hut

Lebih 1.000 Siswa di Bali Tunda Vaksinasi

Editor: Koko Triarko

DENPASAR – Puskesmas II Denpasar Barat, terus melakukan pemberian Vaksin Measles Rubella (MR) dan Campak kepada masyarakat, khususnya di wilayah Denpasar Barat.
Pelaksanaan sosialisasi dan vaksinasi secara teknis, sarana dan prasarana dan logistik kepada masyarakat tidak ada kendala di lapangan. Tetapi masih ada sejumlah sekolah, baik formal maupun nonformal, yang mayoritas siswanya muslim menanyakan sertifikat halal dari MUI. Akibatnya, pihak Puskesmas II Denpasar terpaksa melakukan penundaan dalam pemberian vaksin ke beberapa sekolah tersebut.
“Jadi, sifatnya penundaan ya, bukan penolakan,” ucap Made Suantari, Koordinator Pelaksana Program Imunisasi Puskesmas II Denpasar Barat, saat dihubungi Jumat, (17/8/2018).
Made Suantari Koordinator Pelaksana Program Imunisasi Puskesmas II Denpasar Barat. -Foto: Sultan Anshori.
Made Suantari, menambahkan, berdasarkan catatan yang dimiliki, ada empat TK, dan satu SD. Sementara untuk sekolah nonformal ada satu sekolah. Total siswa yang belum dilakukan vaksinasi sebanyak 1.300an anak. Tetapi, tidak semua sekolah yang mayoritas muridnya muslim menunda vaksinasi.
Pihaknya terus melakukan pendekatan terhadap pihak sekolah, dalam hal ini guru maupun wali murid, yang masih menunda vaksinasi ini. Karena sesuai dengan surat edaran yang dikeluarkan oleh Kemenkes, pihaknya tetap disarankan melakukan vaksinasi hingga akhir bulan September, mendatang.
“Kami sudah bersurat juga ke beberapa sekolah itu dengan disertai dukungan dari Lembaga NU dan Muhammadiyah, untuk tetap melakukan vaksinasi. Semoga mereka bisa menerima program ini,” kata Suantari, lagi.
Sementara itu, Kepala Puskesmas II Denpasar Barat, dr. Lanawati, menjelaskan, saat ini pihaknya sudah turun ke sekolah-sekolah untuk memberikan vaksin ini. Dari data yang dimiliki, hingga pertanggungjawaban 16 Agustus kemarin tercatat sudah 13.260 anak yang divaksinasi.
“Target kami untuk vaksin MR dan Rubella ini sekitar 23 ribuan jiwa, dengan sasaran anak-anak dari usia sembilan hingga usia di bawah 15 tahun,” ucap dr. Lanawati, kepada Cendana News.
Dokter asal Solo ini juga menjelaskan, setelah tahap pemberian vaksin selesai di sekolah-sekolah pada bulan Agustus ini, pihaknya akan melakukan pemberian vaksin di tingkat banjar yang ada di setiap desa.
Sasarannya adalah anak-anak yang berusia sembilan hingga di bawah lima tahun. Pihaknya optimis, program pemberian vaksin ini berhasil 100 persen, karena dari awal pihaknya secara intens melakukan sosialisasi akan pentingnya pemberian vaksin ini kepada anak mereka.
“Imunisasi ini merupakan hak anak yang sangat penting diberikan sejak dini. Karena penyakit Rubella dan Campak itu bisa menyebabkan kecacatan, bahkan kematian. Termasuk pada ibu hamil, sangat berisiko menular kepada bayinya,” jelas dr. Lanawati.
Dinas Kesehatan Bali, terus berupaya memastikan pemberian vaksin tersebut merata kepada masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat tenaga kesehatan di sembilan kabupaten kota di Bali, yang menjadi koordinator di masing-masing tingkatan untuk vaksinasi massal ini.
“Target kami minimal 95 persen pelaksanaan imunisasi ini di seluruh Bali,” ucap Ketut Suarjaya, selaku Kepala Dinkes Provinsi Bali, saat dihubungi secara terpisah.
Menurut data WHO, tercatat hingga 1980, sekitar 20 juta orang diperkirakan terkena campak, dan 2,6 juta kematian setiap tahunnya. Imunisasi campak sejak 1982 mulai diberikan sejak anak berusia sembilan bulan.
Pada 2000, terjadi peningkatan kasus campak pada anak usia sekolah di Indonesia. Hasil pemeriksaan kekebalan anak terhadap campak pada usia tersebut, menurun.
“Hal itu menjadi dasar pemberian imunisasi campak meluas pada anak usia sekolah dasar, agar mata rantai virus tersebut bisa putus,” pungkas Kadis asal Buleleng ini.
Lihat juga...