Korban Gempa Lombok Trauma Balik ke Rumah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

129

LOMBOK — Bencana gempa bumi yang mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat tidak saja telah meluluhlantakkan rumah serta bangunan lain hingga tidak ada yang tersisa. Tetapi juga memakan ratusan korban jiwa dan ribuan korban luka.

Bencana gempa yang terjadi sejak 29 Juli dengan kekuatan 6,4 skala richter dan 7,0 pada Minggu, 5 Agustus 2018, disertai gempa susulan juga telah menyisakan trauma mendalam di kalangan masyarakat yang hingga saat ini masih berada di lokasi pengungsian.

Syamudin, warga Desa Santong, Kecamatan Kayangan Lombok Utara mengatakan, sejak gempa dahsyat 7,0 SR yang merobohkan dan merusak bangunan, ia memilih tetap berada di lokasi pengungsian dan tidak pernah kembali ke rumah.

“Gempa kemarin benar-benar membuat warga trauma, makanya hingga sekarang tidak pernah berfikir untuk pulang dan memilih tetap berada di lokasi pengungsian sampai waktu lama,” kata Syamudin, Jum’at (10/8/2018).

Syamudin, warga korban gempa Desa Santong, Lombok Utara di lokasi pengungsian. Foto: Turmuzi

Apalagi pasca gempa 6,4 dan 7,0 gempa susulan terus terjadi, meski kekuatannya lebih kecil, tapi itu sudah membuat masyarakat takut dan berfikir ulang untuk balik ke rumah.

Dikatakan, dengan kondisi rumah yang telah porak poranda akibat diguncang gempa, dirinya dan warga lain yang mengungsi, tidak banyak bisa berbuat. Selain hanya bisa pasrah dan berharap mendapatkan bantuan selama berada di lokasi pengungsian.

“Sekarang ini tidak ada bisa diperbuat, mau balik, selain rumah sudah rusak parah, gempa susulan juga terus terjadi, membuat kita takut pulang. Terpaksa tetap berada di lokasi pengungsian,” katanya.

Tini, warga lain mengaku gempa selain menghancurkan rumah, juga benar-benar telah mengubur seluruh harta benda dimiliki. Saat ini dirinya tidak memiliki apa-apa.

Saat gempa terjadi, dirinya dan keluarga hanya membawa diri dengan pakaian yang melekat pada tubuhnya, tidak ada barang apapun yang bisa diselamatkan dari rumah, karena gempa terjadi begitu cepat dan menghancurkan segalanya.

“Sekarang ini tidak memiliki apa-apa, tidak ada tersisa, rumah sudah hancur, uang tidak ada, mau bangun pakai apa,” kata Tini sedih.

Tini pun berharap janji pemerintah hendak memberikan bantuan membangun rumah bisa terealisasikan, supaya ada tempat tinggal kembali bersama keluarga.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.