Lumbung Aksara dari Ibu Tien Soeharto Bernama Perpustakaan Nasional

Oleh Thowaf Zuharon

363

Serial Tulisan Memperingati Setengah Abad Yayasan Harapan Kita yang akan diperingati pada 23 Agustus 2018

Sebuah peribahasa Latin kuno yang berbunyi verba volant scripta manent (Segala yang terkatakan akan segera lenyap, segala yang tertulis akan selalu abadi, Red), merupakan peribahasa yang sangat sesuai kita hadiahkan bagi kiprah luhur Ibu Fatimah Siti Hartinah Soeharto, pendiri Yayasan Harapan Kita.

Gagasan Ibu Tien Soeharto atas pentingnya dibangun Perpustakaan nasional, merupakan bukti kesadarannya tentang gerakan keberaksaraan, juga pentingnya peran buku dan minat baca dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas. Artinya, sosok Ibu Negara asal Solo ini memang memiliki perhatian besar dalam dunia pendidikan.

Thowaf Zuharon. Foto: Dokumentasi CDN

Bisa jadi, Ibu Tien Soeharto sangat paham, rangkaian aksara dan bahasa yang tertuang di dalam prasasti daun lontar, pahatan aksara di dinding-dinding goa, juga kisah-kisah yang dirautkan di berbagai kulit binatang atau papyrus di masa lalu, kakawin dan puja sastra yang ditorehkan dalam berbagai kitab jawa kuno, ternyata banyak mempengaruhi berbagai peristiwa maupun kebijakan sebuah negara.

Senyatanya, semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang ditorehkan oleh Empu Tantular di dalam Kitab Sutasoma, menjadi semboyan yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia pada lambang Negara Indonesia Garuda Pancasila. Padahal, kitab Sutasoma ditulis pada abad ke-14, sedangkan Garuda Pancasila berikut semboyannya dirangkai pada 1950.

Ada jarak waktu lebih dari setengah abad, tapi pengaruh keluhuran nilai Sutasoma masih mampu mematri falsafah kenegaraan Bangsa Indonesia. Jika kitab Sutasoma itu lenyap karena perang dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika tidak merasuk dalam jiwa pemimpin Indonesia saat itu, barangkali, arah kebijakan negara Indonesia tidak akan seperti sekarang.

Kita tidak bisa membayangkan juga, jika kitab Negarakertagama (naskah aslinya bernama Desa Warnana) yang memiliki arti Negara dengan tradisi (agama) yang suci, karangan Empu Prapanca, tidak diselamatkan oleh peneliti Belanda bernama J.L.A Brandes pada tahun tahun 1894 di istana Raja Lombok, naskah ini pasti lenyap dibakar bersama seluruh buku di perpustakaan kerajaan. Padahal, Negarakertagama merupakan naskah tunggal yang berhasil ditemukan dan selamat, setelah selesai ditulis pada tahun 1365.

Kesadaran atas pentingnya buku dalam membangun pondasi kecerdasan bagi peradaban Indonesia, sangat dirasakan oleh Ibu Tien Soeharto pada suatu hari dalam bulan Oktober 1968, ketika ia membaca berita di sebuah surat kabar mengenai diselenggarakannya pameran surat kabar langka di Perpustakaan Museum Pusat.

Sungguh kebetulan, nama penanggungjawab penyelenggaranya adalah Mastini Hardjoprakoso, yang tak lain adalah sahabatnya ketika masa remaja di Puri Mangkunegaran.

Saat itu, Mastini sebagai Kepala Perpustakaan Museum Pusat, berupaya mempromosikan pentingnya perpustakaan kepada masyarakat. Mastini bertujuan, dengan membuka pameran surat kabar yang usianya sudah ratusan tahun, bisa menambah minat masyarakat. Sehingga, Mastini menampilkan lebih dari seratus judul koran dari koran yang diterbitkan pada masa Gubernur Jenderal Daendels, Thomas Stamford Raffles, koran yang memuat Perang Diponegoro, hingga berdirinya Boedi Oetomo.

Ketika Ibu Tien Soeharto berkunjung ke Museum Pusat pada 8 Oktober 1968, Ibu Tien banyak mendapat penjelasan tentang keterbatasan dan permasalahan yang dihadapi lembaga tersebut. Ibu Tien juga menyaksikan ruangan besar nan lembab yang dipenuhi segala macam terbitan dan dokumen-dokumen lama. Ketika menyaksikan dokumen-dokumen yang sangat besar nilainya dan besar pula manfaatnya untuk pembangunan bangsa di masa depan, Ibu Tien mulai gelisah.

Selaras dengan semangat Verba Volant Scripta Manent, Ibu Tien merenung, bahwa masa sekarang adalah hasil dari masa lampau. Masa depan adalah hasil dari masa sekarang. Tentu saja ada hal-hal di masa lampau yang bukan saja tidak cocok dengan masa sekarang, malahan, sebagian harus kita tinggalkan sama sekali. Untuk mengetahui apa yang bisa kita pertahankan dan apa yang harus kita tinggalkan, manusia perlu mempelajari masa lampau. Segala hal yang baik, tentu bisa didapat dan dikaji dari dokumen-dokumen masa lampau.

