Kuliner Khas Limapuluh Kota Digemari Wisatawan

Editor: Koko Triarko

139
LIMAPULUH KOTA – Kabupaten Limapuluh Kota di Sumatera Barat, memiliki banyak jenis kuliner khas selera Minangkabau. Di daerah ini, juga cukup banyak ditemukan kuliner yang dikerjakan secara tradisional.
Ada kemungkinan, angka 50 (limapuluh) sebagai nama kabupaten itu, berhubungan dengan banyaknya jenis kuliner yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota.
Namun dari pendataan yang dilakukan oleh  Pusat Layanan Usaha Terpadu, Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM), yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota, dan yang merupakan PLUT-KUMKM satu-satunya yang ada di Provinsi Sumatera Barat, memang cukup banyak kuliner yang di daerah itu, dan bahkan dikenal dengan kuliner paling laris di pasaran.
Konsultan Pendamping yang bertanggungjawab di Bidang Kelembagaan PLUT-KUMKM, Linda Oktaviana, mengatakan, kuliner yang paling terkenal dan terlaris itu berupa makanan seperti kerupuk, selain dari rendang dan juga galamai.
Beberapa kuliner khas di antaranya kue kareh lapan-lapan, kerupuk sanjai baladai, ubi cincang, kerupuk baguak, stick wortel, dan banyak lagi kuliner yang paling diminati oleh masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Limapuluh Kota.
“Soal rendang dan  galamai sudah tidak diragukan. Produk galamai terbesar itu ada di Kabupaten Limapuluh Kota. Maka, setiap orang yang datang ke sini, galamai adalah oleh-oleh wajib untuk dibawa. Begitu juga dengan kerupuk lainnya, juga tidak mau ketinggalan, karena kerupuk yang dijual di Limapuluh Kota, soal rasa itu yang paling enak itu adanya di Limapuluh Kota,” ujarnya, Sabtu (4/8/2018).
Kuliner atau oleh-oleh yang dijual di Limapuluh Kota dibuat langsung oleh masyarakat setempat, yang terdiri dari usaha rumahan dan bahkan sudah memiliki suatu pabrik mini dalam memproduksi jajanan tersebut. Pemasakannya pun dilakukan tradisional, seperti melalui proses pembersihan, pemotongan, penjemuran, dan penggorengan. Semuanya melalui proses secara tradisional.
Ia menjelaskan, alasan kenapa kue yang ada di Limapuluh Kota, laris semua, karena rasa yang enak, memiliki izin dari BPOM dan label halal dari MUI, serta harga yang sangat terjangkau.
Seperti kue lapan-lapan, rata-rata harga yang dijual setiap kemasan itu Rp9.000, dan Rp15.000 per kilogramnya. Harga ini akan mengalami perbedaan di setiap lokasi penjualan.
Biasanya, jika ingin membeli makanan  tradisional itu di pasar, maka akan mendapatkan harga yang agak murah. Sementara jika membeli makanannya di sekitar lokasi wisata, seperti di kawasan wisata Lemabah Harau atau pun ke Kota Bukittinggi Jam Gadang, akan mendapatkan harga lebih tinggi sedikit dari harga di pasar.
“Senadainya di pasar Rp10.000 per kilogram, kalau di lokasi wisata Rp13.000 per kilogramnya. Penyabab naiknya, ya wisatawan tidak perlu mengeluarkan biaya dan ongkos untuk pergi ke pasar, dan cukup belanja sambil wisata,” ujarnya.
Soal kuliner ini, baik yang kering atau pun yang basah, seperti rumah makan, Limapuluh Kota bisa dikatakan sudah sangat terkenal dengan kulinernya. Bahkan, ada yang menyatakan lahirnya galamai adalah di Kabupaten Limapuluh Kota.
Ia menyebutkan, PLUT sendiri merupakan lembaga yang membina pelaku UMKM. Tidak hanya memberikan palatihan, bahkan di kantor PLUT pun turut menjadi tempat pemasaran produk kuliner dari pelaku usaha yang ada di Limapuluh Kota. Mulai dari menjual produk makanan hingga ke produk kerajinan.
“PLUT-KUMKM merupakan lembaga yang menyediakan jasa nonfinansial yang menyeluruh dan terintegrasi bagi KUMKM, guna meningkatkan produksi. Begitu juga dengan produk makanannya, karena memang kebanyakan usaha di sini, merupakan usaha penjual kuliner,” ucapnya.
Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.