Mahalnya Biaya Hidup di Gunungkidul Saat Kemarau

Editor: Mahadeva WS

137

YOGYAKARTA – Kekeringan dan tidak adanya air bersih di setiap kemarau, selalu menjadi persoalan bagi masyarakat di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sulitnya mendapatkan air bersih, menjadikan biaya hidup di daerah tersebut sangat mahal ketika kemarau melanda.

Mahalnya biaya pembuatan sumur dalam, serta tidak adanya perusahaan air bersih, menjadi faktor peningkatan biaya hidup saat kemarau di daerah pengunungan tersebut. Setiap warga, mau tidak mau harus memenuhi kebutuhan air bersih dengan membeli. “Saat musim hujan, kita bisa menggunakan air hujan untuk makan minum masak mencuci mandi dan kebutuhan lainnya. Tapi saat kemarau, kita harus membeli. Tidak ada pilihan lain,” ujar salah seorang warga Dusun Gebang, Girisuko, Panggang, Painem, Jumat (31/8/2018).

Setiap musim kemarau, Painem harus membeli setidaknya 15 tangki air, untuk mencukupi kebutuhan air bersih keluarganya. Satu tangki air dibeli dengan harga Rp150ribu. Sementara bagi warga yang memiliki ternak, pengeluaran saat musim kemarau akan semakin meningkat dan berlipat.

Edi Winarno, warga yang memiliki empat ekor sapi, dan beberapa kambing, harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menghidupi ternaknya. Baik itu untuk membeli air minum maupun pakan. “Satu ekor sapi, sehari habis air 20 liter. Kalau punya empat ekor sudah berapa. Itu belum termasuk biaya pakan. Saat musim kemarau seperti sekarang, rumput hijauan mengering. Sehingga ya harus beli,” tandasnya.

Satu ikat pakan hijauan berupa daun jagung, dibeli di daerah Bantul dengan harga Rp10ribu per ikat. Satu ekor sapi, setiap hari menghabiskan sedikitnya dua ikat pakan hijauan. Itu belum termasuk pakan lain, seperti damen atau batang padi yang juga dibeli dengan harga Rp10ribu per ikat. Termasuk juga dedak atau polar yang dibeli dengan harga Rp5-7ribu per kilogram.

Kepala Desa Girisuko, Subardi, tak menampik mahalnya biaya hidup warga masyarakat di desanya saat kemarau. Kondisi tersebut tidak jarang membuat warga terpaksa harus menjual ternak, demi bisa melewati masa krisis kekeringan, hingga musim hujan tiba.

Tidak jarang, warga yang engggan hidup di dusun asalnya, lebih memilih pergi merantau, dengan harapan bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. “Padahal sebenarnya, di kawasan Gunungkidul ini banyak terdapat sumber mata air yang berasal dari sungai bawah tanah. Di desa Girisuko ini pun ada. Namun tidak bisa dimanfaatkan karena kita tidak punya teknologinya. Mahal,” pungkasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.