KPK Periksa Suherlan, Terkait Barang Bukti di Apartemen

Editor: Satmoko Budi Santoso

534
Pelaksana Kabiro Humas KPK Yuyuk Andriati - Foto Eko Sulestyono

JAKARTA – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sempat memeriksa dan meminta keterangan Suherlan dalam kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Suherlan merupakan seorang tenaga ahli dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Dewan Pewakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia.

Pelaksana Harian (PLH) Kabiro Humas KPK, Yuyuk Andriati mengatakan, saksi Suherlan sempat ditanya banyak hal oleh penyidik KPK, di antaranya menggali sejumlah informasi terkait hasil temuan sejumlah barang bukti. “Saat melakukan kegiatan penggeledahan di apartemen yang terketak di kawasan Kalibata City, Jakarta Selatan,” jelasnya di Gedung KPK Jakarta, Senin (6/8/2018).

Penyidik KPK meyakini bahwa temuan sejumlah barang bukti tersebut diduga berkaitan dengan kasus dugaan korupsi berupa penerimaan suap atau gratifikasi. Salah satunya adalah rencana atau usulan terkait dana perimbangan daerah yang akan dibahas dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) Tahun Anggaran (TA) 2018.

Yuyuk Andriati menjelaskan, bahwa penyidik KPK menanyakan kepada Suherlan terkait sejumlah penemuan saat melakukan kegiatan penggeledahan di apartemen yang bersangkutan.

KPK menduga ada penerimaan sejumlah proposal dari Pemerintah Daerah (Pemda) yang disampaikan kepada Suherlan.

Menurut Yuyuk, penyidik KPK juga bertanya kepada Suherlan, terkait temuan barang bukti lainnya, di antaranya adalah mobil jenis sedan merek Toyota Camry yang sempat disita dari apartemennya.

Namun Yuyuk masih enggan atau belum bersedia menjawab, saat ditanya wartawan lebih detil terkait maksud tujuan pemeriksaan tersebut.

Sementara itu, hingga saat ini, ada sejumlah saksi yang dipanggil penyidik KPK namun tidak hadir, salah satunya adalah Puji Suhartono. Puji merupakan Wakil Bendahara Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), menurut keterangan Yuyuk, yang bersangkutan telah mengirimkan surat terkait alasan tidak datang untuk memenuhi panggilan KPK.

Penyidik KPK hingga saat ini telah menetapkan 4 orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi. Masing-masing adalah Amin Santono, Oknum Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, kemudian Eka Kamaluddin perantara dan Yaya Purnomo, mantan pejabat di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia yang ditetapkan sebagai tersangka penerima suap.

KPK juga telah menetapkan Ahmad Ghiast, seorang kontraktor sebagai tersangka karena diduga pihak pemberi suap atau penyuap terhadap tersangka kepada Amin Santono.

Sementara itu, sumber dana anggaran untuk menyuap tersebut diduga berasal dari pemberian atau sumbangan sejumlah kontraktor di wilayah Sumedang, Provinsi Jawa Barat.

Menurut Yuyuk, pihak penyidik KPk menduga dalam kasus ini tersangka Ahmad berperan sebagai koordinator sekaligus pengepul sejumlah sumbangan dana atau anggaran yang bersumber dari pemberian sejumlah kontraktor tersebut.

Petugas KPK juga berhasil menemukan dan menyita sejumlah barang bukti berupa aset saat melakukan kegiatan Operasi Tangkap Tangan (OTT). Hingga saat ini, KPK masih melakukan penelusuran dan pendalaman terkait dari mana asal temuan sejumlah barang bukti tersebut.

Aset yang berhasil diamankan di antaranya logam mulai berupa emas seberat 1,9 kg, kemudian uang sebesar Rp1,8 miliar, uang sebesar 63 ribu Dolar Singapura (SGD) dan uang sebesar 12.500 Dolar Amerika (USD) dari apartemen Yaya.

Dalam penggeledahan tersebut, petugas KPK juga berhasil menyita dan mengamankan barang bukti lainnya, masing-masing mobil Jeep Wrangler Rubicon yang diduga milik Yaya.

Baca Juga
Lihat juga...