KPK Periksa Wali Kota Dumai, Saksi Korupsi Perimbangan Keuangan Daerah

Editor: Satmoko Budi Santoso

372
Kabiro Humas KPK Febri Diansyah - Foto Eko Sulestyono

JAKARTA – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil sekaligus melakukan pemeriksaan terhadap Zulkifli, Wali Kota Dumai, Provinsi Riau. Zulkifli diperiksa sebagai saksi dalam kasus perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) berupa penerimaan suap atau gratifikasi yang menjerat oknum pegawai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia.

Kabiro Humas KPK, Febri Diansyah, menjelaskan bahwa keterangan Zulkifli diperlukan penyidik KPK untuk mendalami terkait adanya usulan dana perimbangan keuangan daerah. Dana tersebut sedang diusulkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) Tahun 2018.

Febri mengatakan, Zulkifli bersama sejumlah saksi lainnya kembali dipanggil dan diperiksa penyidik KPK untuk tersangka Yaya Purnomo (YP). “Zulkifli sebelumnya sempat dipanggil KPK, namun saat itu yang bersangkutan tidak memenuhi panggilan pemeriksaan,” jelasnya di Gedung KPK Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Febri menjelaskan bahwa penyidik KPK juga memanggil sejumlah saksi lainnya dalam kasus perkara yang sama. Menurut Febri, saksi-saksi tersebut juga akan diperiksa dan dimintai keterangan untuk tersangka Yaya Purnomo.

Di antaranya adalah Cecep Zainal Kholis Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Tasikmalaya, Adang Mulyana Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tasikmalaya, Galuh Wijaya Sekretaris Wali Kota Tasikmalaya, Pepi Nurcahyadi Ajudan Wali Kota Tasikmalaya, Ahmad Fuad Pegawai Sub Bagian Administrasi, dan Umum Pemkab Labuhanbatu Utara serta Tengku Mestika Mayang Direktur Utama (Dirut) Rumah Sakit Daerah (RSUD) Labuhanbatu Utara.

Menurut Febri, dalam kesempatan tersebut, penyidik KPK juga memanggil saksi untuk tersangka Amin Santono. Saksi yang dipanggil masing-masing adalah Azis Zaenal Bupati Kampar, Kalimantan Barat dan seorang pemilik biro perjalanan atau travel bernama Linda.

Penyidik KPK hingga saat ini telah menetapkan 4 tersangka, masing-masimg Amin Santono, oknum Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPR) Republik Indonesia, kemudian Eka Kamaluddin, Yaya Purnomo dan seorang kontraktor atau pengusaha bernama Ahmad Ghiast.

KPK meyakini bahwa Ahmad Ghiast diduga berperan sebagai koordinator sekaligus pihak pengepul dana sejumlah pengusaha atau kontaktor dari wikayah Sumedang, Jawa Barat. Uang tersebut diduga secara bertahap diberikan sebagai suap atau gratifikasi untuk tersangka Amin Santono.

Saat menggelar kegiatan Operasi Tangkap Tangan (OTT), petugas KPK berhasil menyita dan mengamankan sejumlah barang bukti berupa sejumlah aset. Barang bukti tersebut di antaranya adalah logam mulai berupa emas batangan seberat 1,9 kilogram (kg), uang tunai sebesar Rp1,8 miliar, uang tunai sebesar 63 ribu Dolar Singapura (SGD), uang tunai sebesar 12.500 Dolar Amerika (USD) dan 1 unit Jeep Wrangler Rubicon yang diduga merupakan milik Yaya Purnomo.

Saat melakukan kegiatan penggeledahan, petugas KPK sempat menggeledah sejumlah Rumah Dinas Anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), apartemen tenaga ahli Fraksi PAN hingga rumah kediaman pribadi pengurus Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Petugas KPK juga berhasil menemukan dan menyita sejumlah barang bukti berupa 1 unit mobil Toyota Camry dan uang tunai sebesar Rp1,4 miliar. Selain itu juga berhasil diamankan sejumlah barang bukti lainnya termasuk proposal terkait usulan anggaran yang berasal dari sejumlah daerah.

Baca Juga
Lihat juga...