Mahasiswa FTP UB Ciptakan Water Bank

Editor: Mahadeva WS

1.200

MALANG – Tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB), membuat alat pemanen air dari udara (Water Bank). Inovasi alat tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengurangi krisis air di berbagai daerah.

Dampak negatif pemanasan global, berkurangnya ketersediaan air. Berlatar belakang permasalahan tersebut, Sarah Novitriani (koordinator tim), Iip Kurnia Octaviorentiwi dan Muhammad Syaifudin menciptakan alat pemanen air dari udara (Water Bank) berbasis Thermo Electric Cooler (TEC).

Sarah Novitriani menjelaskan, water bank memiliki komponen utama berupa, panel surya, fan dan Thermo Electric Cooler serta heatsink. “Untuk dapat memanen air dari udara, kami menerapkan prinsip kondensasi atau proses pengembunan. Prinsip pengembunan ini dilakukan oleh thermo electric cooler dimana pada alat tersebut terdapat dua sisi yakni sisi panas di bagian atas dan sisi dingin di bagian bawah,” jelasnya, Kamis (2/8/2018).

Proses pengembunan akan terjadi, jika terdapat perbedaan suhu minimal tujuh derajat celcius. Untuk itu mereka membuat dua ruangan yakni ruangan panas dan ruang dingin. “Jadi udara yang masuk ke water bank akan melalui kipas yang kemudian akan diteruskan ke komponen thermoelectric dan heat sink. “Setelah itu baru terjadi proses kondensasi, adanya perbedaan temperature yang disebabkan oleh TEC, memicu timbulnya titik-titik air,” terangnya.

Banyak sedikitnya air yang dihasilkan, tergantung pada luas permukaan heat sink.  Semakin luas permukaannya, semakin banyak air yang bisa dihasilkan. Selain mempeluas permukaan heat sink, hasil yang optimal akan diperoleh apabila water bank di letakkan pada tempat yang memiliki kelembaban tinggi.

“Kalau alat ini sendiri masih berupa prototipe, jadi kami pakai heat sink dengan lebar 5×5 sentimeter. Makanya air yang dihasilkan hanya sedikit, kurang lebih 700 mililiter selama 16 jam,” ucapnya.

Tujuan pembuatan water bank adalah untuk mengurangi krisis air seperti yang kerap terjadi di daerah Malang Selatan, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia. “Keunggulan dari alat ini adalah air yang dihasilkan sudah berupa air layak minum dengan nilai Total Disolved Solid (TDS) 24 miligram perliter dengan pH 7,” ungkapnya.

Selain di konsumsi, air yang di hasilkan dari Water bank juga dapat diterapkan pada lahan pertanian melalui sistem irigasi. “Biaya untuk pembuatan water bank empat juta rupiah dengan lama pembuatan lebih dari satu bulan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...