Kemarau Sebabkan Peternak di Lamsel Kesulitan Cari Pakan

Editor: Koko Triarko

134
LAMPUNG – Kekeringan yang masih melanda wilayah Lampung Selatan, berimbas pada sulitnya peternak mencari pakan. Sejumlah lahan hijau kering akibat kekurangan air di musim kemarau ini.
Sumarno (50), warga Desa Sido Harjo, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, memilih mengandangkan ternak miliknya. Ia mengaku kesulitan memperoleh pakan hijauan berupa rumput, sehingga harus menggunakan pakan alternatif.
Khusus untuk ternak empat ekor sapi jenis limousin dua ekor dan sapi peranakan ongole (PO) dua ekor, dirinya menggunakan pakan jenjet jagung, dedak dan tetes tebu.
Jenjet jagung, dedak, butiran jagung halus, dan tetes tebu itu diberikan sebagai selingan untuk pakan hijauan yang terpaksa dicari di lokasi yang jauh.
Sumarno memberikan pakan alternatif dari jenjet, dedak, tetes tebu sebagai asupan tambahan pakan ternak sapi miliknya [Foto: Henk Widi]
Menurut Sumarno, pakan alternatif tersebut sudah kerap diberikan, terutama ketika musim kemarau melanda. Ia membeli jenjet jagung seharga Rp25.000 per karung, dengan berat 25 kilogram, dedak limbah penggilingan beras seharga Rp30.000 ukuran 30 kilogram, serta tetes tebu seharga Rp50.000 ukuran 15 liter.
Bahan-bahan tersebut selanjutnya dicampurkan sebagai pakan alternatif, diberikan tiga kali sehari untuk kebutuhan selama satu bulan.
“Saya cukupkan kebutuhan pakan alternatif tersebut selama satu bulan, meskipun saya tetap mencari pakan hijauan dengan menanam rumput pandan, sebagian mencari di daerah dekat sungai yang masih banyak tersedia rumput hijauan,” terang Sumarno, saat ditemui Cendana News, Minggu (5/8/2018).
Sulitnya mencari pakan ini, membuatnya harus mengeluarkan biaya hingga ratusan ribu rupiah per bulan. Ia yang semula memiliki lima ekor sapi, kini hanya menyisakan empat ekor setelah menjual satu ekor sapi PO dengan harga Rp20 juta, untuk digunakan warga lain sebagai hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha 1439 pada 22 Agustus mendatang.
Selain membutuhkan biaya untuk kuliah sang anak, ia sengaja menjual sapinya untuk mengurangi beban biaya pakan ternak.
Berbeda saat musim hujan, dirinya bisa menempatkan ternak sapinya di lahan penggembalaan di lapangan, kebun dan sawah. Namun, saat kemarau, rumput yang sudah kering justru berisiko, karena sapi bisa kepanasan. Mengandangkan ternak pun menjadi pilihan saat kemarau melanda, dengan tetap memberikan asupan air minum dan pakan pada siang hingga malam hari.
“Lahan sawah saya kering, sehingga tanaman padi ikut kekeringan, bahkan rumput di tegalan sudah tidak tumbuh, biasanya bisa untuk pakan sapi,” beber Sumarno.
Petani lain pemilik hewan ternak jenis kambing rambon dan kacang, juga merasakan dampak kekeringan. Damiran (60) warga Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, mengaku terpaksa memberikan asupan pakan dari batang pisang yang dicacah untuk pakan ternaknya.
Sepuluh ekor kambing miliknya kerap dilepasliarkan dengan cara ditunggu di areal persawahan. Namun akibat musim kemarau ini, kambing miliknya hanya dikandangkan.
Damiran bahkan harus mencari pakan dengan menggunakan galah bambu, untuk menyengget atau memetik daun jati ambon, sengon dan nangka untuk pakan.
Damiran, salah satu peternak kambing di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, memberikan pakan kambing yang dikandangkan selama kemarau [Foto: Henk Widi]
Ketiadaan sumber pakan di lahan pertanian untuk jenis rumput akibat lahan tidak mendapat pasokan air. Ia bahkan menyediakan ember khusus untuk pasokan air minum selama kambingnya dikandangkan.
“Selama kemarau sengaja saya kandangkan ternak kambing dengan pemberian pakan sistem ramban,” beber Damiran.
Sistem mencari pakan (ngramban) saat musim kemarau, katanya, membutuhkan waktu lebih lama dibanding musim hujan. Saat musim hujan, pakan hijauan berlimpah dan dengan mudah bisa didapatkan dalam waktu singkat di satu lokasi.
Namun, saat musim kemarau dengan rumput yang kering membuat dirinya harus mencari di lokasi yang jauh, sebagian di daerah aliran Sungai Way Pisang. Dibantu sang anak, pakan kambing bahkan harus dicari sampai ke kecamatan lain, menggunakan motor secara rombongan dengan peternak lain.
Musim kemarau yang melanda bersamaan dengan dekatnya hari raya Idul Adha atau Kurban, membuatnya menjual tiga ekor kambingnya dengan harga masing-masing Rp 2juta.
Keputusan mengurangi ternak kambing dari tiga belas menjadi sepuluh ekor, sekaligus mengurangi beban pencarian pakan saat kemarau.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.