Mahakarya Ibu Tien Soeharto dan Yayasan Harapan Kita

OLEH DONNA SITA INDRIA

1.341

HANYA beberapa hari setelah peresmian dibukanya Taman Mini Indonesia Indah bagi seluruh bangsa Indonesia yang berlangsung pada 20 Mei 1975, seorang putri berusia 26 tahun bertanya kepada Ibundanya, dari dasar hati, “Alhamdulillah Ibu sudah berhasil mewujudkan gagasan yang hebat ini. Apakah saya juga akan dapat melakukan hal-hal yang luar biasa suatu saat nanti?”

Ketika itu keduanya berada di depan sebuah danau besar. Di sana terbentang replika miniatur Kepulauan Nusantara dari Sabang sampai Merauke, melintang dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote. Inilah inti keberadaan kawasan wisata seluas 150 hektare yang diberi nama Taman Mini Indonesia Indah yang dibangun selama tiga tahun di kawasan Timur Jakarta.

“Di sini negara Indonesia yang besar ditampilkan dalam bentuk yang kecil,” ungkap Ibu Tien Soeharto pada peresmian TMII.

Ibu Negara ini telah menghadirkan sebuah cagar budaya etnik yang unik, sangat Indonesia, siap menampilkan seni, adat dan budaya 27 provinsi masyarakatnya, dapat dikelilingi atau diamati dari kereta gantung atau monorail.

Tidak hanya menggagas, Ibu Tien Soeharto juga harus berjuang melaksanakan ide besarnya hingga terwujud taman wisata paling modern di Asia Tenggara masa itu.

Sedetik pertanyaan berlalu, Ibunda memandang yakin kepada putri sulungnya yang cantik, “Wuk, menurut Ibu setiap warga negara sedapat mungkin memberikan sumbangsihnya kepada bangsa. Tidak apa-apa meski hanya setitik saja. Yang penting berguna sebagai bagian dari pembangunan bangsa”.

Inilah percakapan ketika pembangunan tengah menjadi isu sentral pemerintahan Presiden Soeharto. Ibunda yang menjawab pertanyaan tak lain Ibu Negara Hj. Siti Hartinah Soeharto. Yang bertanya adalah Hj. Siti Hardiyanti Rukmana yang akrab disapa Mbak Tutut.

Ya Allah, setitik…. Alangkah teramat sangat rendah hatinya Ibu Tien Soeharto. Baginya, yang Mahabesar dan tidak terbandingkan hanya satu, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di hadapan Sang Mahapencipta ia merasa hanya mampu membuat setitik saja karya.

Nyatanya, bersama Yayasan Harapan Kita, Ibu Tien Soeharto membuat sederetan mahakarya yang masih sangat diperlukan dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat Indonesia hingga kini, 23 Agustus 2018. Lima puluh tahun setelah Yayasan Harapan Kita didirikan.

Empat tahun setelah percakapan di atas, pada 1979 Yayasan Harapan Kita mendirikan Rumah Sakit Anak dan Bersalin “Harapan Kita”.

Tidak berhenti di situ, Ibu Tien Soeharto dan teman-temannya pengurus yayasan mendirikan lagi Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah “Harapan Kita” pada 1985, disusul pembangunan Perpustakaan Nasional yang megah di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, pada 1989. Begitu pula Anggrek, tanaman eksotis dari hutan hujan Indonesia, dibuatkan taman sendiri untuk pengembangan dan pelestariannya.

Hari-hari bakti pengurus Yayasan Harapan Kita yang terdiri dari para istri menteri dan pejabat tinggi negara yang tergabung dalam RIA Pembangunan, disibukkan bebagai kegiatan sosial seperti pembagian sembako, menyantuni anak-anak cacat dan yatim piatu, juga membantu memenuhi keperluan korban bencana alam. Yang terbesar adalah penanganan korban meletusnya Gunung Galunggung di Tasikmalaya.

Mengelola dua rumah sakit dengan teknologi terbaru, peralatan canggih serta tim dokter yang hebat, paling menyentuh hati Mbak Tutut adalah perhatian Ibundanya terhadap masyarakat miskin.

