamatan Palas Lamsel melakukan penyulaman bibit bawang merah di lahan yang sebagian disewakan kepada pemilik modal [Foto: Henk Widi]
Setengah hektar lahan diakuinya dibiarkan kering akibat kemarau yang mulai melanda dengan kebutuhan air yang mulai sulit diperoleh.

“Setengah hektar lahan yang saya tanam bawang merah memperhitungkan kebutuhan air yang harus saya sedot dari sumur bor. Kalau untuk satu hektar kurang maksimal jadi saya hanya garap sebagian untuk penanaman bawang merah,” terang Sunarto, salah satu petani bawang merah di Kecamatan Ketapang, saat ditemui Cendana News, Kamis (2/8/2018).

Lahan sawah yang khusus disewakan kepada pemilik modal, disebutnya, diperhitungkan dalam satu tahun, bisa digarap selama empat kali. Satu tahun luas lahan satu hektar disebutnya disewakan dengan biaya sekitar Rp50 juta.

Prospek budidaya bawang merah sangat menjanjikan, meski dengan keterbatasan modal dirinya mulai kelimpungan saat cuaca kemarau melanda. Biaya operasional terbesar disebutnya dari penyediaan pasokan air yang harus mempergunakan mesin sedot.

Pemilik modal yang menyewa lahan miliknya dan milik petani lain membuat sumur bor dengan modal mencapai Rp20 juta setiap titik. Selanjutnya, proses penyewaan lahan akan diperpanjang untuk budidaya bawang merah sehingga pemilik lahan cukup menerima uang sewa lahan selama setahun hingga proses perpanjangan sewa.

Meski memiliki lahan yang disewakan, namun Sunarto menyebut, sebagian petani juga masih melakukan budidaya bawang merah secara mandiri.

Dika, melakukan proses penyiapan lahan untuk budidaya bawang merah di Desa Sumur Kecamatan Ketapang Lamsel [Foto: Henk Widi]
”Meski lahan disewakan sebagian, namun saya juga tetap membudidayakan bawang merah untuk sumber penghasilan,” beber Sunarto.

Sunarto menyebut, menanam sekitar 2 kuintal bibit untuk sebanyak tiga puluh guludan lahan budidaya bawang merah. Sesuai dengan pengalaman masa tanam sebelumnya, bibit yang dibeli dari Brebes dengan kualitas bagus menghasilkan sekitar 1 ton bawang merah.

Harga bibit yang semula hanya mencapai Rp30 ribu per kilogram disebutnya kini sudah naik menjadi Rp40 ribu per kilogram. Meski bibit mahal, ia menyebut, harga bawang merah di tingkat petani saat ini sedang anjlok hingga hanya mencapai Rp20 ribu per kilogram.

Ia menyebut dengan menyewakan sebagian lahan kepada pemilik modal, dirinya bisa mendapatkan sumber penghasilan lain. Musim kemarau, diakui Sunarto, berimbas dirinya harus sehemat mungkin melakukan penggunaan air.

Budidaya bawang merah yang bisa dipanen setelah usia 60 hari disebutnya cukup menguntungkan bagi petani di wilayah tersebut, terutama permintaan yang tinggi di sejumlah pasar tradisional.

Petani lain bernama Dika (35), warga Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, mengaku, dirinya juga menyewakan lahan sawah miliknya untuk budidaya bawang merah. Keputusan menyewakan lahan dilakukan akibat musim kemarau yang mulai melanda sekaligus perhitungan biaya operasional yang disebutnya semakin tinggi.

Pada musim tanam bulan Mei dan dipanen pada bulan Juli, ia menyebut, membutuhkan modal Rp6 juta untuk bibit sebanyak 3 kuintal.

“Bagi petani pemilik modal kecil seperti saya dan petani lain rata-rata menanam di bawah satu ton, sementara pemilik modal besar bisa lebih dari satu ton,” papar Dika.

Harga bawang merah di level petani yang murah membuat dirinya memilih menanam dalam jumlah terbatas. Kalkukasi modal bibit, pengolahan hingga pascapanen ia memastikan membutuhkan modal sekitar Rp10 juta.

Saat panen setelah usia dua bulan dengan harga per kilogram bawang merah kering Rp20 ribu, dirinya masih bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp5 juta dengan penjualan sekitar Rp16 juta. Meski keuntungan tipis, ia memastikan, masih tetap menanam bawang merah untuk pasokan pasar lokal.

Alaudin (30) pengelola lahan seluas setengah hektar lahan bawang merah di desa yang sama milik pemodal mengaku, tanaman yang dikelolanya berusia sekitar 50 hari. Ia mengaku, lahan setengah hektar tersebut disewa dengan biaya sekitar Rp60 juta setahun oleh pemodal dari Brebes.

Pemodal disebutnya merupakan pelaku jual beli bawang merah yang memasok bawang merah dari Brebes untuk dijual ke wilayah Sumatera.

“Pasokan bawang merah sebagian dipasok dari Brebes sebagian dari lahan pertanian di Lampung untuk efisiensi distribusi,” beber Alaudin.

Bawang merah Brebes, akan dijual untuk kebutuhan saat Idul Adha. Memperhitungkan waktu panen, proses pengeringan bawang merah dengan bibit sebanyak sepuluh kuintal diprediksi akan menghasilkan sekitar lima ton bawang merah kering.

Keberadaan para pemodal yang menyewa lahan di wilayah tersebut, diakui Alaudin, ikut membantu petani. Sebab penyewa lahan sebagian merupakan penanam bawang di Brebes yang sudah berpengalaman.

“Kami petani di Lampung Selatan bisa memperoleh ilmu cara merawat bawang merah dari masa tanam hingga panen, selain itu bisa memperoleh hasil sewa tanah,” cetus Alaudin.

Keberadaan pemilik modal untuk budidaya bawang merah juga sekaligus memberi keseragaman dalam budidaya saat musim kemarau di wilayah tersebut. Saat musim kemarau banyak lahan dibiarkan tidak digarap pembudidaya bawang merah sebab masih bisa menghasilkan uang dengan memanfaatkan sumur bor.

Selain itu, keberadaan lahan budidaya bawang merah memberi penghasilan bagi buruh tanam hingga panen, saat banyak lahan pertanian padi terkendala kemarau.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.