Mahasiswa Diminta Putus Mata Rantai Kekerasan Terhadap Perempuan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.111

MALANG — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise meminta seluruh pihak khususnya mahasiswa untuk turut memutus mata rantai kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan kuliah tamu dalam muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadyah Malang (UMM), Kamis(2/8/2018).

Disampaikan Yohana, hingga saat ini, angka kekerasan terhadap perempuan masih cukup tinggi. Bahkan masih banyak menjadi korban dalam rumah tangga, baik dalam bentuk kekerasan fisik, psikis maupun kekerasan seksual.

Menurutnya, tingginya angka kekerasan juga mempengaruhi meningkatnya angka perceraian. Yang paling banyak meminta cerai adalah pihak perempuan karena mereka inilah yang paling banyak menjadi korban.

“Kalian harus menghargai perempuan, menghormati dan menjaga perempuan. Jangan membuat mereka menderita dan jangan sekali-sekali meninggalkan mereka,” ucapnya.

Sementara itu dalam kuliah tamu tersebut, Yohana juga menyebutkan bahwa banyak kasus kekerasan dan kejahatan terhadap anak yang disebabkan pengaruh buruk internet dan penggunaan gadget. Bahkan tidak jarang pelaku dan korban adalah anak-anak.

“Banyak anak-anak yang menjadi pelaku dan korban kejahatan seksual, bahkan di tingkat sekolah dasar. Hal tersebut disebabkan penggunaan gadget yang terhubung dengan internet,” ungkapnya.

Belum lagi kasus bullying juga banyak terjadi pada anak-anak akibat pengaruh media sosial di internet serta masih adanya kasus kekerasan guru terhadap siswa.

Menurutnya dalam undang-undang perlindungan anak yang sudah di buat, harus disadari oleh guru-guru bahwa anak-anak dilindungi oleh negara.

“Karena akhirnya anak-anak akan menganggap bahwa kekerasan yang dilakukan merupakan sesuatu yang wajar,” terangnya.

Lebih lanjut disampaikan Yohana, penggunaan gadget terutama handphone (HP) juga akan mempengaruhi daya nalar dari anak itu sendiri sehingga mereka tidak akan bisa berfikir kritis dan analitis, serta akan terjadi kelambanan berfikir.

“Mereka sebenarnya tidak mengerti apa yang mereka lihat,” sebutnya.

Kemudian cahaya radiasi dari HP akan bisa mempengaruhi otak anak. Bahkan sekarang banyak anak yang masih kecil sudah menggunakan kaca mata.

“Melalui pertemuan empat kementerian diharapkan akan memunculkan satu keputusan bersama dalam rangka mencegah penggunaan HP pada anak-anak,” terangnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.