“Banyak pasien tidak mampu yang dibantu, dibebaskan biaya rumah sakit dan biaya dokternya oleh Ibu. Beliau ikhlas mengganti sendiri semua biaya itu. Dorongan nurani Ibu mendirikan rumah sakit memang untuk menolong orang banyak,” kata Mbak Tutut.

1975 – TMII

Pada awal era pembangunan Indonesia dicanangkan Presiden Soeharto, buat sebagian masyarakat kita di masa itu, berwisata, bersenang-senang bersama keluarga belum dijadikan prioritas. Jauh lebih banyak yang fokusnya memenuhi kebutuhan pangan, pakaian dan shopping daripada memikirkan rekreasi.

Sementara Ibu Tien Soeharto merasa sudah saatnya mengenalkan destinasi wisata terbarukan kepada masyarakat banyak, untuk memenuhi kebutuhan normal manusia mengisi lagi baterai energi yang terkuras oleh beban kerja yang melelahkan.

“Suatu kebutuhan yang semakin menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern,” ucap Ibu Tien dalam pidato peresmian TMII.

Laju pembangunan memerlukan keseimbangan dan kualitas jiwa raga para pelakunya. Rekreasi sehat berupa istirahat yang nyaman, gembira dalam kebersamaan keluarga merupakan resep psikologis yang ampuh.

“Ibu ingin masyarakat cukup terhibur dan hilang penatnya setelah berwisata ke tempat yang tidak begitu jauh dan biayanya terjangkau,” kata Mbak Tutut.

Taman Mini Indonesia Indah meresapkan makna Bhinneka Tunggal Ika ke hati dan pikiran masyarakat melalui edukasi dan peningkatan wawasan yang menghibur dan menyenangkan bagi semuanya.

Rasa persatuan dan kesatuan bangsa tergugah begitu pengunjung tiba di setiap paviliun dan menikmati kuliner khasnya, meraba ukiran kayunya, menonton tari dan nyanyiannya, membelai kain batik dan tenun di Museum Tekstil, mengagumi jenis bunga anggrek bermekaran, dan lainnya.

Juga ketika anak-anak yang haus pengetahuan dan teknologi terpuaskan saat mengagumi artefak etnografi, mengunjungi Museum Iptek, Museum Listrik, dan merasakan berkeliling Indonesia melalui film yang diputar di Teater Tanah Airku dan Teater Imax Keong Emas.

“Jika TMII mengadakan acara selamatan, semua pemuka agama dari masjid, gereja, pura, vihara, kelenteng yang dibangun berdampingan dalam kompleks TMII maju bersama untuk berdoa,” kata Maulana Cholid. Direktur Operasional TMII ini menggambarkan nuansa Taman Mini Indonesia Indah yang tenang dan damai.

Rabu 17 Juni 1987, atas nama Yayasan Harapan Kita, Ibu Tien Soeharto menghibahkan seluruh kompleks TMII kepada Pemerintah RI. dan Presiden Soeharto memercayakan pengelolaannya dilaksanakan oleh para pengurus Yayasan Harapan Kita. Beliau berharap lokasi wisata ini dapat dikelola secara bisnis, sehingga Taman Mini Indonesia Indah bisa mandiri dan tidak memerlukan subsidi pemerintah.

1979 – RSAB, High Tech, High Touch

Empat tahun setelah peresmian TMII, bersama “Yayasan Harapan Kita”, Ibu Tien Soeharto kembali mempersembahkan karya nyata, sebuah rumah sakit besar yang sangat modern untuk bayi hingga kanak-kanak dan ibu hamil serta yang melahirkan.

“Ibu Tien mengantisipasi dengan cepat setelah Presiden menerima laporan jumlah kematian bayi yang cukup besar. Juga jumlah kematian ibu hamil pada saat melahirkan,” kenang Dr. Rusmono, dokter pribadi Presiden RI era 1983-1993.

“Baru ini satu-satunya di dunia,” kata direkturnya, Dr. Herman Soesilo, MPH. Rumah Sakit Anak dan Bersalin “Harapan Kita” menjadi unik karena yang pertama kali memadukan rumah sakit anak dengan rumah sakit bersalin.

