Kemarau, Produsen Kopra Peroleh Keuntungan Berlipat

Editor: Satmoko Budi Santoso

272

LAMPUNG – Musim kemarau yang melanda wilayah Lampung Selatan berimbas berkurangnya pasokan air bersih, kekeringan lahan pertanian, namun justru berdampak positif bagi usaha pembuatan kopra. Daging kelapa pun lebih mudah dan cepat dikeringkan selama musim kemarau.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Hendra (36) warga Dusun Penegolan, Desa Hatta, Kecamatan Bakauheni, yang enam tahun lebih menjadi pembuat kopra.

Selama musim kemarau, Hendra menyebut, memperoleh sejumlah keuntungan dari kopra, limbah pembuatan kopra serta efisiensi waktu penjemuran. Keuntungan pertama dari sabut kelapa hasil pengupasan, bisa dijual limbah sabut kelapa seharga Rp20 ribu untuk ukuran satu mobil L300.

Kedua, air kelapa yang disimpan di jerigen bisa diperoleh Rp5 ribu untuk satu jerigen berukuran 20 liter. Ketiga, batok kelapa yang cepat kering juga bisa dijual Rp30 ribu per karung.

Proses pencungkilan kopra yang sudah dipecah dan dijemur hingga layu untuk selanjutnya dikeringkan menghasilkan limbah batok kering yang memiliki nilai jual tinggi [Foto: Henk Widi]
Selama musim kemarau dengan rata-rata kelapa dibeli dari petani hingga ribuan butir, dirinya bisa mendapatkan beberapa mobil serabut kelapa. Serabut kelapa tersebut, dibeli oleh pabrik pengolahan serabut untuk pembuatan bantalan kursi dan pupuk dari cocopeat (butiran serabut kelapa) untuk diekspor.

Air kelapa yang dihasilkan mencapai ratusan liter dipesan oleh produsen pembuat nata de coco atau agar-agar berbahan kelapa. Batok kelapa digunakan untuk bahan pembakaran sate serta pembuatan briket arang kelapa.

“Musim kemarau semua proses bisa dilakukan dengan cepat karena hambatan bisa diminimalisir, pemetikan kelapa tidak terhalang hujan, pengupasan dan penjemuran daging kelapa lebih cepat dibandingkan saat penghujan,” terang Hendra, salah satu produsen kopra warga Desa Hatta, saat ditemui Cendana News, Rabu (1/8/2018).

Hendra menyebut, kemarau juga belum berdampak signifikan terhadap produksi kelapa bahkan justru meningkat. Pasalnya, sejumlah warga lebih memilih menjual kelapa selama musim kemarau untuk memenuhi kebutuhan.

Mansuri, produsen kopra di Desa Rawi Kecamatan Penengahan menyaring air kelapa sisa pemecahan butir kelapa [Foto: Henk Widi]
Kelapa butir yang dibeli dari petani, disebut Hendra, dibeli dengan harga Rp2500 per gandeng atau Rp1250 per butir. Kondisi musim kemarau, membuat dirinya lebih memilih membuat kelapa menjadi kopra dibandingkan menjual dalam bentuk butiran.

Bahan baku pembuatan minyak goreng curah dari kopra, menurut Hendra, saat ini dijual dengan harga Rp1.200 per kilogram lebih tinggi dari sebelumnya hanya Rp900 per kilogram.

Faktor kemarau yang cukup mendukung penjemuran sekaligus meningkatkan kualitas kopra. Pasalnya, penjemuran kopra secara alami mempergunakan sinar matahari menghasilkan kopra berkualitas. Kondisi kopra yang bersih dan minim terkena jamur menjadi faktor kenaikan harga kopra.

“Anjloknya harga kopra selama ini karena kualitas kopra jelek, terutama saat musim hujan pengeringan tidak sempurna bahkan kerap berjamur,” beber Hendra.

Perajin kopra lain di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, juga merasakan imbas positif tibanya musim kemarau. Mansuri (40) mengaku, kemarau menjadi peruntungan bagi produsen kopra karena sejumlah hasil yang bisa diperoleh dari proses pembuatan kopra.

Selain hasil utama pembuatan kopra dari daging kelapa yang dijemur, bahkan limbah pembuatan kopra masih bisa bernilai ekonomis tinggi. Limbah tersebut bisa menghasilkan uang lebih cepat dibandingkan kopra yang dibuat.

Setelah daging kelapa kering menjadi kopra, proses penyimpanan di gudang kering menunggu jumlah kopra mencapai satu ton bahkan lebih. Sebelum kopra dikirim ke pabrik menunggu waktu tiga pekan, pekan pertama dirinya sudah bisa mendapatkan uang dari menjual serabut kelapa, air kelapa, dan batok kelapa. Sistem deposit, diakuinya, dilakukan dengan membayar terlebih dahulu sebelum proses pengambilan limbah.

“Saya menyebutnya uang tanda jadi, sebelum proses pengambilan serabut, air, serta batok kelapa. Pembeli sudah menyetor uang kepada saya, sisanya dibayar saat pengambilan berikutnya,” beber Mansuri.

Hasil penjualan limbah tersebut, menjadi sumber pendapatan yang bisa dipergunakan membayar karyawan dengan upah sekitar Rp100 ribu per hari. Ia menyebut, produsen kopra yang hanya mengandalkan hasil penjualan kopra dipastikan akan gulung tikar.

Faktor tersebutlah yang membuat dirinya memanfaatkan setiap limbah pembuatan kopra disamping menjual hasil utama kopra.

Dari hasil serabut kelapa per bulan, ia mengaku, bisa mendapatkan Rp500 ribu, air kelapa bisa mencapai Rp500 ribu, batok kelapa bisa mencapai Rp500 ribu. Sementara, hasil penjualan kopra dengan target dikirim ke pabrik setelah jumlah mencapai 2 ton dengan harga per kilogram Rp1.200, dirinya bisa mendapatkan uang sekitar Rp2,4 juta.

Berkat musim kemarau ia bisa mendapatkan keuntungan sampingan dari liimbah pembuatan kopra yang nyaris menyamai hasil kopra.

Proses pembuatan kopra, disebut Mansuri, bahkan bisa dilembur saat malam hari. Pasalnya dengan kondisi cuaca tidak pernah turun hujan, proses pemecahan bisa dilakukan sepanjang hari.

Saat pagi hari penjemuran sudah bisa dilakukan sehingga proses pengeringan alami dengan sinar matahari maksimal dilakukan dua hari. Selain menghemat waktu, mempercepat perolehan kopra, beberapa limbah sisa pembuatan kopra bisa cepat dikeringkan sebelum diambil pembeli.

Baca Juga
Lihat juga...