Maka, berangkat dari kegelisahan atas pentingnya memelihara aksara dan buku, Ibu Tien bertekad, dokumen-dokumen itu harus tersimpan dengan baik dan terawat dengan teliti dalam Perpustakaan Nasional. Sekali dokumen itu hilang atau rusak, maka Bangsa Indonesia kehilangan sumber yang tidak ternilai harganya dan tidak pernah tergantikan buat selama-lamanya. Bagi Ibu Tien, harus ada gedung Perpustakaan Nasional yang memenuhi syarat dan mampu menampung kebutuhan ke masa depan yang jauh.

Ibu Tien pun melakukan persuasi kepada Pak Harto sebagai Presiden Indonesia. Ibu Tien kembali mendatangi Mastini, bersama Presiden Soeharto. Strategi Ibu Tien mengajak Pak Harto berkunjung ke Perpustakaan, akhirnya membuahkan hasil. Pak Harto merestui gagasan isterinya untuk membangun gedung Perpustakaan Nasional. Para pengurus YHK pun secara bulat mendukungnya. Namun, jalan untuk mewujudkan perpustakaan nasional tersebut, cukup terjal dan berliku. Karena berbagai hal, sejak disetujui oleh pengurus YHK pada tahun 1971, realisasinya baru dimulai pada tahun 1985. Selain soal ketersediaan dana yang cukup besar, juga karena Ibu Tien menginginkan, perpustakaan tersebut berada di tempat yang strategis, sementara lahan yang dibutuhkan tidak kurang dari 1 hektare.

Puji syukur, Ibu Tien mendapatkan solusi ketika melintasi Jalan Salemba Raya dan melihat sebuah gedung tua dengan halaman yang luas. Gedung itu milik Pusat Kesehatan Angkatan Darat. Menurut Ibu Tien, ini tempat yang cocok untuk dibangun Perpustakaan Nasional.

Sebagai Ketua Yayasan Harapan Kita, ia melakukan pembicaraan dengan pihak Angkatan Darat agar bersedia melakukan tukar guling atas lahan dan bangunan tersebut. YHK menyediakan lahan yang cukup luas untuk ditukar. Tentu saja, TNI AD sangat memahami keinginan mulia Ibu Tien. Dan pihak Angkatan Darat percaya, bahwa ikhtiar membangun perpustakaan nasional yang dilakukan Ibu Negara, tiada lain dalam rangka mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa.

Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan sebesar 10 milyar rupiah pun, bisa dicari. Syaratnya, Perpustakaan Nasional mempercayakan pembangunannya kepada Yayasan Harapan Kita, termasuk penyediaan biaya untuk itu.

Pembangunan Gedung Perpustakaan Nasional pun dimulai pada 8 Desember 1985, dan dirampungkan pada Desember 1986. Akhirnya, pada 27 Januari 1987 dilakukan syukuran atas selesainya pemugaran. Pada acara tersebut Ibu Tien menyerahkan secara simbolik kunci gedung tersebut kepada Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Haryati Soebadio di aula Perpustakaan Nasional. Pembangunan gedung megah ini berhasil diselesaikan pada Oktober 1988 dan langsung dioperasionalkan.

Sedangkan dalam mengisi koleksi buku di Perpustakaan Nasional, juga memerlukan waktu berbulan-bulan, sebelum akhirnya siap diresmikan. Berdasarkan usulan Mastini, Ibu Tien memilih tanggal 11 Maret 1989 sebagai waktu peresmian Perpustakaan Nasional. Inilah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, hari ketika Presiden Soekarno menerbitkan surat perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk memulihkan keadaan dan menyelamatkan bangsa dari kudeta G30S/PKI yang dikenal dengan Supersemar.

Momentum Supersemar menjadi penananda awal lahirnya era baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam usaha mewujudkan cita-cita peradaban Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, sebagaimana telah digariskan oleh para pendiri bangsa.

Bagi Ibu Tien, pembangunan Perpustakaan Nasional adalah hasil kegotongroyongan masyarakat. Karena itu, gedung Perpustakaan Nasional yang telah dibangun oleh Yayasan Harapan Kita, dikembalikan lagi kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Sedangkan Pak Harto yang hadir dalam acara peresmian Perpustakaan Nasional, sangat mengapresiasi usaha gigih kaum ibu-ibu YHK yang telah berusaha turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Pak Harto sempat menyampaikan, bahwa Bangsa Indonesia harus mengembangkan semangat cinta buku dan gemar membaca, lebih-lebih bagi generasi baru, anak-anak, dan remaja.

Tentunya, bagi Bangsa Indonesia, bangunan Perpustakaan Nasional di Salemba yang lahir dari buah karya Ibu Tien Soeharto bersama pengurus YHK, telah mewujudkan “Lumbung Aksara” yang menjadi pondasi kecerdasan Bangsa Indonesia, dalam mewujudkan cita-cita luhur Pancasila dan UUD 1945, dengan menggenggam semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang diciptakan oleh Empu Tantular dalam Kitab Sutasoma.

Apalagi, sekarang ini, Perpustakaan Nasional gagasan ibu Tien tersebut, telah memiliki cabang di jalan Medan Merdeka dan telah menjadi Perpustakaan tertinggi di dunia dengan 24 lantai menjulang ke angkasa. Aksara yang memenuhi 24 lantai tersebut, juga aksara yang ada di Perpustakaan Salemba, telah menjadi jejak susunan aksara buah karya Ibu Tien yang akan selalu abadi (Scripta Manent).

Baca Juga
Lihat juga...