Komunitas di Bali Sebut Penanganan Sampah Harus Dimulai dari Hulu

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

192

BADUNG — Komunitas bye bye plastic bags and one island one voice Bali menilai, penanggulangan terhadap masalah sampah tidak cukup hanya melakukan pencegahan di hilirnya saja, melainkan harus dimulai dari hulunya.

“Artinya penanganan sampah harus dimulai dengan cara pengurangan atau bahkan kalau bisa pelarangan penggunaan plastik sebagai pembungkus makanan dan barang,” ucap founder Komunitas bye bye plastic bags and one island one voice Bali, Melati Wijsen saat ditemui, Rabu (8/8/2018).

Menurutnya, lebih dari 40 negara di dunia yang sudah melarang penggunaan plastik terhadap wadah barang. Beberapa negara lain sudah mengeluarkan kebijakan kena pajak. Hal tersebut terbukti mengurangi sampah serta dampaknya di negara-negara tersebut.

“Sebenarnya indonesia sudah pernah menerapkan di beberapa kota di 2016. Akan tetapi tinggal bagaimana tindak lanjutnya. Meski hanya lima bulan tapi itu sudah mampu mengurangi sampah,” imbuh wanita berusia 17 tahun ini.

Untuk di Bali sendiri, kesadaran masyarakat akan bahaya penggunaan plastik sebagai wadah ini cenderung positif. Mereka mulai tidak bergantung, bahkan, beberapa waktu lalu dalam pertemuan dengan 35 usaha di Bali, mereka sudah sepakat untuk tidak menggunakan wadah plastik dalam setiap transaksinya.

“Di Dalam pertemuan itu, kami juga melatih bagaimana mencari wadah pengganti. Misalnya penggunaan kain dari sabut kelapa, dan daun sehingga bisa terurai menjadi pupuk alami jika dibuang,” pungkasnya.

Melati Wijsen sendiri merupakan pendiri lembaga bye bye plastic bags and one island one voice yang gencar mengkampanyekan bebas penggunaan plastik sebagai wadah.

Lembaga non profit ini secara konsisten berjalan selama kurang lebih 4 tahun belakangan. Ia akan menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan Annual Meeting World Bank Oktober mendatang.

Baca Juga
Lihat juga...