KPK Periksa Sofyan Bashir dan Johannes Budisutrisno Kotjo

Editor: Satmoko Budi Santoso

317
Tersangka Johannes Budisutrisno Kotjo (rompi oranye) yang akan diperiksa bersamaan dengan Sofyan Bashir - Foto Eko Sulestyono

JAKARTA — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan pemeriksaan terhadap Sofyan Bashir, Direktur Utama (Dirut) PT. PLN (Persero). Sofyan hari ini datang ke Gedung KPK Jakarta memenuhi panggilan pemeriksaan setelah sebelumnya tidak datang alias absen.

Saat itu Sofyan mengaku tidak bisa menghadiri panggilan penyidik karena dirinya kebetulan sedang mengikuti Rapat Terbatas (Ratas Terbatas) di Istana Bogor, Jawa Barat. Sofyan sempat meminta dilakukan penjadwalan ulang pemeriksaan terhadap dirinya di lain hari.

“Ya benar hari ini saya diperiksa sebagai saksi,” jelas Sofyan di Gedung KPK Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Pantauan Cendana News langsung dari Gedung KPK Jakarta, Sofyan datang bersama tersangka Johannes Budisutrisno Kotjo (JBK) yang juga mengenakan rompi tahanan KPK warna oranye.

Saat ditanya wartawan, tersangka JBK juga membenarkan bahwa dirinya akan diperiksa dan dimintai keterangan bersama Sofyan Bashir.

Hingga saat ini, belum ada keterangan dari KPK. Namun, menurut Sofyan, dirinya akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Johannes Budisutrisno Kotjo (JBK). Pemeriksaan diduga berkaitan dengan kasus perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) berupa suap atau gratifikasi terkait proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau 1 di Provinsi Riau.

Penyidik KPK telah menetapkan sejumlah tersangka dalam kasus tersebut, di antaranya adalah Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia Eni Maulani Saragih.

Eni diduga telah menerima sejumlah uang yang diduga sebagai suap atau gratifikasi dari tersangka JBK.

KPK menduga bahwa Eni telah menerima uang tunai dengan jumlah keseluruhan sebesar Rp4,5 miliar yang diduga merupakan pemberian tersangka JBK. KPK meyakini pemberian uang tersebut untuk memuluskan proses penandatanganan kerja sama terkait pembangunan PLTU Riau-1.

Tersangka JBK merupakan pemegang saham terbesar Blackgold Natural Resources Limited. KPK hingga saat ini telah mengamankan uang tunai Rp500 juta saat melakukan kegiatan Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Eni berhasil ditangkap dan diamankan petugas KPK saat sedang berada di Rumah Dinas (Rumdin) Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham. Eni saat itu kebetulan sedang menghadiri acara ulang tahun anak Idrus Marham di kawasan Widya Chandra, Jakarta Selatan.

Uang tunai yang berhasil ditemukan dan disita KPK tersebut diduga merupakan pemberian keempat yang selama ini pernah diterima tersangka Eni. Uang tersebut diduga diberikan karena berkaitan dengan jabatan dan kewenangan Eni sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR RI.

KPK menduga bahwa pemberian pertama yang diterima Eni dilakukan pada Desember 2017 sebesar Rp2 miliar, pemberian kedua pada Maret 2018 sebesar Rp2 miliar, sedangkan pemberian ketiga pada 8 Juni 2018 sebesar Rp300 juta.

KPK hingga saat ini masih menelusuri dan mendalami terkait aliran dana yang pernah diterima tersangka Eni.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.