Diresmikan Presiden Soeharto pada 22 Desember 1979, berbagai prestasi hebat lahir di sini melalui peningkatan teknologi kedokteran yang mendapat dukungan penuh dari Ibu Negara.

Berselang sepuluh tahun dari kelahiran bayi tabung pertama dunia di Inggris pada 1978, di RSAB “Harapan Kita” lahir bayi tabung pertama Indonesia pada 2 Mei 1988. Nugroho Karyanto, nama yang diberikan Ibu Tien Soeharto kepada bayi laki-laki pasangan Markus dan Chai Ai Lian ini.

Nama itu berarti anugerah Tuhan melalui suatu karya yang besar, diberikan Ibu Tien Soeharto sebagai rasa syukur mendalam atas kerja hebat tim dokter RSAB di bawah pimpinan Prof. Dr. dr. Sudraji Sumapraja, SpOG. Setelah dewasa Nugroho menjadi ahli desain komunikasi visual.

Pada dekade 1970-1980, program Keluarga Berencana berslogan “cukup dua anak saja” sedang sangat populer. “Sehingga program bayi tabung Indonesia ini mendapat tentangan dari mana-mana,” cerita Prof. Dr. dr Sugiharto Subianto, SpOG(K) pada pertemuan yang membahas terobosan pertama teknologi Pre-Implatation Genetic Screening di RSB Bunda Jakarta, 2015 lalu.

Ibu Tien Soeharto berhasil mengajak masyarakat memisahkan antara program KB yang membatasi jumlah anak dengan keinginan banyak pasangan muda yang sulit mempunyai anak. Para ulama yang semula berbeda pendapat pun akhirnya tidak keberatan terhadap program ini selama sel sperma dan ovum berasal dari pasangan yang menikah secara sah.

Bayi tabung keempat ternyata kembar tiga, semuanya perempuan, lahir di RSAB “Harapan Kita” pada 27 Maret 1989 dari pasangan Ali Widjaya dan Ibu Tjiany Lay Tj Hoen. Bayi-bayi mungil itu juga mendapat namanya masing-masing dari Ibu Tien Soeharto yaitu Melati, Suci dan Lestari.

“Tanpa mengurangi hak kedua orangtuanya, saya memberikan nama ini,” tulis Ibu Negara dalam salah satu disposisinya yang tahun ini diterbitkan oleh Dr. Rusmono dalam buku berjudul “Serangkum Disposisi Presiden Soeharto dan Ibu Negara”.

Melati, selain nama bunga putih yang sangat harum, merupakan nama program bayi tabung itu sendiri, singkatan dari Melahirkan Anak Tabung Indonesia.

“Kehamilan mereka ini sangat berisiko karena bisa keguguran, lahir prematur, atau otaknya kurang berfungsi. Membesarkan anak kembar tiga juga memerlukan perhatian dan tanggung jawab besar, tapi nyatanya mereka tumbuh pintar dan cantik-cantik,” kata Prof. Sudraji yang sempat stres dihantui ketakutan bayi lahir cacat. Kini sudah ribuan bayi tabung lahir di berbagai rumah sakit di Indonesia.

Tidak terbatas pada program bayi tabung. Kemampuan RSAB “Harapan Kita” menangani penyakit berat lainnya yang diderita anak atau ibu yang hamil dan melahirkan, menandai peningkatan pesat teknologi medis Indonesia di tangan dingin Ibu Tien Soeharto.

1985 – RS Jantung “Harapan Kita”, Value “Patients Fisrt”

Sepenuhnya Mbak Tutut sendiri memahami Ibundanya sebagai seorang visioner dengan berbagai gagasan yang mendahului zamannya. Termasuk gagasan dari nurani yang terketuk situasi dan kondisi yang meliputi masyarakat di tahun 1970-1980an, era awal kepemimpinan ayahandanya, Presiden Soeharto.

Begitu banyak yang harus dibenahi setelah peralihan kepemimpinan pemerintahan pada 1967. Termasuk penyakit jantung yang menjadi musuh terbesar masyarakat, karena telah menyebabkan jumlah kematian terbanyak kedua di Indonesia. Selain sulit diatasi dan mematikan, sakit jantung dapat menyebabkan penderitaan panjang.

