Kemarau, Petani di Sragi Alami Kerugian

Editor: Satmoko Budi Santoso

152

LAMPUNG – Sebagian petani di wilayah Kecamatan Sragi, Ketapang, dan Penengahan memastikan kerugian akibat kemarau yang melanda wilayah tersebut.

Kadek (35) salah satu petani di Desa Sumbernadi, Kecamatan Ketapang, menyebut, sudah ada sosialisasi terkait upaya menekan risiko usaha tani padi dengan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Risiko tersebut menimpa petani padi saat musim hujan kerap kebanjiran dan musim kemarau kekeringan.

Kadek menyebut, ia sudah mengetahui besaran premi yang harus dibayar oleh petani hanya sebesar Rp33.000 per hektar dalam satu kali musim tanam dengan nilai pertanggungan hingga Rp6 juta.

Melalui AUTP sejumlah risiko yang ditanggung di antaranya bencana banjir, kekeringan, organisme pengganggu tanaman (OPT) tertentu. Meski demikian, ia menyebut, akibat tidak memiliki kelompok tani, membuat dirinya tidak mengikuti program tersebut karena belum mengakomodir petani perseorangan.

“Pernah ditawari namun karena belum ada kelompok tani membuat sejumlah petani di wilayah Ketapang tidak mengikuti asuransi dengan risiko saat kemarau atau kebanjiran tidak mendapatkan premi asuransi,” terang Kadek, salah satu petani di wilayah Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Kamis (9/8/2018).

Kadek, salah satu petani di Desa Sumbernadi Kecamatan Ketapang Lampung Selatan berada di lahan sawah miliknya yang kering akibat kemarau [Foto: Henk Widi]
Kadek menyebut, telah mengeluarkan biaya untuk penyediaan bibit padi sebanyak 30 kilogram (6 kampil) varietas Ciherang dengan harga bibit total Rp250 ribu. Selain mengeluarkan biaya bibit tersebut, ia bahkan sudah mengeluarkan biaya pengolahan lahan sebesar Rp2,5 juta ditambah upah tenaga kerja seluruhnya sudah dikeluarkan biaya sekitar Rp3,5 juta.

Ketiadaan air sekaligus pasokan air yang menyusut saat kemarau, membuat Kadek bersama sejumlah petani lain memilih tidak menggarap lahan sawah.

Kadek memastikan, dirinya tidak hanya mengalami gagal panen bahkan sudah mengalami kerugian sebelum panen. Sebab sejumlah petani padi lainnya yang sudah menanam padi berusia tiga pekan terpaksa harus gagal panen.

Keberadaan sumur bor yang disediakan secara mandiri oleh petani bahkan tidak bisa mengatasi kebutuhan air untuk pengairan lahan sawah di wilayah Kecamatan Ketapang yang mulai dilanda kekeringan.

Petani lain di wilayah Kecamatan Ketapang bernama Wayan (30) menyebut, sengaja tidak mengikuti AUTP karena dirinya menanam komoditas cabai merah. Tanaman cabai merah keriting tersebut ditanam sejak lahan pertanian di wilayah tersebut mengalami kekeringan.

Wayan bahkan memilih tidak menanam padi menyesuaikan anjuran dari penyuluh pertanian untuk menggunakan masa tanam ketiga (MT3) memasuki kemarau cocok untuk tanaman hortikultura.

“Saya sengaja menanam cabai merah karena kebutuhan air bisa diatur sedemikian rupa dan kebutuhan air tidak terlalu banyak dibanding padi,” papar Wayan.

Petani lain di wilayah Kecamatan Rajabasa bernama Edi (35) warga Desa Hargo Pancuran bahkan memilih menanam timun sumber benih dan terong. Kerja sama dengan produsen benih disebutnya menjadi jaminan saat terjadi gagal panen dengan penggantian bibit.

Beruntung selama dua tahun melakukan penanaman tanaman sayuran dirinya tidak pernah mengalami gagal panen.

Edi menyebut, sengaja meninggalkan menanam padi pada lahan sawahnya karena berkurangnya pasokan air. Sebagian petani bahkan sengaja membentuk kelompok tani khusus untuk budidaya tanaman hortikultura jenis timun benih dan berbagai sayuran agar tetap mendapat hasil dari proses menggarap lahan.

“Kami memang sudah berhenti menanam padi karena kerap menghadapi risiko gagal panen akibat hama, kekeringan dan banjir,” terang Edi.

Edi menyebut, petani di wilayah tersebut juga telah mendapatkan sosialisasi untuk mengikuti asuransi bagi penanam padi. Namun dengan tidak adanya petani penanam padi, membuat program AUTP tersebut tidak diminati oleh petani di wilayah tersebut.

Ia mengaku sebagian petani memilih menanami lahan yang tengah mengalami kekeringan dengan berbagai jenis sayuran yang bisa dipanen setiap sepekan sekali.

Sebagian petani, disebut Edi, menanam beberapa jenis tanaman berupa kacang panjang, terong, sawi untuk dijual ke pengepul untuk dijual di pasar. Budidaya sayuran lebih menguntungkan dalam kondisi musim kemarau.

Penanaman sayuran meski mempergunakan air tidak sebanyak seperti saat penanaman padi. Sistem penyiraman dengan kocor disertai pupuk bahkan dilakukan untuk efisiensi penggunaan air.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.