Ketua MPR Dorong Generasi Muda Bangun Bangsa

Editor: Satmoko Budi Santoso

1.128
Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, ketika menjadi pembicara di muktamar IMM - Foto Agus Nurchaliq

MALANG – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, mengatakan, semangat setiap pemuda ada di setiap zaman. Zaman berganti, anak muda pun selalu memberikan semangat perubahan.

“Tidak pernah republik ini lepas dari para pemuda dan tidak ada kejadian penting di negeri ini tanpa peran mahasiswa. Memang, bangsa Indonesia berdiri dari gerakan intelektual anak muda,” ujarnya, saat menghadiri acara Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (2/8/2018).

Lebih lanjut, Zulkifli juga mengingatkan kembali kepada generasi muda, nama-nama tokoh besar Indonesia yakni Kiai Agus Salim, Soekarno dan Mohammad Hatta.

Kiai Agus Salim, menurutnya, merupakan sosok pembelajar yang fasih, hampir 10 bahasa internasional ia gunakan untuk berjuang di jalur diplomasi. Dengan kemampuan bahasanya, Kiai Agus Salim menjadi peletak dasar diplomasi di Indonesia.

“Bahkan prinsip hidupnya banyak dikenang orang hingga hari ini, yakni memimpin adalah untuk menderita,” imbuhnya.

Selanjutnya, Bung Karno merupakan tokoh yang sejak muda menjadi pelajar progresif. Ketika menjadi mahasiswa di ITB, Bung Karno merupakan mahasiswa yang intens berinteraksi dengan rakyat.

Bung Hatta memang menjadi mahasiswa di luar negeri. Kesibukannya di luar negeri tidak membuatnya lupa dengan penderitaan rakyat di Indonesia. Bersama rekan-rekan seperjuangan mahasiswa, Bung Hatta menghimpun gerakan untuk menyuarakan nasib Indonesia di luar negeri.

“Spirit tokoh-tokoh itulah yang harus menjadi gerakan intelektual dan harus dihadirkan kembali oleh mahasiswa sebagai jalan perjuangan,” ucapnya. Bentuknya tentu bisa beragam, tapi secara garis besar, bisa terangkum dalam dua hal penting yakni yang pertama mahasiswa harus kembali pada semangat untuk membela yang lemah, miskin, dan tidak berdaya.

Menurut Zulkifli, sejatinya pergerakan mahasiswa sebagai mata hati dan suara rakyat. Untuk itu, IMM sebagai gerakan mahasiswa sekaligus gerakan intelektual, tidak boleh menjadi menara gading yang tinggi sehingga tidak terjangkau oleh rakyat. Sebaliknya, IMM harus dekat dengan rakyat dan mendengar denyut nadi rakyat sehari-hari.

“Suara mahasiswa adalah suara rakyat. Berbeda dengan suara politisi yang terkadang orientasinya hanya pada pemilu dan kekuasaan, bukan pada apa yang benar,” ungkapnya.

Dalam konteks situasi sosial politik hari ini, mahasiswa juga harus aktif melakukan pendidikan politik untuk rakyat. Jangan sampai rakyat terjebak dengan politik uang yang akan merusak demokrasi.

“Garis besar yang kedua adalah spirit berkemajuan. Kunci kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi tergantung pada sumber daya manusianya,” tuturnya.

Menurutnya, di belahan negara mana pun, suatu negara bisa maju bukan karena kaya atau tidaknya sumberdaya alam yang dimiliki. Namun, suatu negara akan maju karena sumber daya manusianya, karena sumber daya manusia tidak akan habis.

“Oleh sebab itu, agar generasi muda bisa maju dan mengejar ketertinggalan di berbagai bidang, mahasiswa harus bisa menguasai ilmu dan teknologi untuk turut membangun bangsa,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.