Kemarau, Petani Gunakan Disel untuk Sedot Air

Editor: Satmoko Budi Santoso

445

SOLO – Musim kemarau tahun ini berdampak pada petani yang berada di kawasan tadah hujan. Pasalnya, tidak adanya suplai air untuk irigasi, petani harus pintar memutar otak daripada sama sekali tidak bisa bercocok tanam.

Salah satu yang dilakukan petani di Klaten, Solo, Jawa Tengah untuk bisa bertanam adalah dengan sedot air menggunakan disel. Petani harus mengeluarkan uang lebih agar untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) agar tanaman mereka tetap panen.

“Tidak ada lagi sumber air kalau tidak sedot pakai disel. Otomatis untuk membeli bensin harus keluarkan uang,” ucap Yubaidi, salah satu petani asal Tulung, Klaten.

Yubaidi, petani asal Tulung, Klaten – Foto Harun Alrosid

Untuk bisa mengairi satu petak lahan seluas 1.300 m2, dirinya membutuhkan 6-8 jam untuk menyedot air menggunakan disel. Sementara dalam dua jam dirinya harus menghabiskan 1 liter BBM.

Dalam sekali sedot air menggunakan disel, petani rata-rata mengeluarkan Rp 22.000 – 30.000. Sementara untuk tanaman padi, kebutuhan airnya sangat banyak. “Berbeda jika tanaman jagung, bisa lebih hemat. Kalau padi, hampir setiap dua pekan harus sedot air dengan disel. Kalau tidak tanaman mudah mengering,” urainya.

Petani 68 tahun ini mengaku, harus mengeluarkan biaya lebih untuk bisa menggunakan air dari sumur pantek untuk kebutuhan irigasi di musim kemarau panjang seperti saat ini. Tak hanya dirinya, bahkan sebagian besar petani di wilayahnya juga melakukan hal serupa.

“Karena aliran sungai sudah mulai mengering dan tidak bisa lagi pengairan. Kalau tidak sedot sumur dalam, ya ngambil dari sungai,” aku dia.

Hal serupa diungkapkan Sariyono, petani asal Kecamatan Juwiring. Da menyebutkan, puluhan hektare lahan di Juwiring mulai terancam kekeringan karena musim kemarau. Selain tidak ada saluran irigasi, banyak petani yang tidak memiliki sumur dalam untuk diambil airnya.

Kondisi ini memaksa petani untuk memilih tidak bercocok tanam. “Daripada rugi banyak karena kalau ditanam terus mati, petani pilih membiarkan lahan mengering. Banyak yang seperti itu,” ungkapnya.

Menghadapi musim kemarau kali ini, banyak petani yang pasrah karena tidak adanya sumber air yang cukup. Petani berharap agar musim kemarau segara berakhir dan petani kembali bisa bercocok tanam. “Bisanya hanya doa, agar ada hujan. Biar bisa tanam lagi,” tandas Sariyono.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.