Kerajinan Topeng Malang Kini Diminati Masyarakat

Editor: Satmoko Budi Santoso

166
Perajin Topeng Malangan, Sugiyat - Foto: Agus Nurchaliq

MALANG – Kerajinan topeng Malangan yang sempat terpinggirkan, kini mulai bangkit kembali dan banyak diminati masyarakat. Mulai dari topeng Malangan untuk suvenir hingga topeng Malangan yang digunakan dalam pementasan tari.

Setidaknya, hal tersebut yang saat ini dirasakan Sugiyat, salah satu perajin topeng di Desa Permanu, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Menurutnya, beberapa tahun belakangan ini, pesanan topeng sudah cukup banyak, baik dari Malang maupun dari luar Malang.

“Akhir-akhir ini, topeng Malangan mulai laku dan banyak peminat, sehingga saya rasa prospek ke depan cukup bagus,” sebutnya, Selasa (7/8/2018).

Diakui Sugiyat, saat ini hampir setiap bulan ia mendapatkan pesanan untuk membuat topeng, meskipun belum dalam jumlah yang banyak.

Ia menyebutkan, lama proses pembuatan topeng Malangan membutuhkan waktu 1-3 hari tergantung pada model dan bahan kayu yang digunakan. Merupakan jenis kayu keras atau lunak.

“Jenis kayu yang kerap digunakan seperti kayu cangkring, kayu kembang dan ada juga kayu sengon laut yang harganya lebih murah dan lebih mudah pembuatannya karena kayunya tidak keras,” ungkapnya.

Sedangkan untuk harganya juga bervariasi mulai dari Rp200.000 sampai dengan Rp1.000.000 tergantung jenis kayu yang digunakan dan motif. Semakin sulit motif yang diukir, semakin mahal harganya.

Sementara itu, Sugiyat menceritakan, ia mulai membuat topeng sudah sejak tahun 1978 meskipun pada saat itu belum laku dijual. Tokoh yang kerap ia buat topeng yakni tokoh Panji dan Patih.

“Saya sejak kecil kelas tiga Sekolah Dasar (SD) sudah sering ikut tari topeng. Jadi otomatis sudah sering memegang topeng sehingga sudah hafal betul bentuk ukiran topeng Malangan. Terutama ukiran topeng dari motif ukiran buatan Mbah Reni yang merupakan pembuat topeng pertama di Malang,” ucapnya.

Dikatakan Sugiyat, dulu sebelum membuat topeng ada ritual khusus yang harus dilakukan. Namun dengan berjalannya waktu, ritual-ritual tersebut sudah tidak lagi ada.

“Kalau dulu memang ada ritual khusus sebelum membuat topeng, tapi kalau sekarang sudah tidak ada ritual,” terangnya.

Sementara itu, Sugiyat juga menyayangkan, meskipun prospek kerajinan topeng cukup bagus, namun masih sedikit jumlah perajin topeng Malangan. Jumlahnya, tidak lebih dari 20 orang dan kebanyakan sudah berusia lanjut.

“Tidak banyak generasi muda yang mau belajar membuat topeng Malangan, termasuk anak-anak saya. Dari keluarga, hanya saya yang bisa membuat topeng. Jadi mungkin tidak ada yang melanjutkan usaha saya ini,” akunya.

Untuk itu, ia mengaku, akan sangat senang jika ke depan ada anak-anak muda yang mau belajar membuat topeng sebagai upaya regenerasi perajin topeng.

“Kalau ada yang mau belajar membuat topeng, pasti akan saya ajari untuk mengamalkan ilmu saya sekaligus untuk regenerasi,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.