“Pada waktu itu keinginan Pak Harto dan Ibu Tien sangat kuat untuk mendirikan rumah sakit jantung,” kenang Ibu Dani Bustanil Arifin, salah satu pengurus Yayasan Jantung Indonesia.

Di bawah payung Yayasan Harapan Kita, Ibu Tien Soeharto mengirim tim ahli yang diketuai dr. Sukaman, SpPD SpJP berangkat ke Houston, Amerika Serikat untuk bertemu dr De Bekey, ahli bedah jantung ternama. Mereka bicara tentang alih teknologi medis kedokteran.

Pak Harto dan Ibu Tien, pasangan nomor satu Indonesia itu memang menghendaki masalah-masalah kesehatan akhirnya dapat dituntaskan oleh para dokter ahli Indonesia sendiri.

Bersama Yayasan Harapan Kita juga Ibu Tien Soeharto langsung memimpin pembangunan Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah “Harapan Kita”, di atas tanah seluas 22.389 m2 di Jl. Jendral S. Parman kav. 87 Slipi, Jakarta Pusat.

Ibu Negara yang satu ini selalu memiliki cita-cita besar yang terukur. Ia menghendaki rumah sakit ini menjadi tempat pendidikan, pelatihan dan penelitian bidang kesehatan kardiovaskular, selain sebagai Pusat Jantung Nasional (National Cardiovaskular Center) dan Institusi Kardiovaskular yang terpercaya di Asia Pasifik. Semua bermuara pada peningkatan taraf hidup masyarakat seperti yang dilaksanakan pemerintahan Presiden Soeharto.

Rumah sakit berteknologi dan berperalatan canggih ini diresmikan Presiden Soeharto pada 9 November 1985. Pada tahun itu juga rumah RS Jantung “Harapan Kita” diserahkan kepada Pemerintah RI dalam hal ini Departemen Kesehatan dengan pengelolaan hariannya tetap berada di tangan para pendiri dan pengurus Yayasan Harapan Kita.

Dua bulan kemudian, pada Januari 1986 Ibu Tien Soeharto memerintahkan dilaksanakannya alih teknologi operasi jantung terbuka dengan melibatkan Dr Victor Chang, pelopor operasi jantung modern yang sangat terkenal dari Mount Elizabeth Hospital, Singapura dengan tim dokter dan perawat medis dari St. Vincent’s Hospital, Sidney, Australia.

Perlu setahun menyiapkan segalanya, kerjasama berteknologi tinggi ini berhasil membuat RS Jantung dan Pembuluh Darah “Harapan Kita” melaksanakan operasi bedah jantung terbuka yang pertama di Indonesia.

Ibu Tien Soeharto sangat mengapresiasi setiap operasi jantung yang sukses. Beliau memberikan rekening Tabanas (Tabungan Nasional) yang merupakan bagian penting dari Gerakan Sadar Menabung yang juga dicanangkan pemerintahan Presiden Soeharto.

Salah satunya pada 28 Maret 1991. Seperti kepada pasien lainnya pada peringatan tertentu, Ibu Tien memerintahkan pemberian Tabanas untuk pasien jantung ke 2.000.

Banyaknya pasien membuktikan kejelian visi Ibu Negara yang sejak jauh hari menyadari perlunya membangun rumah sakit khusus ini.

Prestasi kedua rumah sakit ini mengundang keinginan para gubernur di provinsi padat penduduk agar Ibu Negara juga memberikan dukungan pengembangan teknologi serupa di rumah sakit-rumah sakit umum provinsi, yang dengan senang hati segera dipenuhi oleh Ibu Tien Soeharto.

Yayasan Harapan Kita menerapkan good corporate governance berupa transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban dan kewajaran pada setiap institusi yang dikelolanya. Salah satu pelaksanaannya adalah meningkatkan layanan melalui program akreditasi di level nasional dan internasional.

Setelah Presiden Soeharto menyatakan berhenti pada tahun 1998, manajemen RS Anak dan Bersalin dan RS Jantung dan Pembuluh Darah “Harapan Kita” yang sejak berdiri dikelola oleh Dewan Penyantun yang diketuai Ibu Tien Soeharto bersama Yayasan Harapan Kita dalam kerjasama dengan Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Riset dan Teknologi serta Gubernur DKI Jakarta, sepenuhnya dikembalikan kepada Pemerintah RI.

