Kisah Klasik ‘Sunda Upasunda’ Diluruskan Lewat Pementasan

176
Suasana kesenian barong, ilustrasi - Dok. cDN

DENPASAR — Budayawan Prof Dr I Wayan Dibia yang sekaligus pemimpin garapan seni pertunjukan pariwisata “Barong Sunda Upasunda” dari Sanggar Seni Geoks, Kabupaten Gianyar, mencoba menampilkan pelurusan alur cerita kisah tersebut.

“Cerita ini saya pentaskan dengan maksud meluruskan cerita yang selama ini dipentaskan oleh masyarakat yang alurnya salah,” kata Prof Dibia, di sela-sela pementasan Barong Sunda Upasunda, di Taman Budaya Denpasar, Minggu malam (12/8/2018).

Pengakuan I Wayan Dibia dalam rangkaian ajang “Bali Mandara Mahalango” itu menyiratkan sebuah realita bahwa masyarakat Bali perlu lebih banyak membaca sumber-sumber sastra.

“Alur yang sebenarnya bahwa tokoh utamanya, Sunda Upasunda itu digoda bukan saat dia bertapa, tetapi digoda saat dia pesta-pesta,” ujar Dibia.

Menurut dia, Sunda Upasunda sendiri merupakan kisah klasik yang telah terdapat dalam Kitab Mahabharata bagian Adi Parwa. “Ceritanya memang sudah ada di Adi Parwa, jadi mestinya itu yang dibaca sehingga dengan begitu ada referensi yang pasti,” ucapnya.

Sunda dan Upasunda yang kala itu digoda nyatanya sedang mabuk dan berpesta pora. Bagi Dibia, dari logika saja orang bertapa itu membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Sehingga konsentrasi itu tidak mudah tergoyahkan karena seorang yang bertapa benar-benar memusatkan pikirannya.

“Orang yang mabuk sangat mudah untuk digoda dan itulah yang sebenarnya terjadi pada Sunda dan Upasunda,” katanya.

Dalam perjalanan mencari cerita yang sejati, tentunya Dibia telah memulai sejak lama. Sejak duduk di bangku kuliah, Dibia mulai menelusuri rasa penasarannya akan kebenaran dari kisah Sunda Upasunda.

Kebenaran yang Dibia peroleh melalui Adi Parwa akhirnya membuat Dibia yakin untuk mempersembahkan garapan Sunda Upasunda pertamanya di tahun 1974. “Pertama kali saya pentaskan garapan ini tahun 74 ketika saya ujian di Jogja. Itulah, karena saya ingin menggali kayak apa sih cerita sebenarnya,” ucapnya.

Tak hanya meluruskan yang bengkok, ditampilkannya garapan ini pada Bali Mandara Mahalango 5 juga memberi semangat pada Dibia untuk mencoba sebuah garapan yang padat.

Sementara itu, Prof Dr I Made Bandem selaku kurator dalam Bali Mandara Mahalango 5, garapan Barong Sunda Upasunda yang diciptakan I Wayan Dibia merupakan sebuah garapan alternatif.

“Selama ini barong untuk turis itu cerita yang dipakai ‘kan Barong Kunti Seraya yang sudah diciptakan 1948 oleh orangtua saya, orang tua Pak Dibia, dan orang tua Cokorda Raka Tisnu,” kata Bandem.

Bagi Bandem, memang diperlukan sebuah alternatif dalam pertunjukan pariwisata barong di Bali. “Turis itu ingin yang aneh, berbeda, dan besar jadi barong itu selalu menjadi andalan,” ujar Bandem.

Persoalan pelurusan cerita Sunda Upasunda yang dilakukan oleh I Wayan Dibia, Bandem pun menyambut dengan hangat akan hal itu.

“Sunda Upasunda yang dari Adi Parwa ini mengandung spiritual yang tinggi sehingga dengan adanya kisah dan garapan ini masyarakat itu punya tontonan yang sehat,” kata Bandem. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...