Kendalikan Hama Ramah Lingkungan dengan Tanaman Hias

Editor: Satmoko Budi Santoso

199

LAMPUNG – Lahan pertanian di sepanjang jalan Raden Intan II Penengahan Lampung Selatan tepat di kaki Gunung Rajabasa terlihat indah oleh tanaman bunga.

Suraji (50) petani di Desa Ruang Tengah menyebut, menerapkan penanaman bunga sebagai tanaman hias sekaligus pengendali hama sejak dua tahun silam. Sistem tersebut diterapkan setelah mendapat sosialisasi dari penyuluh pertanian untuk memanfaatkan tanaman hias yang dikenal dengan Refugia.

Tanaman refugia, diakui Suraji, merupakan tanaman berbagai bunga yang sengaja ditanam di tepi sawah, galengan atau tepi jalan. Secara teknis, sistem kerja pengendalian hama dengan tanaman refugia, tanaman hias tersebut akan menjadi tempat hidup, berlindung, daya tarik musuh alami (predator) hama tanaman padi.

Suraji melakukan perawatan beberapa tanaman refugia di tepi sawah miliknya [Foto: Henk Widi]
Sejumlah hama yang menyerang tanaman padi seperti wereng, walang sangit bisa dimangsa oleh laba-laba, tawon, kumbang serta binatang lain yang berkembang akibat tanaman refugia.

“Pada tahap awal dua tahun silam, kami diberi benih berupa biji di antaranya bunga matahari, bunga kertas, kenikir, kacang panjang, tembelekan serta sejumlah bunga lain dan sekarang kami sudah bisa memiliki bibitnya,” terang Suraji, salah satu petani padi di Desa Ruang Tengah, Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Senin (27/8/2018).

Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT) tersebut diakui bahkan terus dikombinasikan oleh petani. Kombinasi tersebut di antaranya dengan melakukan penanaman kacang tanah, kedelai, kacang panjang.

Ketiga jenis tanaman sayuran tersebut memiliki fungsi sebagai penyedia sayuran dan pada masa berbunga berfungsi seperti refugia yang menarik musuh alami hama tanaman padi khususnya varietas Ciherang.

Penerapan pengendalian hama terpadu memanfaatkan refugia sudah diterapkan di lahan milik petani Desa Kelau, Ruang Tengah, Pasuruan dan Kelaten. Sebagai anggota Kelompok Tani (Poktan) Puakhi 2 Desa Ruang Tengah, aplikasi penggunaan refugia sudah diterapkan pada lahan seluas 100 hektare yang merupakan lahan kelompok dari sekitar 25 orang petani.

Lahan milik Poktan Puakhi 2 sekaligus menjadi lahan percontohan bagi petani lain di bawah pendampingan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Lamsel.

Pemanfaatan musuh alami ramah lingkungan sebagai Organisme Penganggu Tanaman (OPT) jenis refugia, diakui Suraji, terbukti mengurangi penggunaan pestisida. Sebab tanaman padi di Poktan Puakhi 2 sekaligus menjadi percontohan penerapan penanaman padi sehat.

Sebagai upaya menerapkan penanaman padi sehat pengurangan penggunaan pupuk kimia dan pestisida dikombinasikan dengan refugia dan penanaman kedelai.

“Kami menerapkan penggunaan pupuk organik dengan memanfaatkan jerami dan agen hayati tanpa campuran bahan kimia,” beber Suraji.

Proses perawatan lebih mudah dan bisa menekan biaya bahkan penanaman kedelai, kacang panjang bisa menambah penghasilan. Tanaman hias jenis refugia yang ditanam di tepi jalan juga memberi nilai estetika.

Latar belakang Gunung Rajabasa kerap digunakan untuk swafoto dan pernah digunakan untuk tempat wisata Grand Sawah serta lokasi syuting salah satu program televisi anak-anak di salah satu televisi swasta.

Lahan seluas 100 hektar milik Poktan Puakhi 2 menjadi lahan percontohan bersama dengan area budidaya tanaman padi sehat di wilayah Lamsel. Selain area lahan padi sehat Poktan Puakhi 2, Suraji menyebut, di kecamatan lain seluas 300 hektar sudah berjalan di kecamatan Way Sulan dan di kecamatan Candipuro seluas 100 hektar dengan menerapkan pola penanaman padi sehat sekaligus memanfaatkan refugia.

Usman melakukan pemilihan biji bunga kenikir untuk ditebar di lahan kosong di areal sawah sebagai tanaman pengendali hama [Foto: Henk Widi]
Usman (60) pemilik lahan di Desa Taman Baru mengaku, sudah satu tahun memanfaatkan refugia. Selain bunga kertas dan kenigkir, ia bahkan mulai berkreasi dengan menanam sayuran okra, pacar air, kecubung, wora wari dan turi.

Jenis sayuran okra dengan memiliki bunga seperti terompet menghasilkan sayuran sementara jenis turi selain bunganya bisa disayur juga menjadi daya tarik bagi predator hama tanaman.

Penerapan pengendalian hama terpadu, diakui Usman, sekaligus memanfaatkan lahan yang ada. Sebab selama ini sepanjang tepi jalan kerap tidak dimanfaatkan dan dibiarkan ditumbuhi rumput.

Kini semenjak dilakukan penanaman Refugia dan di antaranya beragam sayuran, lahan pertanian di wilayah tersebut lebih indah dan produktivitas padi lebih meningkat.

“Biasanya banyak serangan hama membuat hasil padi satu hektar hanya empat ton saat ini maksimal lima ton sekaligus mengurangi pestisida,” terang Usman.

Ketersediaan pasokan air dari Gunung Rajabasa, diakui Usman, sekaligus menjadi keunggulan lahan pertanian di wilayah tersebut. Pola penerapan padi sehat sangat cocok dengan kesepakatan seluruh anggota kelompok tani untuk tidak menggunakan pestisida atau zat kimia.

Sejumlah petani bahkan mendapat pendampingan dari Koramil 03/Penengahan dalam penggunaan pupuk organik termasuk pengendalian hama dengan refugia bekerja sama dengan Petugas Pemeriksa Organisme Pengganggu Tanaman (PPOPT) Dinas Pertanian.

Lihat juga...

Isi komentar yuk