Lebih Menguntungkan, Petani Beralih Tanam Timun

Editor: Satmoko Budi Santoso

832

LAMPUNG – Musim kemarau yang melanda wilayah Lampung Selatan berimbas sejumlah lahan pertanian mengalami kekeringan.

Lahan pertanian di Desa Hargo Pancuran, Desa Kerinjing, Kecamatan Rajabasa, dan Desa Totoharjo, yang semula ditanami padi bahkan telah diubah menjadi lahan pertanian hortikultura di antaranya sayuran kacang panjang, sawi, terong dan beragam sayuran lain. Sebagian petani bahkan dominan melakukan penanaman timun benih.

Rujito (59), salah satu petani di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, pemilik lahan seluas satu hektar mengaku, berhenti menanam padi sejak setahun terakhir. Ia menyebut, selama menanam padi varietas Ciherang dengan mengandalkan Sungai Way Andeng kerap mengalami serangan hama penyakit.

Pola tanam tidak serempak disebutnya menjadi penyebab sebagian petani gagal panen ditambah musim kemarau yang melanda wilayah tersebut.

Edi melakukan proses penyerbukan atau perkawinan bunga timun benih untuk menghasilkan biji timun benih [Foto: Henk Widi]
“Pertimbangan faktor gagal panen saat menanam padi, banyak petani menanam sayuran. Lalu ada tawaran dari produsen benih timun untuk melakukan kemitraan sehingga banyak petani beralih dari menanam padi ke tanaman timun,” terang Rujito, salah satu petani penanam timun benih di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, saat ditemui Cendana News, Senin (6/8/2018).

Rujito menyebut, keputusan untuk beralih menanam timun benih, diakuinya, dilakukan setelah melakukan kalkulasi biaya operasional penanaman padi yang besar dengan keuntungan kecil.

Pada penanaman padi dengan modal sekitar Rp5 juta untuk menanam padi, dirinya bisa mendapatkan omzet sekitar Rp12 juta. Dipotong biaya operasional, dirinya masih bisa mengantongi keuntungan bersih Rp7 juta. Saat harga gabah kering Rp400 per kilogram dan hasil panen 3 ton.

Ia menyebut, proses perawatan dan pola tanam padi cukup lama berkisar 100 hingga 120 hari untuk jenis padi Ciherang. Omzet sekitar Rp12 juta tersebut saat hasil panen dalam kondisi normal tanpa serangan hama penyakit dan kondisi cuaca kemarau.

Saat kemarau, ia memastikan, penanaman padi bahkan kerap mengalami gagal panen dengan hasil yang kurang memuaskan ditambah harga gabah kering panen (GKP) yang kerap anjlok saat panen raya.

“Puncaknya, kami memutuskan berhenti menanam padi setelah dua tahun sebelumnya padi mengalami serangan hama wereng, gagal panen,” cetus Rujito.

Setelah satu tahun menanam timun benih, ia mulai masuk dalam kelompok tani kemitraan. Sebanyak 50 anggota kelompok tersebar di sejumlah desa dan kecamatan tergabung dalam petani pembudidaya timun benih.

Berbagai tipe (ukuran benih) timun yang ditanam petani di Kecamatan Bakauheni, Rajabasa dan Penengahan, meliputi tipe 15, 23, 24, 28, 34 serta sejumlah tipe benih.

Rujito menyebut, setiap tipe memiliki harga berbeda dari mulai Rp300 ribu, Rp400 ribu hingga Rp600 ribu per kilogram dalam kondisi kering. Dua kali masa tanam sebelumnya dengan usia panen 55 hari, Rujito pernah menanam timun benih tipe 23 sebanyak 29 kilogram dari sebanyak 1500 batang dengan omzet Rp11,6 juta.

Dirinya masih bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp6,6 juta. Keuntungan bersih tersebut diakuinya dikurangi biaya operasional sekitar Rp5 juta sekali musim tanam.

Selain Rujito, penanam timun benih lain bernama Edi (30) mengaku, mengubah lahan sawah yang ditanam padi untuk menanam timun benih. Pola kemitraan dengan 50 petani termasuk dirinya dijamin dari sisi pendampingan, pasokan benih hingga jaminan hasil penih dibeli perusahaan.

Selain itu, pola pemeliharaan timun benih tidak membutuhkan air dalam jumlah banyak seperti menanam padi.

“Selain faktor gagalnya menanam padi, kalkulasi keuntungan relatif singkat menjadi alasan kami beralih dari padi ke timun,” beber Edi.

Edi menyebut, pada masa tanam bulan Juni, ia menanam timun tipe 23 sebanyak 4000 batang. Pada usia 30 hari, ia menyebut, sedang memasuki masa penyerbukan atau perkawinan antara timun jantan dan betina untuk proses mendapatkan biji.

Timun tersebut baru bisa dipanen saat usia 55 hari hingga maksimal 60 hari. Berkaca dari masa tanam sebelumnya, ia bisa memperoleh hasil sebanyak 40 kilogram.

Hasil benih timun kering, setelah melalui uji laboratorium, bisa menghasilkan omzet sekitar Rp16 juta selama dua bulan. Dua bulan tersebut, diakui Edi, dirinya mengeluarkan modal sebesar Rp6 juta mulai dari penyediaan benih, perawatan hingga pemanenan.

Hasil sebanyak Rp16 juta, disebutnya, dikurangi Rp6 juta, ia masih bisa mendapat keuntungan bersih sekitar Rp10 juta.

“Keuntungan yang lumayan selama dua bulan dibandingkan menanam padi sudah terbukti jadi banyak petani seperti saya memilih menanam timun,” terang Edi.

Pada musim kemarau, ia juga menyebut, proses penanaman timun benih lebih berpotensi berhasil. Pasalnya dengan minimnya hujan, proses penyerbukan dengan bantuan manusia lebih berhasil.

Kondisi tanaman yang masih tetap mendapat pasokan air selama kemarau lebih baik dengan risiko minim batang mengalami pembusukan.

Selain menanam timun benih, pada lahan lain dirinya menanam sayuran terong sebanyak 500 batang dengan hasil bisa mencapai 2 kuintal sebagai pasokan untuk pedagang sayur. Harga terong mencapai Rp3 ribu per kilogram, membuat ia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp600 ribu dari budidaya terong.

Hasil yang beragam tersebut membuat petani di wilayah tersebut, diakui Edi, memilih budidaya timun dibandingkan padi dalam dua tahun terakhir.

Baca Juga
Lihat juga...