1989 – Membersihkan Dokumen Kurang Terawat

Awalnya hanya sebuah berita kecil di koran pagi yang tersaji di meja ruang keluarga Presiden Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta. Isinya, informasi mengenai pameran surat kabar di Perpustakaan Museum Pusat di kawasan Monumen Nasional.

“Berita kecil itu menarik perhatian saya dan mendorong saya datang ke Museum Pusat untuk menyaksikannya,” kata Ibu Tien Soeharto.

Ibu Negara ini menemukan perpustakaan yang pengap, lembab, yang menyimpan jurnal dan dokumen-dokumen lama yang kurang terawat. Menyadari isi perpustakaan yang begitu berharga, Ibu Tien Soeharto menggerakkan Yayasan Harapan Kita kembali membangun.

Kali ini sebuah perpustakaan megah berlantai marmer. Lokasinya tidak jauh dari Universitas Indonesia di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat.

Setelah dibangun selama dua tahun, Perpustakaan Nasional yang mengawali era digital penyimpanan arsip, dokumen, buku-buku dan jurnal penting lainnya ini diresmikan Presiden Soeharto pada 11 Maret 1989.

1993 – Puspa Pesona

Siapa yang tak kenal Anggrek Bulan? Bunga anggun dari hutan hujan Indonesia ini mekar hingga 15 hari, sekarang termasuk bunga favorit untuk diletakkan di rumah dan perkantoran seluruh dunia.

Termasuk seting kantornya Meghan Markle dalam drama tv yang sedang populer berjudul Suits.

Taman Anggrek Indonesia Permai yang berlokasi di samping Taman Mini Indonesia Indah diresmikan Presiden Soeharto pada 20 April 1993.

Di sini Yayasan Harapan Kita bukan hanya mendirikan sekedar taman indah yang memeragakan ratusan varietas anggrek dari seluruh dunia.

Ibu Tien Soeharto menjadikan taman ini sebagai pusat informasi, balai penelitian dan pengembangan bibit anggrek, yang juga menguatkan ikatan antara penanam/produsen, pedagang dan kolektor anggrek.

Melalui suatu Penetapan Presiden RI, atas usulan Ibu Negara Tien Soeharto, Anggrek Bulan menjadi salah satu Bunga Nasional Indonesia dengan predikat Puspa Pesona. Bunga Melati yang harum dan populer dan mudah tumbuh di halaman rumah-rumah penduduk, sebagai Puspa Bangsa. Sementara bunga padma Rafflesia Arnoldi yang pertama kali ditemukan di hutan Sumatera Selatan, disebut Puspa Langka.

Presiden Soeharto telah mempercayakan pengelolaan TMII dan Taman Anggrek kepada Yayasan Harapan Kita. Beliau berharap lokasi wisata ini dapat dikelola secara bisnis, sehingga bisa mandiri dan tidak memerlukan subsidi pemerintah.

Hal itu terjadi hingga saat ini, ketika kepemimpinan Yayasan Harapan Kita sudah beralih ke tangan Hj. Siti Hardiyanti Rukmana. Putri yang dulu pernah bertanya kepada Ibundanya, sang Ibu Negara, mengembangkan bisnis TMII menjadi kerjasama-kerjasama baru termasuk pembangunan Hotel Santika TMII.

Banyak pengantin mengawali hidup baru dengan menyelenggarakan akad nikah dan resepsi di Gedung Sasono Utomo, juga di venue Taman Anggrek yang asri dan luas.

Di tangan Mbak Tutut kini diwariskan keteguhan hati serta kelanjutan pencapaian harapan dan cita-cita besar Ibu Negara Tien Soeharto untuk kebahagiaan keluarga, kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia. ***

Donna Sita Indria adalah Penulis dan Editor Buku

Redaksi menerima tulisan opini. Tema tidak SARA dan mendukung kedaulatan bangsa. Kirim ke editorcendana@gmail.com

Lihat juga...