Ketersediaan Air Bersih di Flotim Terancam Saat Kemarau

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

140

LARANTUKA — Ketersediaan air bersih di kabupaten Flores Timur (Flotim), terutama di pulau Solor, kecamatan Witihama dan Ileboleng di pulau Adonara serta beberapa daerah lainnya di Flores daratan, terancam karena tidak memiliki sumber mata air.

“Khusus di kabupaten Flores Timur debit mata air memang selalu mengalami penurunan saat musim kemarau. Ada beberapa daerah yang memang kesulitan mendapatkan mata air,” sebut wakil bupati Flotim, Agustinus Payong Boli, SH di Larantuka, Rabu (8/8/2018).

Diterangkan, perlu adanya pengeboran air tanah serta mengambil dari sumber mata air di tempat lain. Seperti halnya di Witihama maupun Ileboleng, air ditarik menggunakan pipa dari kecamatan Adonara Timur yang terdapat banyak sumber mata airnya.

“Di pulau Solor hanya di bagian barat saja yang ada sumber mata airnya, namun sedikit. Sementara di bagian tengah dan timur rata-rata tidak ada, sebab daerahnya gersang dan tidak memiliki banyak pohon,” ungkapnya.

Kemarau
Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, SH. Foto : Ebed de Rosary

Namun di daerah yang memiliki sumber air, tambah Agustinus, debitnya setiap tahun menurun secara alamiah akibat faktor cuaca. Hal tersebut diperburuk oleh perilaku manusia yang menebang pohon di sekitar mata air.

“Untuk daerah-daerah yang tidak memiliki mata air, pemerintah kabupaten Flores Timur untuk jangka panjang akan memperbanyak sumur bor yang higienis dan dipastikan layak untuk dikonsumsi,” terangnya.

Kalau masyarakat menggali sumur sendiri, terang Agustinus, dikhawatirkan airnya bisa saja asin, kotor dan sulit untuk dikonsumsi.

“Untuk pengadaan sumur bor dapat menggunakan dana desa, APBD kabupaten, provinsi maupun pusat, sebab biayanya hanya berkisar 200 juta rupiah,” tambahnya.

Sementara itu, warga Solor Barat, Wilfirud Niron menjelaskan, banyak warga setempat memilih mengkonsumsi air payau yang berada di pesisir pantai dari sumur resapan, karena mata air sering kering.

“Banyak bak-bak penampung air dan jaringan pipa air yang dipasang pemerintah tidak terpakai, sebab air sering tidak mengalir akibat debit seperti di desa Lewotanaole dan Lewolein yang terus menurun saat kemarau,” jelasnya.

Ia menyambut baik rencana tersebut dan berharap pemerintah daerah dan desa segera merealisasikannya.

“Kalau masyarakat disuruh mengebor sumur, tentu mereka akan memilih di pesisir pantai. Kedalamannya hanya berkisar lima meter saja, namun airnya payau dan sulit dipakai untuk minum,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.