Komunitas Bekasi Tanam Bambu di Muara Sungai Citarum

Pohon bambu -Dok: CDN

CIKARANG – Puluhan warga yang tergabung dalam sejumlah komunitas di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menggelar aksi penanaman bambu kuning di kawasan muara Sungai Citarum, di Kecamatan Muaragembong hingga Cabangbungin.

Aksi digelar sebagai bentuk kepedulian, sekaligus protes terhadap minimnya perhatian pemerintah pada isu-isu lingkungan di wilayah tersebut. “Dari hasil tinjauan kami di lokasi sejak beberapa waktu sebelumnya, di sisi Sungai Citarum ini kerap longsor, tanah tidak kuat, sehingga kerap terjadi pergeseran. Maka dari itu kami berinisiatif menanam bambu yang bisa menahan laju longsor,” kata Perwakilan Komunitas Jejak Sejarah, Surojudin, Rabu (8/8/2018).

Isu lingkungan di sekitar Muaragembong, sebenarnya kerap disuarakan. Bahkan isunya telah diungkap di berbagai media. Hanya saja isu tersebut, tidak serta merta ditindaklanjuti oleh pemerintah, baik di daerah maupun pusat. “Lambannya penanganan dari pemerintah membuat kami berinisiatif menanam bambu di sini,” tandas Surojudin.

Anggota Komunitas Haurwangi, Rafiq Sadeli mengatakan, bambu dipilih untuk ditanam karena dinilai dapat mengikat tanah. Selain itu, bambu dapat membuat ruang pada mata air baru. “Bambu kuning ini bisa mengikat tanah. Seperti kita saksikan, pas belokan sungai daya dorongnya luar biasa, di sisi lain ini sangat berdekatan dengan warga,” tandasnya.

Kegiatan penanaman bambu tersebut digelar, setelah sebelumnya terdapat laporan dari masyarakat terkait kondisi sungai hingga mengakibatkan longsor. “Karena erosi, terjadi pengikisan, tanah yang tidak kuat ikut bergerak. Masyarakat sudah melaporkan, bahkan sebelum bulan puasa kemarin kejadian longsor, tapi belum ada respon,” ungkapnya.

Kerusakan lingkungan di Muaragembong seharusnya dapat ditanggulangi dengan tindakan yang terstruktur dan berkelanjutan. Namun sayangnya, hal tersebut tidak dilakukan, dampaknya, kerusakan lingkungan tidak kunjung terselesaikan. Ironisnya, dari pada melakukan perbaikan, Muaragembong lebih banyak dijadikan tujuan CSR perusahaan yang digelar sebatas seremonial.

“Ini yang kami sayangkan, hanya sekedar dijadikan tujuan CSR yang sifatnya hanya seremonial. Misalnya penanaman mangrove, sekedar ditanam, selanjutnya mungkin saja mangrove hanyut atau justru hilang sehingga tidak ada hasil,” katanya.

kondisi di Muaragembong terbilang memprihatinkan, selain pengikisan di daerah aliran sungai, Muaragembong juga mengalami abrasi di sekitar bibir pantai. Penyebabnya adalah, hilangnya tanaman yang mengikat kontur tanah. Tercatat, sejak 2004-2006, gelombang laut menghantam daratan dan menciptakan abrasi.

“Dulu di kawasan sekitar bibir sungai dan pantai, banyak rumah-rumah warga, sekarang banyak juga rumah tapi lebih banyak yang sudah tergerus, hancur hingga tenggelam,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...