Kemarau, Produksi dan Harga Kakao Anjlok

Editor: Mahadeva WS

245

LAMPUNG – Musim kemarau yang melanda wilayah Lampung Selatan, mempengaruhi produktivitas kakao atau coklat petani. Kurangnya, pasokan air mengakibatkan sejumlah tanaman kakao memasuki masa trek daun, atau menggugurkan daun.

Amin (40), salah satu petani kakao, sekaligus perantara jual beli kakao (cengkau) menyebut, produksi buah kakao di Juli hingga Agustus ini menurun. Sebagian pohon mengalami kekeringan, dan mengalami gugur daun, meski sebagian memasuki masa buah matang.

Produksi kakao untuk 500 batang yang ditanam di kaki Gunung Rajabasa, semula menghasilkan 50 kilogram kakao basah perpekan, kini hanya menghasilkan 20 kilogram. Selain penurunan produksi, dampak dari musim kemarau adalah, berkurangnya bahan makanan, yang  membuat hama tupai atau bajing mulai menyerang buah kakao milik petani. “Pohon kakao tetap berbuah, namun harus melakukan pemilahan buah yang masih bisa diambil bijinya, karena sebagian berlubang digerogoti hama bajing,” terang Amin saat ditemui Cendana News, Sabtu (25/8/2018).

Produksi kakao yang menurun, berbeda dengan komoditas pertanian lain yang justru akan terkatrol naik harganya. Untuk komoditas kakao, dipastikannya saat produksi menurun, akan mempengaruhi harga komoditas kakao di tingkat petani hingga pengepul. Saat puncak masa panen kakao, sekitar Februari silam, harga kakao masih berada pada level Rp32.000 perkilogram dalam kondisi pengeringan selama lima hari.

Sebaliknya dalam kondisi pengeringan dua hari, kakao dijual seharga Rp22.000 perkilogram. Memasuki Agustus, pada masa panen penyelang berbarengan dengan musim kemarau, harga kakao berangsur turun. Kakao yang sudah dijemur selama lima hari dengan pengeringan sinar matahari, kini hanya laku dijual Rp25.000 atau turun Rp7.000 perkilogram.

Hal yang sama terjadi pada harga kakao dalam kondisi pengeringan dua hari, yang hanya terjual Rp18.000 atau turun Rp4.000 perkilogram. “Keistimewaan komoditas kakao memang berbeda dengan hasil pertanian lain, ketika panen raya harga naik tapi saat paceklik panen justru harga anjlok,” terang Amin.

Penurunan harga kakao juga diakui oleh Sumiati (36). Warga Dusun Sideder Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, pemilik ratusan pohon kakao tersebut mengatakan, jenis kakao yang ditanamnya merupakan kakao bulat halus dan  sebagian kakao merah.

Produksi kakao pada masa panen penyelang menurun, meski sebagian besar tanaman kakao miliknya berbuah. Ia harus memilah, kakao yang dimangsa oleh tupai dan berlubang pada bagian kulitnya dengan yang baik. Suminah bahkan kerap menemukan, buah kakao utuh namun, pada di bagian dalam kosong, karena digerogoti tupai.

Imbasnya dalam satu pohon, jika sebelumnya bisa dipanen sekira tiga kilogram kakao basah, kini maksimal hanya satu kilogram. “Pada musim kemarau ini justru sangat didukung oleh cuaca untuk proses pengeringan namun produksi menurun dan harga kakao anjlok,” keluh Suminah.

Suminah terpaksa menjual kakao dengan harga Rp25.000. Harga yang cukup rendah, dibandingkan harga saat panen raya yang bisa mencapai Rp32.000 untuk kakao kering sempurna. Faktor kebutuhan sehari-hari, membuatnya memilih menjual kakao kepada para cengkau atau perantara jual beli kakao keliling. Padahal jika mau bersabar, dengan menyimpan menyimpan kakao di dalam wadah kedap udara, untuk menjaga kualitas kakao hingga harga membaik. Harga yang diperoleh bisa sedikit lebih baik.

Berbeda dengan Amin dan Suminah, petani kakao lain, Romli (50), warga Desa Taman Baru, memiliki cara tersendiri menyiasati anjloknya harga kakao. Setelah mengikuti program Gerakan Lampung Menghijau (Gelam), pemilik 400 batang tanaman kakao tersebut tidak terdampak anjloknya harga kakao.

Tanaman kakao yang dimilikinya ditanam bersama tanaman lain, dengan sistem Multy Purpose Tree Species  (MPTS). Pola tersebut dilakukan dengan menanam jenis kaliandra, dan kelapa, serta kopi robusta, sumber bunga bagi budidaya lebah madu miliknya. Pada musim kemarau, kopi robusta memasuki masa pembungaan, sehingga memberi pakan alami untuk budidaya lebah madu miliknya.

Meski harga kakao anjlok, tanaman kakao di kebun miliknya bisa digunakan untuk meletakkan rumah lebah madu yang dikenal dengan glodok dari kayu kelapa. “Meski kakao turun, saya masih bisa panen madu, dengan hasil perpekan bisa ratusan ribu sebagai ganti saat harga kakao anjlok,” beber Romli.

Sistem penanaman berbagai jenis pohon dan mengintegrasikan dengan budidaya lebah menjadi langkah mengatasi kerugian. Sebab, jika mengandalkan komoditas kakao, dipastikan, saat harga anjlok akan mengalami kerugian. Penanaman berbagai jenis tanaman, mampu meningkatkan penghasilan dari komoditas lain yang di miliki.

Baca Juga
Lihat juga...