Kemarau, Sebagian Petani Tertolong Aliran Sungai Way Pisang

Editor: Mahadeva WS

533

LAMPUNG – Lahan pertanian padi di Lampung Selatan mulai terdampak kemarau. Wilayah yang mulai terdampak seperti di, Kecamatan Ketapang, Kalianda, Way Panji, Sidomulyo, Penengahan dan Candipuro.

Meski mengalami kekeringan, ratusan hektar lahan sawah di Kecamatan Penengahan masih bisa terselamatkan oleh aliran Sungai Way Pisang. Abdulah (60), salah satu pemilik sawah di Desa Tetaan, Kecamatan Penengahan menyebut, ratusan hektare sawah masih bisa digarap saat musim tanam ketiga (MT3) kali ini.

Keberadaan Sungai Way Pisang menjadi tumpuan warga petani. Adanya infrastruktur pendukung berupa bendungan dan saluran irigasi membantu mengalirkan air ke persawahan. Meski debit air Sungai Way Pisang menurun, pasokan air irigasi masih bisa membantu petani. “Ada saluran irigasi utama yang mengalirkan air sungai Way Pisang dengan fasilitas bendungan, digunakan warga secara bergiliran serta sistem pengolahan lahan serentak sehingga semua kebagian air,” terang Abdulah saat ditemui Cendana News, Senin (6/8/2018).

Saluran irigasi tersebut memiliki panjang lebih dari dua kilometer. Mengaliri ratusan hektare lahan sawah. Keberadaanya dikelola kelompok tani wilayah setempat. Meski demikian, akibat adanya pembangunan proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggibesar, sejumlah saluran irigasi sempat rusak.

Akibatnya, sebagian warga di sebelah Timur JTS di stationing (STA) 14+500 sempat tidak bisa menggarap sawah. Pelaksana proyek JTTS merespon dengan membuat sejumlah saluran air. Upaya dilakukan dengan membuat gorong-gorong dan box culvert. Sejumlah titik dibuatkan bendungan penampung, sekaligus berfungsi sebagai bak air untuk keperluan menyiram pepohonan di area JTTS.

Abdulah menyebut, kelompok tani di wilayah tersebut sudah meminta pelaksana proyek JTTS untuk tetap mempertahankan bendungan air tersebut. “Perjuangan petani untuk mempertahankan saluran irigasi membuat saat musim kemarau masih bisa menggarap sawah meski daerah lain kekeringan,” beber Abdulah.

Pemilik satu hektare sawah di Desa Tetaan tersebut memilih menanam padi varietas Ciherang yang memiliki usia tanam 30 hari. Pasokan air yang lancar dari Sungai Way Pisang, tidak terlepas dari peran serta masyarakat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Pisang. Termasuk terjaganya kawasan hutan Gunung Rajabasa. Pasokan air tersebut bisa digunakan masyarakat di Desa Penengahan, Desa Karangsari dan Desa Tetaan di jalur irigasi yang sama.

Hendrik (36), petani pemilik dua lahan sawah menyebut, meski satu bidang sawah di Desa Tetaan bisa digarap. Satu sawah miliknya yang berada di Desa Banjarmasin tidak bisa digarap. Lahan sawah yang mendapatkan pasokan air, saat ini sudah memasuki masa pemupukan tahap pertama. “Dampak kemarau sangat terasa ketika petani penanam padi sawah membutuhkan air, namun beruntung petani di wilayah Tetaan mendapat pasokan air Sungai Way Pisang,” tandasnya.

Meski mengalami kemudahan memperoleh pasokan air, saat masa pemupukan tahap pertama Hendrik justru mengaku sempat kesulitan mendapatkan pupuk. Terlambatnya pasokan pupuk  bersubsidi, yang dibeli melalui kelompok, membuat Dia terpaksa membeli pupuk non subsidi. Bagi petani yang tidak mendapat pasokan air di musim tanam ketiga, akan semakin diberatkan dengan sulitnya mendapatkan pupuk.

Petani lain, Sobirin (30), warga Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, memilih pasrah dengan kondisi yang ada. Termasuk jika harus gagal panen karena kekeringan yang dialami. Upaya penyedotan air dari sungai kecil di dekat sawahnya, tidak bisa memasok setengah hektare lahan padi miliknya.

Sebagian lahan sawah terdampak kekeringan di kecamatan Penengahan selama kemarau melanda [Foto: Henk Widi]
Imbasnya, padi berusia dua bulan miliknya, mengalami kekeringan dan lahan pertanian mulai retak-retak. “Sempat saya aliri air dengan cara menyedot dari sungai namun karena air sungainya kecil dan mulai kering sawah juga mengering,” tandasnya Sobirin.

Sobirin berharap, petani di wilayah tersebut bisa mendapatkan bantuan sumur bor. Anggota Kelompok Panca Usaha Tani tersebut mengungkapkan, sejumlah warga yang memiliki modal, memilih membuat sumur bor. Meski demikian akibat lokasi dan jarak yang cukup jauh, mencapai dua kilometer dari lokasi lahan sawah miliknya, Dia tidak bisa mendapat pasokan air. Sementara, jika hujan tidak turun dalam beberapa pekan ke depan, dipastikan sawahnya akan gagal panen.

Baca Juga
Lihat juga...