Mahalnya Alkes Sebabkan Tingginya Biaya Kesehatan

Editor: Koko Triarko

221
Direktur Utama Rumah Sakit Cendana Jakarta, Dr. Chris A Yohanes, Sp.An.KIC. -Foto: Sultan Anshori. 
DENPASAR – Direktur Utama Rumah Sakit Cendana Jakarta, Dr. Christian A. Johanes, Sp. An. KIC, mengatakan, mahalnya biaya perawatan penyakit berat, seperti Jantung di berbagai Rumah Sakit di Indonesia, diduga karena mahalnya alat kesehatan (alkes).
Menurut Dr. Chris, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit bagi pasien yang ingin mendapatkan perawatan dengan alat canggih tersebut.
“Alkes di negara kita itu masih termasuk dalam kategori barang mewah. Konsekuensinya adalah transaksi biaya kesehatan tentu akan mahal, karena alat-alat ini dikenakan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Harganya bisa sampai tiga kali lipat dari barang, jika sudah masuk ke Indonesia,” jelas Dr. Chris, Minggu, (5/8/2018).
Hal tersebut, katanya, juga berlaku bagi obat-obat kesehatan impor. Karenanya, ia menilai pengenaan pajak barang mewah terhadap alkes dan obat-obatan, kurang tepat.
Dr. Chris meminta pemerintah untuk lebih mempertimbangkan kembali terkait besaran pajak. Bahkan jika perlu, pemerintah disarankan untuk bisa membuat pabrik untuk memproduksi alat-alat kesehatan itu.
“Kalau saran saya, pemerintah akan mengubah kebijakan itu. Atau lebih bagus, pemerintah bisa membuat pabrik alkes sendiri di Indonesia,” imbuhnya.
Dr. Chris juga kurang sependapat dengan kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah, melalui Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) yang membatasi diri terhadap beberapa pelayanan medis, seperti kehamilan.
Menurutnya, sebagai seorang dokter, ia tidak bisa membiarkan pasien terutama pasien dalam kategori kritis tidak bisa mendapatkan pelayanan yang prima.
Ia menganggap, seolah-olah dokter diberikan batasan dalam menjalankan profesionalitasnya.
“Saya kurang sepakat, karena dalam setiap melakukan tindakan medis, baik itu penanganan kepada pasien maupun pemberian obat-obatan, bukan ditentukan oleh BPJS. Karena itu, saya juga berharap kebijakan ini dikaji ulang,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...